
"Kenapa kamu ngajak aku ke tempat seperti?" Maria menatap penuh tanya ke arah pria yang berada di sampingnya.
"Lepaskan tanganku! Aku bukan bocah SD yang akan menyebrang jalan jadi kau tidak perlukan memegangi tanganku seperti ini." Ketus Maria lagi.
"Marla Agisty Wijayandra, nona muda yang kabur di hari pernikahannya karena sebuah scandal yang di lakukan oleh saudari kembarnya. Woow... Berita yang keren bukan?" Arga mengangkat sebelah alisnya menatap wanita berwajah muram yang berdiri di sampingnya.
"Omong kosong!" Maria menepis tangan Arga lalu bersiap untuk pergi meninggalkan pria itu.
Arga berdehem sedikit keras. "Jadi kamu mau menyembunyikan wajahmu di balik kacamata dan makeup itu sampai kapan?" Tanya Arga yang langsung menghentikan langkah Maria.
"Maaf tuan anda salah paham nama saya Mariana Renita, buka Marla Agisty seperti yang baru saja anda katakan." Sanggah Maria.
Arga tersenyum miring. " Sampai Kapan kamu akan menyembunyikan hal ini dariku. Apakah kamu takut aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada keluargamu? kalau begitu aku akan membantumu menyembunyikan kebenaran itu dan tidak akan pernah mengatakan hal apapun pada keluargamu, dan aku juga akan membantumu membalaskan dendam pada mereka yang sudah membuatmu terluka. Tapi, dengan satu syarat."
"Maaf aku tidak tertarik." Jawab Maria tanpa memikirkan tawaran Arga terlebih dahulu.
"Kenapa?" Tanya Arga kembali dengan mengernyitkan dahinya.
"Kenapa masih bertanya? Sudah aku katakan karena aku bukan Marla seperti yang anda katakan tuan, jadi saya mohon tolong Biarkan saya pergi." Maria menangkupkan kedua tangannya memohon pada Arga.
Arga mendengus kesal lalu ia pun merogoh sakunya dan memperlihatkan bukti yang sudah ia dapatkan agar Maria tidak mengelak lagi. Maria terbelalak saat menetap video rekaman tentang dirinya menghapus mereka dan kata-kata yang sudah ia ucapkan beberapa saat lalu.
Maria menelan salivanya dengan susah payah kini ia tak tahu harus melakukan apa dan mengatakan apa pada pria yang berada di hadapannya itu."Ini tidak mungkin! Kenapa dia bisa masuk ke apartemenku dan apa tujuannya melakukan hal ini? sepertinya aku harus sedikit waspada pada pria itu dia sudah tahu kebenarannya, aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak berbuka mulutnya dan membongkar identitasku yang sebenarnya." Gumam Maria membatin.
"Kenapa kau diam? Apakah kau takut atau kau sudah memikirkan sesuatu dengan syarat yang akan aku ajukan padamu?" Tanya Arga dengan senyuman penuh arti.
"Omong kosong! sebenarnya apa maumu dan apa tujuanmu untuk menyelidiki identitasku, apakah kamu adalah salah satu dari mereka?" Maria sedikit memincingkan matanya ke arah Arga.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Arga menarik pinggang ramping Maria hingga tidak ada jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Dasar pria mesum apa yang kamu lakukan?!" Maria berusaha melepaskan rangkulan tangan Arga dari pinggangnya.
Namun tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan hal itu hingga ia pun pasrah dan menatap wajah tampan pria di hadapannya dengan tatapan dingin.
"Katakan saja apa maksud dan tujuanmu dan apa syarat yang akan kamu berikan padaku?"
Arga tersenyum manis menatap wajah Maria. "Wah nona marla ternyata kamu tidak suka berbasa-basi ya, baiklah kalau begitu. Syaratnya cukup mudah, kamu cukup menjadi istriku saja dan aku akan membantumu dalam setiap hal yang akan kamu lakukan, tetapi masih ada syarat lain sebelum itu."
"Syarat konyol apa itu? aku tidak mau dan aku tidak setuju!" Tolak Maria dengan cepat.
