
Alika terus menatap pria bertubuh tegap dan tinggi yanh kini berjalan ke arahnya. Alika sedikit terkagum saat memperhatikan ada banyak perubahan yang ia lihat dalam diri Arga.
Namun kekaguman itu menghilang begitu saja saat tangan tangan besar melingkar sempurna di pinggangnya, begitu pun dengan Arga yang langsung membuang pandangannya ke arah lain.
"Jangan melihat adik iparmu dengan tatapan itu, aku sungguh tidak menyukainya." Ucap Edgar sedikit berbisik di samping telinga Alika.
"Apa hak mu melarangku, hubungan kita sudah berakhir saat aku menandatangani surat perceraian itu sesuai permintaanmu, apakah kau sudah melupakan hal itu?" Alika menekan setiap kata-katanya untuk membuat mengerti.
Namun Edgar tak perduli dan menarik pinggang ramping Alika agar semakin mendekat ke arahnya. Edgar merasa tidak aman saat adiknya berada dalam satu ruangan dengannya dan juga istrinya, Edgar merasa sangat takut jika Arga akan kembali merebut Alika darinya terlebih saat Alika menatapnya dengan penuh kagum.
"Kakek ada apa kakek memanggilku kemari?" Tanya Arga yang kini duduk di samping Alika membuat Edgar semakin panas di buatnya.
"Aku memintamu kemari karena ada hal yang harus ku tanyakan." Kakek Wirasena kini berjalan menghampiri jendela dengan kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya.
Tatapan sang kakek kini tertuju pada sebuah taman yang terbentang luas di mansion itu melihat dua anak kembar tengah bermain dengan asyiknya.
"Edgar, Arga aku sudah sangat tua. Aku ingin hidup yang normal seperti layaknya pria seusiaku. Berjemur dibawah matahari pagi di temani para cucu yang siap bercerita menceritakan segala hal indah dalam hidupnya, bermain bersama mereka, menggendongnya dan menyaksikan kalian bahagia. Mudah bukan? tapi, apakah kalian bisa mewujudkan impian itu?" Kakek Wirasena kini berbalik menatap ke arah para cucunya.
"Siapa anak-anak kembar itu, apakah mereka memiliki darah keluarga Anggasta?" Tanya sang kakek pada Alika yang tampak terkejut karena beberapa saat lalu Edgar mendaratkan ciumannya di bibir Alika tepat di hadapan Arga.
"Mereka anak-anakku dab tidak ada hubungannya dengan keluarga Anggasta." Jawab Alika dengan lantang. Kini Alika pun berdiri menatap sang kakek dengan tatapan kemarahan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.
"Apa kau yakin, lalu siapa ayah dari mereka?" Kakek Wirasena kembali mengajukan pertanyaan yang membuat Alika langsung terdiam mematung di tempatnya.
"Sudah ku katakan mereka anak-anakku, apakah seorang ayah itu penting di saat aku sebagai ibunya mampu menjadi seorang ibu sekaligus menjadi ayah bagi mereka." Alika mulai terisak membuat ketiga pria yang ada di ruangan itu pun merasakan penderitaan yang sudah Alika jalani selama ini.
__ADS_1
Edgar berdiri menggengam tangannya dan membawa Alika kedalam pelukannya. "Maafkan aku, karena aku kau harus menanggung semua ini sendiri."
"Ya itu semua karena mu, kau tak lain dari pecundang." Cecar Arga yang menatap Edgar dengan tatapan penuh kebencian.
"Kau tidak memiliki moral dan etika hingga kau menjadi duri dalam hubungan di antara kami." Ucap Arga kembali. Kini Arga menarik tangan Alika membawanya ke dalam pelukannya.
"Kembalikan dia istriku dan dia ibu dari anak-anakku." Edgar menahan emosinya agar tidak sampai melukai adiknya.
"Aku akan merebutnya kembali darimu." Jawab Arga dengqn santay membuat Edgar mengepalkan tangannya.
"Arga apa kau sudah gila! aku bilang dia adalah istriku!" Teriak Edgar penuh kemarahan dan menarik kembali tangan Alika dan membawanya ke dalam pelukannya.
Membuat kakek Wirasena merasa sangat pusing dengan perdebatan di antara kakak beradik yang memperebutkan wanita di hadapannya.
