
"Apa itu?" Alika mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.
"Biarkan saja." Edgar tak ingin membuang kesempatan untuk berdekatan dengan istrinya karena hal-hal yang tidak penting menurutnya.
Edgar kembali melanjutkan ciuman panasnya dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Alika melayang.
Suara-suara indah pun mulai terdengar lembut di telinga Edgar dan membuatnya semakin bergairah.
Perlahan tapi pasti kini ia pun mulai membuka kencing baju sang istri setelah mendapatkan persetujuannya.
Edgar membuang semua helaian benang yang menempel di tubuh istrinya hingga hanya tersisa kain yang menutupi kedua bukit kenyal yang berisi.
Edgar yang sudah tak kuat menahan hasratnya pun menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang yang empuk. Hasrat yang sudah lama terpendam dan menggebu-gebu akan terbayar lunas.
Namun harapan tinggalkan harapan, hasrat yang sudah berada di ubun-ubun itu pun kini menghilang bagaikan angin yang berhembus saat mendengar suara tangisan putra-putrinya.
"Minggir!" Alika mendong tubuh suaminya dengan sangat kuat dan memakai kembali pakaiannya yang sudah berceceran di lantai.
Alika berjalan menghampiri putra-putrinya dengan wajah panik karena tangisan keduanya, bahkan kini Alika merasa jika dirinya seperti maling yang sudah tertangkap basah.
"Hmm..." Alika menetralkan suaranya dan membuka pintu untuk menyambut kedua anaknya. Sedangkan Edgar masih berada di atas tanjang tidur telungkup untuk menenangkan adik yang sudah terbangun ingin menjelajah.
"Argghh... Aku tidak suka jika momen ini terganggu dan berakhir di kamar mandi." Gumam Edgar membatin.
"Huhuhu... Bunda..." Kedua bocah kecil itu menangis memeluk sang bunda.
"Sayang ada apa dengan kalian? kenapa kalian berdua menangis?" Alika mencoba menenangkan kedua anaknya.
Sekilas Alika melirik pada Edgar yang masih dalam posisi yang sama, ia merasa kasihan pada suaminya yang kini sedang berusaha untuk meredakan hasratnya. Namun ia pun tak bisa berbuat apapun selain menenangkan anak-anaknya.
"Bun.. Bunda, huu... hu.. " Rain berusaha untuk mengatakan sesuatu namun ia masih tak bisa menghentikan tangisannya.
"Sttt... Tenang dulu sayang, coba katakan mengapa kalian terlihat sangat begitu bersedih seperti ini?" Alika mengusap lembut air mata putranya yang terus berjatuhan.
__ADS_1
"Alika...!"
"Alika! ini gawat! kakek tua itu, maksudku kakek Wirasena jatuh dari tangga dan kini David sudah membawanya ke rumah sakit." Sabrina menyampaikan kabar dengan nafas terengah-engah.
"Apa?!" Pekik Alika dan Edgar secara bersamaan.
Edgar langsung berdiri ke luar rumah tanpa mempedulikan sang istri yang kini terus berteriak memanggilnya. "Edgar tunggu! kamu mau kemana?" Tanya Alika sedikit berteriak namun Edgar tak menghiraukannya dan terus berlari meninggalkan mansion.
"Dia terlihat sangat begitu panik." Alika menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar dan beralih menatap sahabatnya yang masih setia menunggunya.
"Apa parah?"
"Entahlah aku tidak terlalu memperhatikan nya tadi hanya melihat keningnya berdarah saja." Sabrina menggruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagaimana aku tahu keadaan pria tua itu jika pandanganku hanya tertuju pada asisten tengik itu. Akh... Dua sudah membuatku tidak waras." Gumam Sabrina membatin. Perlahan ia pun mengusap bibirnya dan merasakan hangatnya ciuman sang mantan.
Sabrina terus tersenyum sambil membayangkan wajah tampan sang mantan, sedangkan Alika mengernyitkan dahinya saat melihat ekspresi wajah sahabatnya saat ini.
"Aku rasa gadis itu mulai tidak waras." Alika menggelengkan kepalanya kini ia pun bersiap untuk pergi ke rumah sakit melihat kondisi sang kakek.
