
"ciye... yang udah tunangan... maaf ya mbak Nia nggak bisa pulang " 🎥 Nia
"nggak apa-apa mbak yang penting doanya ya, eh Namira jangan nge game mulu anak perawan main game mulu" 🎥
"iye mbak ada apa? mbak Er mau di bawain kado apa kalo aku pulang? " 🎥 Namira
Mereka bertiga sedang melakukan panggilan zoom bertiga.
tok... tok... tok...
Erika membuka pintu kamarnya dan melihat sang ayah di balik pintu.
Erika mengajak serta sang ayah untuk melakukan panggilan zoom bersama kedua saudarinya.
"assalamualaikum abah... gimana kabarnya bah? " Nia
"baik nduk, kalian berdua gimana kabarnya? "
"alhamdulillah baik bah" Nia dan Namira
"bagaimana nduk di sana ngajarnya? " abah
"semua lancar bah" Nia
"Namira... " abah membesarkan suaranya ketika memanggil Namira yang ternyata masih saja sibuk dengan ponselnya
"dalem bah... " Namira gelagapan
"kamu itu kebiasaan buruk mu itulo jangan di terusin nggak baik"
"nggeh bah" akhirnya Namira menaruh ponselnya kemudian fokus kepada layar laptop
Setelah beberapa saat berbicara mereka akhirnya akan mengakhiri zoom malam ini.
"Nia... adikmu sudah bertunangan apa kamu masih mau kucing-kucingan sama abah soal laki-laki itu? "
Nia seketika menundukkan wajahnya.
"abah mau kamu segera mengenalkan kepada abah ya"
"nggeh bah"
Akhirnya panggilan video terputus.
"abah... abah sebenarnya tahu kalau mbak Nia punya pacar? " Erika
"kalian berempat putri-putri abah dan abah mengenal baik kalian semua nduk, wes wes tidur udah malam"
"nggeh bah"
"Paket... " Suara itu membuat Ghufron beranjak dari tempatnya
__ADS_1
"Paket pak"
"Paket? Berapa nak? "
"Sudah di bayar pak, permisi"
"Ya ya"
Kurir itu meninggalkan kediaman Ghufron.
"Nduk... Nduk... Sini nduk" Ghufron duduk di kursi yang berada di teras rumahnya.
"Dalem bah" Erika tergopoh-gopoh berlari dari dalam rumah
"Kamu belanja online? "
"Lha ini paket dari mana? "
"Coba Nashwa lihat bah"
Ghufron menyerahkan kotak berwarna hitam itu kepada Erika. Setelah membaca tulisan yang tertera di bagian luar paket.
"Bah ini dari mama Reni "
"Oalah... Bu Reni ngirim apa? "
__ADS_1
"Bentar bah biar Nashwa buka"
Setelah membuka dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah berbagai pernak-pernik cewek, dari jepitan rambut, pin, kunciran, dan banyak lagi semuanya terlihat lucu dan bagus.
"untuk apa semua barang itu nduk? " abah
"Erika juga nggak tahu bah"
"ya sudah kamu beresin dan bawa masuk sana"
"nggeh bah"
"ya mama tuh buat apa ngirimin barang-barang itu? " Erika meminum teh dalam kemasan yang ada di tangannya.
"ya aku juga nggak tahu sayang... kenapa nggak tanya sendiri sih ke mama? kan semalem aku udah kirim nomor mama ke kamu"
"astagfirullah hp aku bleng dari semalem mas nggak bisa di pakai apa-apa "
"nge bleng kenapa? coba lihat? "
Erika mengeluarkan ponsel dari saku seragam sekolahnya dan menaruhnya di atas meja, Ali kemudian mengambil dan mengotak-atik ponsel itu.
"ini rusak sayang"
"iya aku tahu udah dari semalem kayak gitu, nggak bisa ngapa-ngapain "
"pantes chat aku nggak kamu bales, aku bawa ke konter dulu ya biar di benerin"
"iya"
"kamu mau pakai hp ku? "
"buat apa? "
"ya kali aja kamu bosen atau pengen hubungi siapa gitu? "
"enggak, nanti kalau aku butuh aku pinjam kamu"
"bawa aja kita kan nggak tahu sampai kapan hp kamu di konter, lagian takutnya nanti pas kamu butuh akunya nggak ada di pondok"
"ya udah"
__ADS_1
Mereka berdua meninggalkan kantin yang memang sedang sepi karena jam pelajaran, hanya ada mereka dan penjaga kantin.