
Ali melepaskan Erika yang dengan jurus seribu bayang telah hilang dari pandangan.
unik, biasanya orang pacaran kalau punya syarat paling cuma nggak boleh simpan nomor cewek lain, nggak boleh lirik cewek lain atau sejenisnya ini malah nggak mau orang lain tahu, dasar aneh tapi lucu sih paling nggak gua sekarang resmi jadian sama dia (Ali)
Erika berlari dengan sangat cepat kembali ke ruangannya, Erika menutup rapat pintu ruangannya dan bersandar di balik pintu menata nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari karena menghindari Ali.
"astaghfirullah... apa yang aku lakukan... kenapa aku setuju menjadi pacarnya gimana kalau sampai abah tahu bisa-bisa aku di hukum sama abah, hufft... tenang Erika tenang... kalau nggak ada yang bilang abah nggak mungkin tahu lagian nggak ada orang lain tadi, tapi ada Allah... ya Allah bantu Erika sembunyikan ini dari abah sementara waktu saja ya Allah... Erika janji akan putus secepatnya dari manusia yang seenak hatinya itu ya Allah... aamiin..."
tok...tok...tok...
"astaghfirullah !"
Erika sedikit terkejut karena seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruangannya dengan keras, setelah menata lagi nafasnya dan membenarkan bajunya Erika kemudian membuka pintu ruangannya itu.
"bu Erika lama banget buka nya"
"ada apa pak Roy?"
"bu Erika di panggil sama kepala sekolah dan juga di tunggu sama guru-guru yang lain di ruangan rapat"
"iya pak Roy saya segera ke sana"
Roy berjalan di depan Erika dan memimpin perjalanan ke ruang rapat, sebelum masuk ke ruang rapat dari arah lain terlihat Linda bersama Ali juga menuju ke ruang rapat.
Mata Ali dan Erika saling bertemu, Ali mengisyaratkan matanya yang intinya
"kenapa kamu bareng dia? (Roy) "
Erika juga membalas dengan isyarat mata yang berarti
"nggak apa-apa"
kemudian mereka semua memasuki ruangan rapat bersamaan.
"kok bisa sih lu pegang hp?"
"gua kan guru Al jadi gua di spesial kan dari santri lain"
"lah gua juga kan guru kenapa gua nggak boleh pegang hp?"
"boleh kok coba aja bilang sama pak kyai, bilang untuk urusan mengajar pasti hp lu di balikin?"
__ADS_1
"yakin lu?"
"iya"
"nggak ah nggak berani gua"
"tumben lu nggak berani"
"beliau kan calon mertua gua jadi gua nggak berani sembarangan dong"
"astaghfirullah... lagi-lagi ni bocah ngigo"
"gua nggak ngigo ya, gua resmi jadian sama Erika"
"beneran sumpah deh "
"jangan dikit-dikit ngobral sumpah nggak baik"
"iye iye pak ustadz"
"Al lu mau gua mintain ponsel lu nggak?"
"beneran bisa?"
__ADS_1
"insyaallah bisa, biar gua coba bilang ke pak kyai ya"
"iya deh"
Rendi berdiri dari duduknya dan tak sengaja melihat pak kyai sedang duduk di luar rumah sedang membaca kitab.
"kebetulan" Rendi
"kebetulan apaan?" Ali ikut berdiri bersama Rendi dan melihat apa yang Rendi lihat.
"hp lu tipe apa?"
"i p\*\*\*e 11 pro max"
"widih hp mahal"
"mahal juga bokap gua yang beliin"
"lu tunggu disini, biar gua yang usaha buat dapetin hp lu"
"serius nih"
"iye, lu berdoa aja sama Allah semoga gua berhasil"
"ok ok"
__ADS_1
Rendi turun dan menghampiri pak kyai, Rendi duduk di lantai setelah mencium tangan pak kyai. Terdengar samar-samar Rendi berbincang dengan bahasa jawa kromo inggil bersama pak kyai, pak kyai kemudian berdiri diikuti Rendi di belakangnya masuk ke dalam rumah pak kyai.