"Kakek saya permisi." Alika bersiap untuk keluar dari ruangan itu namun langkah kakinya terhenti saat mendengar panggilan dari kakek Wirasena.
"Kenapa mereka semua terus memaksaku di saat aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak terikat lagi dengan keluarga ini." Batin Alika bergumam menatap ke arah sang kakek yang kini berjalan penuh gaya menghampirinya.
Kakek Wirasena menghela nafasnya secara perlahan dan mengusap kepala Alika dengan lembut.
Alika menangis saat merasakan kelembutan tangan orang tua yang sudah lama ia rindukan. Alika merasa tangan kakek Wirasena seperti tangan ayahnya sendiri.
"Ayah." Alika memeluk kakek Wirasena membuat sang kakek tersenyum dan kembali mengusap kepalanya dengan lembut.
"Duduklah, tenangkan dirimu." Ucap sang kakek yang menuntun Alika kembali duduk.
__ADS_1
Edgar dan Arga merasa heran melihat tingkah Alika yang begitu penurut kepada sang kakek.
Kini kakek Wirasena pun meminta kedua cucunya untuk meninggalkan mereka berdua saja di ruangan itu. Awalnya Edgar menolak namun melihat Arga keluar tanpa tanpa mengatakan sepatah katapun, Edgar pun keluar meskipun ia tidak rela meninggalkan Alika berdua saja bersama kakeknya.
Setelah melihat pintu tertutup dan Alika pun sudah merasa tenang. Kini kakek Wirasena pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Alika.
"Bagaimana apa sudah merasa lebih baik?" Tanya sang kakek yang kini memberikan segelas air pada Alika.
"Terima kasih, saya sudah merasa lebih baik." Jawab Alika yang kini menerima gelas yang di berikan kakek Wirasena.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanya kakek Wirasena yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Alika.
Alika sudah tahu apa yang akan di tanyakan sang kakek padanya, karena itulah ia akan menjawab semua pertanyaan yang kakek Wirasena ajukan agar ia merasa sedikit lebih tenang dan berharap sang kakek mengerti dengan keputusannya nanti.
"Mereka memang anak-anak ku dan Edgar, enam tahun lalu kami tanpa sadar melakukan kesalahan. Saat itulah bencana di mulai, aku tidak pernah tahu jika tuan Edgar adakah kakak dari kekasihku Arga. Tiga tahun kami menjalin hubungan, namun kami tidak pernah mengatakan hal apapun tentang keluarga masing-masing. Bukan aku tidak ingin tapi Arga tidak pernah setuju akan hal itu." Alika menarik nafasnya perlahan menjeda ceritanya.
Sedangkan sang kakek masih terdiam dan menyimak kisah Alika dan kedua cucunya bermula.
"Aku dan tuan Edgar melakukan pernikahan namun kami memiliki perjanjian jika kami hanya akan menjadi suami istri hanya dalam waktu tiga bukan. Selama kami menikah tuan Edgar yang mulanya ketus, sombong dan arogan berubah menjadi baik dan lembut membuatku merasa sangat nyaman dan tenang saat bersamanya. Namun di bulan- bulan terakhir perjanjian kontrak pernikahan kami aku dinyatakan hamil, aku memutuskan untuk mengatakan hal itu padanya dan aku juga berpikir untuk mengatakan perasaanku padanya tapi," Alika mengusap air matanya dan kembali menjeda ucapanya sejenak.
"Lanjutkan aku masih ingin mendengarnya." Ucap kakek Wirasena.
"Hatiku hancur seketika saat aku mendengar jika dia melakukan itu padaku karena ingin menjauhkanku dari kekasihku Arga. Dia mengira jika selama ini aku hanya memanfaatkan cinta demi harta adiknya dan menganggapku sebagai benalu. Saat itu juga duniaku hancur rasa cinta yang membara mulai padam seperti tersiram air." Alika terus melanjutkan ceritanya pada sang kakek.
Begitu pun dengan Edgar yang berdiri di balik pintu diam-diam mendengarkan cerita Alika, kini ia mulai terduduk lemas merasa bersalah dan menyesali semua perbuatan kejamnya pada Alika.
__ADS_1