Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 1


__ADS_3

"Pakeet..."


"Pakeeet.."


"Pakeeettt...!!"


Suara melengking khas kurir pengantar barang sudah stand bye di depan pintu kost putri, bukan hanya satu melainkan tiga sekaligus membuat semua penghuni kost yang akan bersiap mandi dan pergi mengerjakan tugasnya masing-masing pun, menggelengkan kepalanya dan mulai menggosipkan gadis yang sedang berjalan sedikit terburu-buru masih memakai bahthrobe dengan kepala yang masih terbungkus handuk.


"Maaf terlalu lama."


"Nona, tanda tangan disini."


"Selesai. Terima kasih."


Setelah selesai dengan para kurir paket kini gadis itu pun kembali masuk ke dalam kamar kost nya, namun tanpa di sangka kini semua mata tertuju ke arahnya dengan tatapan aneh mereka.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Sepeti tidak pernah melihat orang berbelanja online saja!" Ketus Alika yang langsung mengibaskan rambutnya sedikit sombong.


"Heran sekali sama penghuni kost ini, selalu saja mengurusi kehidupan orang lain, padahal aku tidak meminta uang pada mereka." Alika terus saja menggerutu tidak jelas sambil membuka isi paketnya.


Alika menghela nafas panjang menatap isi paket yang dikirimkan oleh sang kekasih untuknya.


"Kenapa dia sangat suka sekali mengirimkan baju-baju terbuka seperti ini padaku?"


Alika melemparkan bungkusan paket tersebut ke sembarang arah dan mulai bersiap untuk berangkat bekerja karena hari sudah semakin siang.


Dengan langkah sedikit terburu-buru, Alika pun berjalan ke halte bus untuk menunggu kendaraan yang akan membawanya sampai ke tempatnya bekerja. Namun ia tak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata terus memperhatikan langkah dan gerak geriknya.


"Jadi dia gadis yang bernama Alika Maheswari?"


"Menurut informasi yang di dapat memang dialah gadisnya tuan."


"Hah... Gadis? Apa kau yakin dia masih gadis?" Ucap sang pria dengan senyuman sinisnya.


Sedangkan sang asisten hanya mengangkat bahunya tak mengerti.


"Terus ikuti dia kemana pun dia pergi, bagai mana pun caranya dia tidak boleh terus menjadi benalu dalam kehidupan adikku." Ucap pria itu dengan wajah datarnya.


"Baik tuan muda."

__ADS_1


"Kau mungkin cantik, tapi kau tidak pantas menjadi bagian dari keluargaku!" Gumam Edgar yang terlihat sangat begitu membenci Alika, sorotan matanya bahkan menampakan wajah yang tak biasa bagi seorang tuan muda sepertinya. Bahkan David yang merupakan asisten pribadinya pun nampak heran dengan sikap Edgar pada Alika.


***


"Hallo baby, apa kau sudah melihat isi paket yang ku kirimkan untukmu?" Tanya seorang pria yang bernada manja dan seksi di balik sambungan telepon milik Alika.


Ya siapa lagi kalau bukan Arga sang kekasih yang sangat begitu Alika sayangi, hubungan mereka sudah sangat lama namun Arga belum juga memberikan tanda-tanda kejelasan di antara hubungan mereka sampai saat ini.


"Arga aku tidak butuh semua itu jadi stop kamu tidak perlu lagi mengirimkan apapun ke kamar kost ku, kau tahu kan penghuni kost sangat suka bergosip hal-hal yang tidak jelas." Rengek Alika mulai mengadu.


"Biarkan saja baby, aku akan mengirimkan apapun yang aku suka dan itu sudah keputusanku." Ujar Arga.


Alika mendengus kesal saat mendengar perkataan kekasihnya yang terlihat begitu santai bahkan tidak perduli dengan peringatan Alika saat ini.


"Ingin sekali rasanya aku getok pake palu, ishh... untung sayang kalau tidak,"


"Baby apa kau sedang mengutukku?" Tanya Arga yang masih mendengar ucapan Alika di balik ponselnya.


"Tidak! Tidak kau salah dengar sudah dulu ya bus nya akan segera berangkat!" Alika langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak membuat Arga berdecak kesal karena layar ponselnya sudah kembali menghitam.


"Dasar gadis aneh!" Arga menggelengkan kepalanya dan kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


"Tuan muda sebenarnya apa tujuan kita untuk terus mengikuti gadis itu, bukankah dia akan bekerja di bawah naungan anda jadi untuk apa anda harus repot-repot melakukan hal semacam ini?" Bisik David di samping telinga Edgar.