Edgar memasuki rumah sakit yang sama seperti yang asistennya katakan, tetapi ia merasa sedikit keheranan saat semua orang kini menatapnya dengan tatapan aneh seperti ingin melahapnya begitu saja. Namun Edgar tak perduli dan terus berjalan mencari ruangan sang kakek.
"David bagaimana dengan keadaan kakek?" Tanya Edgar dengan wajah cemasnya. Namun David melihatnya dengan tatapan aneh seperti orang-orang yang ia jumpai di sepanjang jalan rumah sakit itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"Tanya Edgar dengan wajah dingin dan datarnya. Karena merasa sangat penasaran kini Edgar pun menatap dirinya sendiri.
Edgarmembelalakan matanya saat ia menyadari dirinya hanya memakai celana pendek, dan tak mengenakan pakaian apapun lagi untuk menutupi tubuh atletisnya.
"Bukan pakaian mu." Titah Edgar masih dengan wajah dinginnya.
"Tapi tuan muda,"
"Cepat buka pakaian mu!" Edgar mulai melemparkan tatapan tajamnya pada David.
__ADS_1
"Nasib jadi bawahan." Gumam David lirih. Dengan sangat terpaksa pria itu pun mulai membuka pakaiannya dan memberikan kepada Edgar.
Edgar menerima pakaian David dan langsung memakainya tak perduli dengan David saat ini.
Edgar masuk ke dalam ruangan sang kakek dan melihat kondisinya saat ini. "Apa kau baik-baik saja kek?" Tanya Edgar dengan wajah masamnya.
Kakek Wirasena mengernyitkan dahinya melihat tingkah sang cucu. "Hmm... Kenapa dengan wajahmu itu?"
"Apa kau terlalu lama di bawah dan istrimu.di atas?" Kakek Wirasena mulai menggoda cucunya.
"Omong kosong! semuanya gagal karena ulahmu."
"Seharusnya aku masih disana merasakan indahnya surga dunia setelah sekian purnama, tapi kau menghancurkan semua mimpiku begitu saja." Edgar terduduk lemas di sofa yang tak jauh dari brankar pasien.
Kakek Wirasena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menatap wajah sang cucu yang terlihat sangat begitu kesal padanya.
Kini pintu terbuka menampakan cucu keduanya bersama dengan cucu menantu nya yang datang secara bersamaan.
"Kakek apa kakek baik-baik saja?" Tanya Alika yang kini berjalan mendekat ke arah brankar pasien berdampingan dengan Arga.
Edgar terbelalak dan langsung berdiri menghampiri sang istri. Ia sungguh tidak rela jika istrinya begitu dekat dengan adiknya, karena Edgar tahu mereka memiliki masa lalu yang indah dan is takut jika hal itu akan terulang kembali.
"Sayang!" Edgar sedikit menggeser tubuh adiknya dan merangkul pinggang sang istri dengan sangat erat.
Arga memutar bola matanya malas, ia tahu jika kakaknya sangat begitu ketakutan jika ia akan merebut kembali Alika darinya. Arga tersenyum simpul saat ide jahil muncul dalam pikirannya saat ini.
"Alika, maksudku kakak ipar dulu aku pernah terluka saat jatuh dari motor bersamamu dan kau mengobati luka di punggungku dengan ramuan tradisional, ramuan apa itu mungkin saja bisa menyembuhkan luka kakek dengan cepat?"
"Owhh itu, itu bisa menjadi obat luka yang paling cepat dan ampuh tapi daun obat itu hanya ada di desa, di kota tidak ada yang seperti itu dan daun-daun itu pun sangat langka."
"Kalau begitu mari kita ke desa untuk mencari daun obat itu." Arga meraih tangan Alika membuat pria yang berdiri di sampingnya mulai memerah dengan kemarahan yang sudah berada di ubun-ubun, bagaikan gunung berapi yang siap meletus kapan saja.
Alika tersenyum ramah dan mengiyakan permintaan Arga tanpa meminta izin suaminya terlebih dahulu. Alika masih merasa kesal karena Edgar sempat mengacuhkan nya kini ia pun membalas perlakuan acuh suaminya, dengan menerima permintaan sang mantan sekaligus adik iparnya.
__ADS_1
"Sepertinya akan ada perang dunia ketiga ke empat dan kelima." Gumam Sabrina di samping telinga David.
Bersambung...