
"assalamualaikum..." Ali
"waalaikumsalam..." Erika menundukkan kepalanya.
"gimana keadaan kamu?" Ali masih berdiri jauh dari ranjang Erika
"baik"
Mereka sama-sama diam sesaat, Ali bingung mengenai apa yang harus dibicarakan lagi.
"kalau nggak ada yang mau kamu omongin lagi kamu bisa balik ke perkemahan" Erika
"em... em... sorry..." Ali
"jangan bahas itu lagi, kalau aku inget hal itu aku merasa sangat menjijikkan" air mata Erika meluncur bebas di kedua pipinya.
Ali sangat merasa bersalah karena apa yang sudah dia lakukan kepada Erika.
"aku beneran nggak bermaksud ngelecehin kamu, aku cuma pengen kamu yakin kalau aku cuma suka sama kamu"
"tapi kamu nggak harus lakuin itu ke aku Ali"
__ADS_1
"kamu nangis sayang... dan aku yakin itu karena perkataan Santi di permainan bodoh itu"
iya memang aku menangis karena hal itu (Erika)
Erika tidak mengelak atau pun mengiyakan perkataan Ali karena memang sebenarnya hal itulah yang terjadi.
"aku mau kita sudahi perjanjian kita sampai disini"
"perjanjian? perjanjian apa?"
"perjanjian pacaran itu"
"kamu menganggap hubungan ini perjanjian?"
"he!" Ali tertawa sinis atas semua ucapan Erika
"hubungan yang selalu aku jaga dan ku anggap serius ternyata memang hanya sekedar perjanjian di mata mu, aku memang bodoh terlalu berharap sama kamu, harusnya aku tahu semua saat-saat indah yang pernah kita habiskan bersama bisa saja berakhir karena itu hanya perjanjian"
"memangnya apa yang kamu harapkan dari sebuah pemaksaan? harusnya kamu tahu kalau suatu hari aku akan melepaskan diriku dari semua ancaman kamu, karena aku nggak pernah dengan suka rela melakukan semua hal yang menurutmu indah itu bersama kamu"
se pedas itu perkataan kamu tentang hubungan ini Erika, aku memang salah menilai gadis di depan ku ini (Ali)
__ADS_1
"kalau nggak ada yang mau kamu bahas lagi kamu bisa pergi dari sini" Erika
Tanpa menjawab Erika, Ali keluar ruangan dengan hati yang marah dan sesak menahan gejolak amarah yang bergemuruh di dalam hatinya.
Rendi dan Linda yang mendengar semua pertengkaran antara Ali dan Erika hanya bisa diam dan mendengarkan semua yang keluar dari mulut mereka berdua.
"gimana nih pak Rendi?" Linda
"biarkan saja bu Linda, mereka sama-sama dewasa hanya saja mereka sedang emosi, mereka akan memperbaiki kesalahan mereka masing-masing, kita ndak perlu ikut campur"
"ya sudah kalau gitu pak Rendi, saya masuk dulu ya pak mau temenin Erika"
"jangan dulu bu Linda, biarkan Erika tenang dulu sendiri"
Linda mengangguk-angguk dan menurut dengan perkataan Rendi.
Sedangkan Erika menyembunyikan wajahnya di balik bantal karena ingin menyembunyikan tangisnya agar tidak terdengar siapa pun.
aku munafik! aku berkata benci sedangkan hatiku sangat mencinta tapi dia tidak mungkin punya perasaan yang sama seperti aku saat ini. Jika aku tetap bersama nya mungkin aku akan bahagia tapi ketakutan akan kehilangan dia akan semakin membesar jika memang dia tidak memiliki rasa yang sama, karena aku yakin aku hanyalah hiburannya selama disini... munafik kamu Erika ! (Erika)
Erika menangis di dalam pelukan bantal yang senantiasa berada di wajahnya.
__ADS_1
Linda beberapa kali mengintip ke dalam ruangan Erika memastikan temannya itu baik-baik saja.