Ali Dan Erika

Ali Dan Erika
Bab 67


__ADS_3

Ali berlari ke arah Erika dan dengan mudah menjajari langkah gadis yang tingginya setara dengan pundak Ali itu.


"assalamualaikum... " Ali sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Erika


"waalaikum salam... gitu kan enak "


"he he iya aku coba biasain deh"


"oh iya baju mama udah aku cuci loh"


"terus? "


"nanti aku kasih kamu ya titip balikin ke mama"


"kan mama udah bilang itu buat kamu, lagian mama juga nggak muat kan"


"oh ok, sampein ke mama ya makasih"


"bilang sendiri aja"


"caranya? "


"nanti aku kasih nomor mama mau?"


"boleh"


Mereka berhenti di tepi jalan menunggu mobil-mobil dan motor-motor sedikit reda agar mereka bisa menyeberang.


"ayo" Ali menarik ujung baju seragam Erika agar mengikutinya menyeberang. Dengan setengah berlari mereka bersama-sama menyeberangi jalan Raya yang selalu saja ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.


"sebelum ada aku siapa yang biasanya bantu kamu nyeberang? "


"pak Edi" (satpam sekolah)


"terus kalau pas kamu dulu di luar negeri? "


"temen aku banyak kok"


"lagian aneh banget masa nyebrang aja nggak bisa"


"bukan nggak bisa"


"terus? "


"nggak berani hi hi hi"


"mulai sekarang biarin mas Ali yang selalu menemani kamu menyeberang "

__ADS_1


Erika tidak menjawab namun tersenyum mendengar perkataan Ali.


"nanti makan siang bareng ya" Ali


"biasanya juga bareng kan? "


"iya sih tapi kan barengnya sama bu Linda sama yang lain juga, pengen cuma sama kamu"


"nggak boleh"


"kenapa? "


"kalau berduaan yang ke tiga itu syetan "


"iya iya ustadzah... "


"kak Rendi mana? kok nggak kelihatan? "


"si Rendi sakit, masuk angin kayaknya"


"terus gimana sekarang keadaannya? "


"udah mendingan sih tadi udah di kasih sarapan dan teh anget sama mbak Nur "


"nggak di periksain ke dokter? "


"kan ada layanan kesehatan di pondok kenapa nggak periksa di situ aja? "


"udah semalem di kasih paracetamol tapi masih muntah-muntah, jadi aku kerokin tapi masih sama aja mangkanya nanti periksa ke puskesmas aja"


"oh gitu"


Mereka memasuki area kantor sekolah dan di sanalah mereka berpisah karena harus masuk ruangan masing-masing.




"abah... "



"masuk nduk"



Erika masuk ke dalam kamar abahnya dan ikut duduk di sebelah abahnya yang tengah mengaji di atas sajadah.

__ADS_1



"abah dari kemarin nggak ngomong sama Nashwa, abah marah? "



Erika mulai merajuk di lengan ayahnya, matanya berkaca-kaca menahan tangis.



"kamu sudah besar nduk kok masih *ngalem*\* gini toh" (\*manja)



"abah kalau abah nggak suka Nashwa sama Ali nggak apa-apa Nashwa akan menjauh dari Ali"



"bukan masalah buat abah dengan siapa kamu dekat asalkan itu berdampak baik dan kamu bahagia "



"tapi abah diemin Nashwa" Air mata Erika sudah tumpah ruah di wajahnya.



"abah tanya serius sama kamu nduk, kamu duduk dulu yang benar "



Erika membenahi duduknya dan mengusap wajahnya dengan kasar.



"kamu suka sama laki-laki itu nduk? "



Ghufron memegangi satu pundak putrinya. Erika menunduk tak berani memandang Netra sang ayah.


Erika masih saja diam tak berani mengutarakan apa yang ada di hatinya.



*ya aku mencintai Ali, aku tidak tahu sejak kapan tapi dia telah mengisi hatiku, entah apa yang sudah dia lakukan hingga rasa ini bisa menjadi dalam dan tidak tahu lagi apakah dia benar-benar mencintaiku juga*


__ADS_1


Erika benar-benar tidak berani menjawab pertanyaan sang ayah.


__ADS_2