
Akhirnya keluarga itu pun meninggalkan aku dan abah.
"bah mereka dari mana sih?"
"ya dari rumah lah"
"ih abah maksud Nashwa orang mana?"
"orang kota, mereka orang kaya terbiasa hidup mewah"
"Nashwa juga sering lihat orang kaya tapi nggak seperti mereka juga "
"sstt nggak boleh ghibah, sana mandi ambu kecut" (ambu kecut\= bau asem)
"mosok se bah Nashwa wangi kok"
"terus nek wangi arep ra adus ngunu tho?"
"terus kalau wangi nggak mandi gitu?"
"he he he mandi bah..."
°_° °_° °_° °_° °_°
"Sa... sini Sa"
__ADS_1
"nggih bah"
Aku mengikuti Salsa yang menuju ruang keluarga dimana abah sudah ada di sana, aku dan Salsa duduk bersebelahan.
"loh abah panggil Salsa kok kamu ikut"
"Nashwa juga pengen tahu..."
"kamu itu kepo"
"ih si abah gayanya pake bahasa anak jaman sekarang"
"abah kan masih muda tho ya kan Sa"
"nggih bah"
"sesuai bah"
"tadi Abdilah kesini sama ayahnya dia bilang tidak perlu menunggu 12 minggu untuk memutuskan proses ta'aruf ini karena Abdilah juga sudah mantap denganmu"
"alhamdulillah..." Salsa
"ciye... yang mau nikah alhamdulillahnya kenceng banget" aku menggoda Salsa yang sepertinya keceplosan
"abah senang kalau kamu juga sudah mantap, tadi Abdilah titip ini buat kamu dan ini dari abah" abah memberikan dua kotak merah tempat perhiasan biasanya di taruh kepada Salsa.
__ADS_1
Salsa menerima dan membuka kotak itu satu persatu, abah memberikan sebuah kalung emas kepada Salsa dan Abdilah memberikan sebuah cincin emas juga.
"kata ayahnya Abdilah itu tanda bahwa kamu adalah milik Abdilah dan akan segera menjadi istrinya"
pipi Salsa seketika merona mendengar penuturan abah.
"abah kenapa kasih kalung ke Salsa?" Salsa mulai terharu
"Salsa... abah sebagai orang tuamu tidak bisa memberikan apa-apa saat kamu menikah, abah tidak kaya, abah tidak punya sawah yang banyak hanya sepetak itu dan itu juga untuk makan kita semua jadi abah tidak bisa memberikannya padamu sebagai gawan* kamu pergi ke rumah suamimu"
(*semacam harta yang dibawa ketika menikah yang di berikan orang tua kepada anaknya, biasanya di daerah jawa khususnya jawa timur masih sering di jumpai.)
"Salsa ndak minta itu semua bah, Salsa sudah bersyukur bisa sampai di titik ini, abah merawat Salsa tanpa membedakan antara mbak Nia, Erika, Namira atau Salsa, sama abah semua adalah putri abah"
aku melirik ke arah abah dan tanpa di sangka-sangka abah menitikkan air matanya, aku berlari duduk di sebelah abah dan memeluknya, Salsa juga melakukan hal yang sama.
"abah jangan menangis...hiks...hiks..." Salsa
"abah akan melepas satu putri abah untuk menjadikan dia istri seseorang dan memberikan tanggung jawab abah kepada Aab untuk melanjutkan mendidik kamu menjadi lebih baik"
"abah maafkan Salsa kalau selama ini Salsa banyak menyusahkan abah, Salsa tidak bisa membalas semua jasa abah yang mau merawat Salsa dari Salsa kecil sampai sekarang hiks...hiks..."
"kamu cukup menjadi istri dan menantu yang baik untuk suami dan mertuamu nanti Sa, doa abah selalu bersama kalian anak-anakku"
"terima kasih abah" aku masih memeluk abah tapi Salsa sudah melepas pelukannya.
__ADS_1
"kamu mau disini terus Nashwa? sudah waktunya kamu ngajar di musholah putra"
"nggih bah"