
Bibir Edgar kembali terkatup. Kini ia meremas tangannya untuk menahan rasa gugup yang mulai menyelimuti hatinya.
Ada rasa takut jika Alika akan meninggalkan nya setelah mengetahui kebenaran yang ia miliki.
"Kapan dia datang ke kantor? Mengapa aku sama sekali tidak melihatnya?" Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai muncul di dalam benak Edgar.
"Sayang dia bukan siapa-siapa dia hanya rekan bisnisku." Ucap Edgar menyembunyikan kebenaran dari sang istri.
"Rekan bisnis? Apa kau yakin?" Alika merasa tak percaya dengan ucapan suaminya.
Edgar mengangguk cepat. "Tentu saja sayang."
"Waahhh.. Bersama rekan bisnis kau bisa berjalan dengan begitu mesra sedangkan aku yang hanya mengobrol saja dengan rekan bisnisku kau sudah, ahh sudahkah lupakan saja." Alik berdiri dan menatap suaminya dengan tatapan penuh selidik.
"Aku sama sekali tidak yakin jika wanita itu rekan bisnisnya. Haaaahh…. Apapun itu kenapa aku harus peduli, hubungan ini sepertinya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Hubungan ini tidak normal tak ada keseimbangan di antara kami dan untuk bersama sepertinya itu sangat tidak mungkin." Gumam Alika membatin.
Kini Alika pun berjalan dan mulai membuka pintu bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun dengan cepat Edgar mencegahnya dan mengungkung Alika ke dinding, dengan menautkan jari-jarinya.
"Lepaskan aku!" Pinta Alika dengan raut wajah dinginnya.
"Kenapa kau masih marah padaku?" Edgar semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri.
Alika memalingkan wajahnya ke arah lain saat Edgar hendak lmenciumnya, hatinya masih merasakan sesak dan sakit ia masih belum bisa memaafkan Edgar untuk saat ini.
"Sudah aku bilang jangan sentuh aku! Kenapa kau masih saja melanggar nya." Ucap Alika yang terus berusaha untuk melepaskan dirinya dari kungkungan sang suami.
Semula Alika sudah mulai percaya pada suaminya namun kini ia kembali ragu, terlebih saat jawaban Edgar tentang wanita itu terkesan seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kau istriku jadi aku berhak atas dirimu."
"Jadi karena aku istrimu kau bisa melakukan apapun sesukamu?" Tanya Alika dengan raut wajah tak suka.
"Sayang bukan begitu maksudku tapi,"
__ADS_1
"Tapi apa?" Alika langsung memotong ucapan Edgar begitu saja.
Edgar hanya menghela nafas perlahan lalu menatap manik mata istrinya yang terlihat begitu banyak menyimpan kesedihan dan kekecewaan dalam dirinya.
"Maafkan aku sayang, aku berjanji sesuatu hari nanti aku akan mengatakan sejujurnya padamu." Batin Edgar bergumam.
Dengan kekuatan penuh Alika pun mendorong tubuh Edgar agar menjauh darinya. "Mungkin kecelakaan kedua orang tuaku kamu tidak bersalah, karena pihak kepolisian memang pernah mengatakan jika mobil ayah mengalami rem blong. Tapi aku tidak akan percaya jika wanita itu hanya rekan bisnismu saja! aku akan mencari tahu siapa dia dan apa alasan mu berbohong padaku." Tegas Alika yang kini langsung pergi meninggalkan Edgar begitu saja.
"Sayang! tunggu aku." Edgar sedikit berteriak memanggil istrinya. Namun Alika benar-benar pergi meninggalkan Edgar dan tak menghiraukannya.
"Tidak! dia tidak boleh tahu atau pun bertemu dengan wanita itu, akan sangat berbahaya jika mereka berdua bertemu." Dengan cepat Edgar pun mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya.
Alika mengendarai mobilnya kembali menuju rumah sahabatnya. Malam yang sunyi tak membuat hati Alika merasa tenang.
Bayangan demi bayangan Edgar yang keluar dari dalam lift pun terus berputar seperti kaset rusak. "Aaaaa.... Kenapa hanya itu yang ku ingat! aku tidak sedang cemburu padanya kan? oh Alika cobalah mengerti kau hanya istrinya bukan berarti kau akan memiliki dirinya seutuhnya. Dia dari keluarga kaya dan memiliki banyak harta dan apa kau ingat kau menikahinya karena anak-anak." Ucap Alika bermonolog.
