Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 24


__ADS_3

"Apa dia benar-benar tuan Edgar?" Bisik salah satu pengawal pada temannya.


"Entahlah aku seperti melihat dua orang yang berbeda disini." Jawab temannya.


Suara bisikan pun mulai terdengar riuh di telinga Edgar membuatnya menggeram kesal.


"Sedang apa kalian disini ayo cepat bubar!!" Teriak Edgar yang menggelar memenuhi ruangan itu.


Semua para pengawal pun bubar meninggalkan ruangan itu dan kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Begitu pun dengan Sabrina yang menarik dasi milik David agar mengikuti langkahnya.


"Tunjukkan dimana dapurnya."


"Ayo ikuti aku." Edgar merangkul pinggang ramping Alika dan menuntunnya dengan penuh semangat menuju dapur.


"Mau aku bantu?" Edgar terus mencari cara agar ia bisa terus dekat dengan Alika agar kembali mendapatkan hatinya.


"Tidak perlu." Jawa Alika singkat.


"Apa kau meragukan bakatku, apa kau tahu saat aku kecil aku juga bisa memasak lihatlah caraku memasak." Edgar bersiap untuk menunjukan sebuah atraksi media telur kepada istri dan anak-anaknya.


"Tunggu sebentar." Edgar mengaruk pelipisnya merasa kebingungan dan mulai mengingat kembali bagaimana caranya seorang koki handal memainkan sebuah telur.


"Paman sebenarnya kau bisa atau tidak?" Tanya Raina yang tak sabar melihat pertunjukan yang akan di perlihatkan Edgar pada mereka.


"Nak jangan panggil aku paman aku ini ayahmu jadi panggil aku ayah dan sekarang ayah akan memperlihatkan sesuatu yang menarik pada kalian." Dengan senyuman penuh percaya diri kini Edgar pun memulai aksinya dengan melemparkan telur yang ada di tangannya ke udara.


Plokk...


Terlur itu pun terjatuh sempurna di kepalanya membuat Rain dan Raina tertawa saat melihatnya. Begitu pun dengan Alika yang tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol seorang Edgar Anggasta.


Edgar melirik sekilas pada sang istri yang tengah tersenyum sambil sibuk dengan masakan yang ia buat. Edgar pun mulai menarik kedua sudut bibirnya menampakan senyuman manis yang tak pernah orang lain lihat sebelumnya.


"Senyuman mu adalah hal yang sangat berharga dalam hidupku, tak perduli apapun yang harus ku lakukan untuk hal itu maka aku akan melakukannya dengan senang hati." Batin Edgar bergumam.


"Tunggu anak-anak ayah akan mencobanya sekali lagi." Edgar kembali mengambil sebutir telur dan mencoba untuk melakukan atraksi, namun Edgar kembali gagal saat telur tersebut kembali terjatuh membuat Rain dan Raina sedikit kecewa karena Edgar berbohong jika dia bisa melakukan hal tersebut.

__ADS_1


"Maaf anak-anak." Edgar terlihat lesu saat melihat raut wajah penuh kekecewaan pada anak kembarnya.


"Anak-anak." Alika tersenyum dan menaik turunkan sebelah alisnya dan memperlihatkan sebuah atraksi yang tidak bisa Edgar lakukan.


Edgar menatap penuh kekaguman pada Alika begitu pun dengan Rain dan Raina.


"Waaw... bunda memang hebat." Seru Raina dengan wajah berbinar penuh kekaguman.


"Bunda memang luar biasa. " Rain bertepuk tangan dengan penuh semangat mengagumi kehebatan sang bunda.


Mendapat pujian dari kedua anaknya membuat Alika merasa bangga dan melirik sekilas pada Edgar dengan senyuman mengejeknya.


"Lihatlah kau tidak akan pernah bisa mendapatkan hati mereka dengan mudah dan aku pastikan kau tidak bisa merebut mereka dariku." Batin Alika tersenyum puas melihat kekalahan Edgar.


"Oh apa itu? apa dia sedang mengejekku?" Edgar bermonolog dan berjalan kembali menghampiri Alika.


"Ternyata tidak hanya cantik kau juga pandai dalam segala hal sayang, kau membuatku semakin jatuh cinta pada dirimu." Edgar memeluk pinggang ramping Alika dari belakang, membuat Alika merasa sangat risih dan berusaha untuk memberontak agar Edgar melepaskan pelukannya.


