Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 23


__ADS_3

"Woow…." Sabrina mengangkat kedua tangannya saat melihat para anak buah Edgar kini mulai mengelilingi nya dan juga Alika.


Sedangkan Alika tak bereaksi apapun selain menatap Edgar yang sudah terbaring di lantai menahan sakit karena ulah bar-barnya.


"Sakit itu tidak seberapa di bandingkan sakit yang aku rasakan saat melahirkan kedua anakmu." Ingin sekali Alika mengatakan hal itu pada Edgar, namun ia urungkan dan hanya mengungkapkan nya dalam hati.


Karena ia tidak ingin masalah ini semakin rumit dan membuatnya semakin tidak bisa lepas dari belenggu mantan suami kontraknya.


"Tuan muda apa anda baik-baik saja?" David sedikit berlari menghampiri Edgar yang kini tengah mengaduh kesakitan setelah senjata pamungkasnya mendapatkan tendangan bebas dari Alika.


Arrghhh….


"Aku harap tongkat naga sakti ku masih bisa digunakan setelah ini, jika tidak bagaimana dengan masa depanku nanti." Ingin sekali Edgar mengumpat Alika saat ini namun ia urungkan karena tak ingin membuat Alika semakin kesal dan menjauh darinya.


Edgar berdiri di bantu oleh asisten pribadinya kini ia pun melirik kepada para pengawal yang sudah berani mengangkat senjatanya pada Alika.


"Turunkan senjata kalian!" Teriak Edgar dengan penuh kemarahan.


"Aishhh…" David menepuk keningnya perlahan.


"Jangan ada yang pernah berani mengangkat senjata pada istriku sekarang kalian semua bubar!" Titah Edgar yang langsung di turuti oleh para pengawalnya nya.


Begitu pun dengan Alika dan Sabrina yang kini bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan itu, namun Edgar memohon pasa Alika untuk tetap diam di tempatnya dengan sebuah ancaman yang tidak main-main lagi.


"Sudah aku katakan padamu Alika, kau boleh pergi meninggalkan rumah ini tapi kau tidak bisa pergi membawa anak-anak bersamamu. Karena aku tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi." Ucap Edgar dengan lantang.


"Dasar pria tidak waras apa begitu caramu untuk mendapat sesuatu? memaksa seorang wanita dengan cara mengancamnya?" Sabrina berbalik menatap tak percaya dengan ancaman yang Edgar ucapkan pada sahabatnya.


"Diam kau! aku tidak sedang bicara dengan tapi dengan istriku." Edgar menatap Sabrina dengan wajah dinginnya..


"Istri? kau pikir dia istrimu?! woww.. hebat sekali aktingmu, aku sangat terharu mendengar kisah cinta ini." Sabrina sedikit mengejek Edgar membuat Edgar tak bisamenagan kesabarannya lagi.


"David... bawa dia pergi dari sini." Titah Edgar. David yang melihat suasana semakin panas pun langsung memanggul Sabrina bagaikan karung beras.


"Heyy... lepaskan aku!" Sabrina berteriak dan berusaha untuk memberontak meminta untuk di lepaskan, namun David tak perduli dan tetap membawa pergi gadis itu keluar meninggalkan ruangan, berbagai macam umpata pun terdengar sangat jelas di telinga mereka.

__ADS_1


Edgar berjalan menghampiri Alika yang masih terdiam mematung di tempatnya, tak ada respon atau reaksi apapun saat Edgar kembali memeluknya. Hanya tatapan dingin yang Edgar lihat saat menatap mata istrinya.


"Alika aku mohon mengertilah. " Edgar kembali membujuk Alika agar mau mempertimbangkan lagi keputusan nya.


Hubungan kita sudah berakhir enam tahu lalu jadi aku berharap kau yang mengerti akan hal ini." Jawa Alika setelah sekian lama terdiam.


"Tapi kau masih istriku Alika Maheswari, aku tidak pernah menceraikanmu atau pun menandatangi surat perceraian itu." Ucap Edgar yang langsung membuat Alika melebarkan matanya dan menatap Edgar dengan tatapan penuh tanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Alika penuh kebingungan.


Edgar tersenyum tipis dengan mata yang terus terus tertuju pada wajah cantik istrinya, kemudian tangan besarnya pun mulai menangkup kedua pipi Alika dan mengusapnya dengan penuh kelembutan.


