Ali Dan Erika

Ali Dan Erika
Bab 12


__ADS_3

"iya ning"


"ya udah sekarang ning nggak mau lagi melihat kamu nangis sendirian di taman atau di bawah tangga ya"


"kok ning tahu?"


"temen-temen kamu yang kasih tahu ning, mereka sebenarnya pengen berteman sama kamu tapi kamu malah sering sendirian dan menjauh dari mereka, mereka sering memberitahu ning kalau kamu sedang menangis sendirian seperti sekarang ini dengan harapan ning akan menjadi seseorang yang menghentikan tangismu"


"mereka nggak benci Alisyah ning?"


"enggak dong kenapa benci?"


"mungkin mereka nggak suka dengan Alisyah karena Alisyah cengeng"


"enggak sayang...mereka semua sangat ingin bisa berteman dengan kamu tapi kamu yang sering menghindar kan?"


Alisyah mengangguk membenarkan perkataan ku.


"ok mulai sekarang kamu harus janji sama ning nggak akan merasa sendiri lagi karena sebenarnya banyak teman disini yang ingin berteman dengan Alisyah"


ku berikan kelingking ku ke hadapan Alisyah yang sudah reda dari tangisnya, bocah itu kemudian mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku tanda menyetujui perjanjian kita.


"gitu dong kan ning jadi tenang sekarang, lagian bukannya di pondok putra sana ada kakaknya Alisyah juga?"


"iya ning namanya Bang Ali, tapi dia bandel dan nggak sayang sama Alisyah"


"nggak ada loh kakak yang nggak sayang adek nya, buktinya demi temenin kamu disini Bang Ali mau mondok juga kan disini"


Alisyah terdiam mencerna omonganku.


"ya sudah sekarang kamu mandi ya udah mau jamaah sholat asar kan?"


"iya ning" Alisyah beranjak meninggalkan aku yang masih duduk di taman sendirian.



Di tempat lain...



Ali masih saja duduk menyendiri di teras kamar pondok tak menghiraukan sama sekali hiruk pikuk keramaian anak pondok yang hilir mudik lewat di belakangnya. Ali masih sangat kesal karena keputusan orang tua nya yang mengirimnya ke pondok.


__ADS_1


*gua harus cari cara untuk bisa kabur dari sini* (Ali)



"mas ayo sholat jamaah" seseorang menepuk pundak Ali yang membuat Ali tersentak kaget.



"lu duluan aja, gua masih males"



"males jangan di pelihara mas nanti jadi penyakit"



"berisik lu udah sana"



Orang itu pun pergi meninggalkan Ali yang masih sangat kesal.




Ali yang sedang berada di teras lantai dua pondok mengamati dua orang yang sedang berbincang di bawah tepatnya di depan rumah pak kyai.



"guru olahraga? sebentar pak Iqbal nanti saya coba tanya pengurus pondok kalau ada nanti saya kabari lagi"



"nggih pak kyai matur sembah nuwun, kulo permisi assalamualaikum wr.wb..."


"*baik pak kyai terima kasih banyak, saya permisi assalamualaikum wr.wb*"



"iya ya waalaikumsalam wr.wb"


__ADS_1


Pembicaraan yang di dengar Ali cukup jelas.



*guru olahraga? ya gua harus mendaftar menjadi guru olahraga dan nantinya gua akan dapet upah dan setelah itu gua bisa pergi dari sini* (Ali)



Ali segera lari menuruni tangga untuk menemui pak kyai. Pak kyai yang masih di luar pun menjadi lebih mudah bagi Ali untuk bertemu dengan beliau.



"pak kyai"



"kamu Ali kan?"



"iya pak saya Ali"



"ada apa nak?"



"tadi saya dengar ada yang butuh guru olahraga, saya bisa pak kyai jadi guru olahraga"



"beneran kamu mau?"



"iya pak kyai saya mau"



"ya sudah besok kamu sudah harus mulai mengajar di sekolahan"


__ADS_1


"siap pak"


__ADS_2