"Kenapa tidak mau? kamu cukup menjadi istriku saja dan aku tidak akan melakukan apapun padamu. Ini semua kelakukan karena permintaan kakek aku tidak mau membantu tanpa mendapatkan imbalan jadi, bukankah ini sepadan dengan apa yang kamu dapatkan! aku membantumu dan kamu membantuku, selesai."
"Hoo... tuan muda, sepertinya anda salah minum obat pagi ini." Maria memutar bola matanya malas lalu mendorong tubuh Arga sekuat tenaga hingga rangkulannya terlepas dari pinggangnya, kemudian ia pun berlari pergi meninggalkan Arga yang jatuh tersungkur karena ulahnya. Arga terus berteriak namun Maria tidak menggubrisnya sama sekali.
"Jangan pernah melakukan apapun atau membantu siapapun saat orang itu meminta sebuah imbalan darimu, lebih baik aku menyelesaikan masalahku sendiri tanpa mengambil langkah yang akan membuat masalah baru di masa depan." Gumam Maria yang kini pergi menaiki taksi.
"Damn, aku tidak menyangka ternyata dia adalah wanita yang tidak mudah untuk ditaklukkan sepertinya aku harus melakukan cara lain untuk mendapatkan gadis itu." Gumam Arga dengan wajah kesalnya.
Dengan semangat berkobar kini Arga pun pergi meninggalkan tempat itu dan mengemudikan mobilnya pergi ke suatu tempat.
***
Di tempat lain. David udah tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan yang akan diselenggarakan beberapa jam yang akan datang.
Begitu pun dengan Edgar yang tengah mempersiapkan konferensi fans untuk memperkenalkan istri dan kedua anaknya, dan ia pun akan mengumumkan kabar terbaik yang ada di dalam keluarga Anggasta yaitu tentang kehamilan kedua istrinya.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Edgar kepada asisten pribadinya.
"Semuanya sudah siap tuan, acara konferensi fans akan di selenggarakan sebelum pesta pernikahan saya."
__ADS_1
"Tidak, konferensi fans akan di lakukan setelah pesta."
"Tapi tuan,"
"Ini keputusanku dan keputusan istriku." Ucap Edgar yang langsung membuat David terdiam dan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Di ruangan lain. Para wanita tengah merasa diri mempercantik penampilan mereka begitu pun dengan sikembar Rain dan Raina yang tidak mau kalah dengan penampilan bunda dan para aunty nya.
"Kakak bagaimana dengan penampilanku apa aku sudah terlihat cantik?" Raina berputar-putar memperlihatkan penampilannya kepada sang kakak.
Rain menyimpan jarinya di dagu mulai sedikit menggoda adiknya.'' Hhm... Penampilanmu lumayan tapi sepertinya ada yang kurang."
"Benarkah?! apa itu?" Raina mulai berlari ke arah cermin dan memutar dirinya di sana.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun mulai tertawa melihat tingkah menggemaskan seorang Raina Anggasta.
"Bunda apakah aku sudah terlihat cantik seperti bunda?" Tanya Raina meminta pendapat sang bunda.
Alika tersenyum mengelus lembut puncak kepala putrinya. "Tentu saja putri bunda sudah terlihat sangat cantik."
"Benarkah? tapi kenapa kakak bilang masih ada yang kurang." Tanya Raina kembali dengan wajah sedihnya.
"Kenapa kamu sangat cengeng sekali, padahal aku kan tidak mengatakan bahwa adikku ini terlihat jelek, lihatlah kamu kurang memakai ini jika kamu memakainya kamu akan terlihat sangat cantik seperti bunda." Rain memakaikan jepit rambut di kepala adiknya membuat Raina pun tersenyum senang dan memeluk kakaknya dengan sangat erat.
"Adik lepaskan aku! aku tidak bisa mati karena karena ulahmu ini." Seru Rain membuat semua orang yang ada di sana kembali tertawa melihatnya.
Melihat interaksi kedua anak kembarnya Alika pun tersenyum penuh syukur dia tidak menyangka bahwa dirinya kini sudah menjadi seorang ibu. "Terima kasih tuhan atas segala nikmat dan rahmat yang sudah engkau berikan padaku." Gumam Alika lirih.
Kini ia pun mengaduh meringis menahan sakit saat perutnya tiba-tiba merasakan keram membuat semua orang yang ada di ruangan itu mulai panik.
__ADS_1
Bersambung...