Edgar mulai menceritakan kejadian enam tahun lalu yang menimpa dirinya setelah kepergian Alika, membuat hati Alika sedikit terenyuh dengan kisah yanh Edgar ceritakan.


"Apakah benar yang kau katakan, apakah kau benar-benar mencintaiku?" Batin Alika penuh tanya.


***


"Kak apakah benar ayah kita ternyata tuan muda pertama keluarga Anggasta lalu bagai mana dengan foto-foto bunda dengan tuan muda ke dua?" Raina memberikan beberapa pertanyaan pada sang kakak yang Rain sendiri pun merasa sangat kebingungan memikirkan hal yang sangat rumit itu.


"Entahlah, kakak juga tidak tahu." Jawab Rain dengan mengangkat kedua bahunya.


Namun kini obrolan kakak beradik itu pun tersaat mendengar suara tidak asing lagi baginya.


"Kak apa kau memanggil aunty Sabrina ketempat ini?"


"Tidak, ayo sebaiknya kita lihat kenapa aunty terdengar sangat kesal sekali siapa yang sedang ia marahi?" Kedua twins R pun keluar dari ruangan dan sedikit berlari menghampiri sumber suara tersebut.


"Aunty..." Panggil twins R secara bersamaan membuat Sabrina menghentikan tingkah bar-barnya dan kembali ke mode santai.


"Hay twins kalian disini juga ya." Sabrina tersenyum dan berjalan menghampiri Rain dan Raina yang berdiri tak jauh darinya.


"Iya kami disini dan bunda juga ada disini." Jawa Raina yang kini berada di dalam pelukan Sabrina.


"Owhh iya aunty lupa kita disinikan sedang menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. " Ucap Sabrina yang sedikit membohongi twins R agar tidak mengajukan pertanyaan yang sulit padanya.

__ADS_1


"Apa aunty yakin? tidak sedang berbohong kepada kami kan?" Rain menatap Sabrina penuh selidik membuat Sabrina merasa seperti maling yang sudah tertangkap basah.


Sedangkan David yang berdiri tak jauh dari mereka hanya menatap Sabrina dengan menahan tawa yang hampir meledak.


"Apa kau puas melihat hal ini?!" Ucap Sabrina yang kini menatap tajam ke arah David.


"Apa maksudmu? Dasar gadis aneh." David membenarkan kaca matanya dan mulai kembali pada mode dinginnya.


"Ishhh dasar pria menyebalkan!" Geram Sabrina.


"Sepertinya aku tidak seburuk itu." Jawab David dengan santainya.


"Apakah kau tidak punya cermin untuk melihat bagaimana gilanya dirimu?" Sabrina dan David terus berdebat membuat Rain dan Raina saling menatap dan menepuk keningnya secara bersamaan.


"Adik tempat ini tidak baik untuk pendengaran dan penglihatan kita sebaiknya kita pergi untuk melihat seluruh rumah ini." Ajak Rain yang menuntun adiknya meninggalkan ruangan itu.


Raina hanya menuruti perintah sang kakak dan berjalan membuntutinya menatap penuh kekaguman pada bangunan mewah itu.


"Sangat indah seperti istana dalam cerita dongeng." Seru Raina dengan mata terus tertuju pada seluruh ruangan yang baru sempat mereka lihat.


"Ini terlalu biasa, rumah kita jauh lebih baik di bandingkan rumah besar dan mewah ini."


"Kakak benar, aku sangat merindukan rumah." Ucap Raina yang kini mulai menangis membuat Rain sedikit kebingungan.


"Adik kenapa kau menangis?" Tanya Rain yang kini mengusap air mata adiknya dengan lembut.


Raina tak menjawab pertanyaan sang kakak bahkan tangisannya pun semakin kencang membuat seluruh penghuni mansion ke dua pun mulai berdatangan menghampiri bocah kembar itu.


"Sayang ada apa nak?" Alika berlari menghampiri putra putrinya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Bunda, aku ingin pulang aku sangat lapar sekali." Jawab Raina di sela isak tangisnya membuat semua orang yang menyaksikan hal itu pun mulai menahan tawa.


"Sayang baiklah bunda akan membuatkan makan untuk kalian berdua." Alika tersenyum dan mengusap air mata di wajah putrinya.


"Yeayy makan..!!" Seru Raina penuh kegirantan membuat Rain menepuk kening dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang aku juga sangat lapar." Rengek Edgar yang membuat semua orang yang ada di sana terbelalak melihat tingkah Edgar saat ini.


Bersambung...


__ADS_2