"Kau diam saja, kau tidak akan mengerti dengan apa yang akan aku lakukan pada gadis matre itu." Ucap Edgar yang kini menatap jijik saat Alika sedikit menampakan wajah tersenyumnya menatap ke luar jendela bus.


Alika meniupkan nafasnya di jendela bus dan menuliskan namanya dan sang kekasih yang di satukan dalam bentuk hati.


"Arga hubungan kita sudah sangat jauh namun entah mengapa aku merasakan sesuatu yang kurang di antara kita, aku bahkan belum mengenal dirimu atau pun keluargamu sepenuhnya." Berbagai macam pertanyaan pun mulai muncul secara tiba-tiba dalam benak Alika.


Setelah lama terdiam dalam pikirannya kini Alika pun tersadar bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan dan sudah di sambut hangat oleh sahabat baiknya.


"Hallo bestie, kenapa tuh pagi-pagi wajah udah kayak bungkus nasi goreng! Lecek banget haha.." Celotehan Sabrina membuat gempar seisi restoran yang kini sedang tampak sepi pengunjung.


"Elo ya kalau ngomong suka bener!" Kekeh Alika yang menyahuti celotehan sahabatnya.


"Al, tahu gak?"


"Gak tahu!"

__ADS_1


"Ishh... Aku belum selesai ngomong tahu!" Sabrina menonyor kening sahabatnya dengan gemas.


"Kan bener jawabannya nggak tahu." Jawab Alika dengan santainya.


"Terserah dehh.."


"Yeahh.. Gitu doang pake ngambek segala, emangnya ada apaan sih Sab?" Alika duduk dengan tenang di samping sahabatnya


"Baru mau nanya nih? Nehhh... Gue kasih tahu ya! Mulai hari ini bukan si botak lagi bos kita."


"Terus...?" Alika nampak biasa saja menyikapi masalah yang akan terjadi karena begitulah dirinya yang terbiasa hidup dalam sebuah kemandirian sejak saat dirinya masih kecil hingga sampai saat ini. Walau terkadang orang-orang sering menyebut dirinya gadis materialistis dan hobi berbelanja namun sebenarnya, Alika adalah tipe wanita yang sangat hemat dan irit dalam segala hal karena ia tahu mencari uang di kota besar sangatlah sulit.


"Kamu nggak terkejut sis?" Sabrina merasa sangar aneh dengan raut wajah sahabatnya yang terlihat sangat biasa saja.


"Nggak, lagi pula kenapa harus terkejut yang pentingkan gaji kita utuh dan tidak kena potong perpotongan!" Jawab Alika masih dengan nada santainya.


"Iya juga sih, semoga aja bos kita yang baru royal dan gak pelit gak kayak si botak itu." Kekeh Sabrina yang langsung mendapatkan dua jempol dari sahabatnya


"Mohon perhatian semuanya!!" Seorang pria paruh baya yang dengan kepala botak dan perut buncitnya berdiri di hadapan para karyawan restoran dengan wajah sedikit tertunduk lemas.


"Anak-anakku sekalian, hari ini bapak ucapkan selamat tinggal, karena mulai hari ini saya bukan lagi pemilik restoran ini dan pemilik baru restoran ini sekarang adalah..."


"Ishhh.. Drama banget sih si botak!" Keluh Sabrina yang langsung mendapatkan tonyoran dari sahabatnya.


"Diem jangan berisik mau kena sentil perut buncitnya?" Ucap Alika sedikit berbisik.


"Dia adalah pak Edgar, silahkan pak Edgar." Pria paruh baya itu pun mempersilahkan seorang pria muda dan tampan untuk memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih pak Dino. Baik semuanya kalian semua pasti sudah tahu siapa saya, jadi selamat berkenalan dan selamat bekerja sama, saya suka dengan kedisiplinan jadi saya harap kalian semua bersikap seperti yang saya harapkan." Ucap Edgar panjang lebar.


"Ya tuhan.... Ganteng banget!" Sabrina menatap Edgar dengan tatapan memujanya.


"Biasa aja!" Cetus Alika yang terlihat begitu acuh dan tak perduli dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya.


"Al, lebih baik kamu segera berobat ke dokter mata deh... masa iya, cowok se macho dan seganteng pak Edgar kamu bilang biasa aja." Sabrina langsung memincingkan matanya pada Alika.


"Aku gak pernah perduli, seribu banyak pun pria tampan di dunia ini cuman abang Arga yang selalu ada di hati." Gumam Alika dalam hatinya yang kini mulai tersenyum senyum sendiri memikirkan sang pujaan hati yang begitu sangat ia cintai.


Bersambung. .

__ADS_1


__ADS_2