"Kini aku mengerti mengapa sampai saat ini ia belum juga mengumumkan pernikahan kami." Alika tersenyum miring meratapi nasib percintaan nya yang begitu buruk.
"Al, kamu sudah kembali.." Seru Sabrina yang kini menghampiri sahabatnya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Sepertinya belum. Kamu beristirahatlah biarkan aku yang akan mengirus Rain dan Raina." Sabrina tak berani mempertanyakan apapun yang sudah terjadi pada sahabatnya malam tadi, karena terlihat jelas raut wajah lelah dan penuh kesedihan itu menunjukkan bahwa Alika sedang tidak baik-baik saja.
"Terima kasih Sab, aku sangat merepotkan mu." Alika tersenyum canggung pada sahabatnya.
"Kamu ini ngomong apa sih? seperti orang yang baru kenal saja!" Tukas Sabrina yang menepuk lengan Alika dengan gemas.
"Aishhh.. Kau ini."
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan ayo masuk." Sabrina menggendeng lengan sahabatnya masuk ke dalam rumahnya.
***
Di mansion. Tiga pria Anggasta kini tengah sarapan. Tak ada seorang pun dari mereka yang mengeluarkan suara selain dentingan sendok yang beradu memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
Kakek Wirasena melirik pada kedua cucunya secara bergantian. "Huhh... Kenapa masalah di keluarga ini selalu datang silih berganti. Bagaimana jika setelah aku tiada nanti? apakah kedua kakak beradik ini akan seperti ini selamanya." Kakek Wirasena menghela nafasnya perlahan dan meletakkan sendok dan garpunya menandakan jika ia sudah selesai.
Melihat itu kini kedua cucunya pun mengikuti sang kakek. Edgar akan segera pergi meninggalkan ruangan itu namun langkahnya terhenti saat sang kakek kini memanggilnya kembali.
"Edgar aku ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Tidak bisa kek aku harus pergi sekarang."
"Ini perintah bukan permintaan." Ucap kakek Wirasena dengan nada tegasnya.
"Baiklah apa yang akan kakek tanyakan?" Edgar kembali membalikan badan menatap ke arah sang kekak.
"Ikut aku!" Titah sang kakek yang langsung di turuti oleh Edgar.
Walaupun ia sedang terburu-buru untuk segera mencari keberadaan istrinya saat ini, namun Edgar tetap menuruti perintah sang kakek karena ia tidak ingin berdebat dan membuat semuanya menjadi semakin kacau.
"Kapan kau akan mengumumkan pernikahanmu dengan Alika?" Tanya kakek Wirasena langsung pada intinya.
"Tidak untuk saat ini, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan kek."
"Pekerjaan apa? yang mana? Edgar seorang wanita hanya akan percaya dengan kepastian yang mereka dapatkan. Edgar apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku? apa yang tidak aku ketahui Edgar?" Kakek Wirasena mulai melontarkan tatapan tajam penuh dengan pertanyaan.
Namun Edgar tetap diam dan tak mempedulikan pertanyaan sang kakek, hal itu membuat kakek Wirasena yakin jika cucunya tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Baiklah jika kau tidak ingin menceritakan nya padaku, aku tidak akan bertanya apapun lagi padamu setelah ini, maka jika sesuatu terjadi di masa depan kelak aku tidak akan pernah membantumu." Ucap kakek Wirasena memberikan sebuah peringatan besar untuk Edgar.
"Kau tidak perlu mengancamku kek, aku akan menyelesaikan masalah sendiri kau tenang saja aku tidak akan pernah meminta bantuan apapun darimu." Ucap Edgar dengan penuh keyakinan.
"Bagus! maka lakukanlah seperti yang kamu katakan." Jawab kakek Wirasena dengan nada tegasnya.
Kakek Wirasena pun menepuk bahu cucunya dan pergi meninggalkan Edgar yang masih berdiri di tempatnya.
"Ini pertarunganku maka aku akan menghadapinya dan menanggung konsekuensi nya sendiri." Gumam Edgar lirih.
__ADS_1
Bersambung....