"Apa yang kau lakukan?" Alika menekan kata-katanya sedikit berbisik di samping telinga Edgar.


"Adik, sebaiknya kita tunggu di luar saja ruangan ini tidak aman untuk kita." Ajak Rain yang kini menarik tangan adiknya meninggalkan kedua orang tuanya.


"Tapi kak aku sangat lapar. " Rengek Raina yang terus memerangi perutnya.


"Lupakan saja kau terlalu banyak makan." Rain tak mempedulikan rengekan adiknya dan terus menuntunnya keluar dari ruangan itu.


"Edgar lepaskan aku." Pinta Alika yang yang terus berusaha membuka rangkulan tangan Edgar di pinggangnya.


Alika tidak bisa terus berdekatan dengan Edgar karena sejak tadi jantungnya terus memompa dengan cepat, rasa rindu akan kenyamanan dekapan Edgar membuat ia takut jika ia tidak bisa menahan dirinya terlalu lama lagi.


"Tahan Alika jangan sampai dia berhasil membuat mu kembali terjebak dalam skenario permainan cinta palsunya, karena aku yakin jika dia mendekatiku suatu alasan dan tujuan tertentu." Gumam Alika membatin.


Alika belum menyadari jika kedua anaknya sudah tidak berada di ruangan itu, karena itulah ia tidak berani melakukan sesuatu yang akan membuat anak-anaknya terkejut dan menjadi ketakutan melihat ulah bar-barnya.


"Aku sangat mencintaimu nyonya Edgar Anggasta." Ucap Edgar yang memberikan sebuah kecupan di tengkuk Alika membuat Alika merasa seperti tersengat aliran listrik.

__ADS_1


"Dasar pria mesum?! bajingan." Aluka terus berusaha untuk melepaskan pelukan Edgar darinya. Namun Edgar tak berniat sedikit pun untuk melepaskan pelukan tersebut.


"Apa salahnya jika mesum pada istri sendiri? bukankah hal yang wajar jika suami istri melakukan hal seperti ini." Edgar memutar tubuhnya Alika dan membuat mereka saling berhadapan.


"Edgar apa yang akan kau lakukan." Alika merasa tidak aman saat wajah Edgar semakin mendekat ke arahnya.


Alika merasa sangat gugup dan panik kini ia pun mulai memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan degup jantungnya yang terus berdetak cepat. Edgar tersenyum melihat tingkah menggemaskan Alika dan hanya memberikan sebuah kecupan singkat dibibir Alika.


"Kau sangat menggemaskan membuatku tak sabar untuk memakanmu." Ucap Edgar yang langsung membuat Alika menatap tajam ke arahnya.


"Kau, dasar tidak sopan tidak sopan!" Alika merasa geram.


Kini Alika dan Edgar pun kembali berdebat melupakan makanan yang sedang ia masak saat ini.


Di tengah perdebatan keduanya kini Edgar meminta untuk Alika diam sesaat dan mencium bau gosong memenuhi ruangan itu.


"Apa kau mencium bau sesuatu?" Tanya Alika pada Edgar yang terlihat sedang mencari sesuatu.


Kini Alika pun kembali teringat jika dirinya sedang memasak untuk kedua anaknya.


"Astaga! kenapa aku bisa melupakan hal ini. Alika mematikan kompornya dengan cepat.


"Ini semua karena kamu, andai saja jika kau tidak arang dalam hidupkui." Alika sedikit menaikan intronasi suaranya


"Tenanglah sayang semuanya akan baik-baik saja. " Jawab Edgar menenangkan kemarahan Alika.


Akika melemparkan apron sembarangan meninggalkan ruangan itu untuk mencari keberadaan kedua anaknya.


"Ak... ini sangatlah menyebalkan. Dimana twins R berada.


Sedangkan di ruangan lain Sabrina dan twin R sedang menikmati makanan yang sudah di pesan oleh David.


"Aunty sebenarnya siapa ayahku tuan muda pertama atau yang kedua." Tanya Raina berceloteh dengan polosnya membuat Sabrina terbatuk dan menatap David yang duduk tak jauh darinya.


"Astaga Raina kau mengajukan pertanyaan atau sedang menodongku dengan senjata." Sabrina mulai kebingungan harus menjawab apa pada gadis kecil di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2