Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 43


__ADS_3

Maria mengganti eskrim nya yang jatuh dan kembali menghampiri twin R yang sedang asyik berlomba.


"Anak-anak, aunty ke toilet sebentar ya kalian berdua jangan pergi kemana-mana dan ingat jika ada orang asing yang duduk disini mengajak kalian mengobrol atau apa pun, kalian berdua harus segera panggil aunty oke!"


"Siap aunty." Raina mengacungkan jempolnya pada Maria.


"Anak pintar." Maria sedikit berlari agar ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat.


"Kak, ingat siapapun yang kalah harus menuruti permintaan yang menang." Ucap Raina kembali mengingatkan sang kakak.


"Iya aku ingat, tapi apakah kau yakin jika kau akan menang?" Rain menyipitkan matanya melirik ke arah sang adik.


"Tentu saja aku yakin." Jawab Raina dengan penuh percaya diri.


Di kamar toilet. Maria merasa sangat lega setelah urusannya selesai kini ia pun melangkahkan kakinya kembali menemui twins R.


Namun ia terbelalak saat melihat meja yang ia tempati bersama twins R terlihat kosong hanya eskrim mereka saja yang masih teronggok rapi di meja itu.


Maria mulai merasa cemas dan mencari keberadaan twins R di seluruh tempat itu. "Kemana mereka berdua pergi? aku hanya pergi beberapa menit saja mengapa mereka berdua sudah menghilang. Bagaimana jika nona Alika tahu tentang ini."


Maria mulai merasa sangat ketakutan dan hampir gila mencari keberadaan Rain dan Raina yang tiba-tiba menghilang.


"Permisi apa saya boleh melihat cctv toko ini, saya mohon kedua keponakan saya hilang saat saya tinggal beberapa menit ke toilet." Maria memohon pada sang penjaga toko itu agar mengizinkan nya untuk memeriksa rekaman cctv.


Penjaga toko itu memindai tubuh Maria untuk memastikan jika Maria tidak berbohong. Merasa sudah cukup aman kini sang penjaga pun mempersilahkan Maria untuk memeriksa rekaman cctv.


Di kantor Al2R. Alika menjatuhkan gelas yang ada di tangannya tiba-tiba merasa sangat cemas memikirkan kedua anaknya yang tak kunjung kembali.


Alika membersikan pecahan gelas dan mengaduh saat salah satu pecahan gelas itu melukai nya.


"Sudah dua jam lebih mereka pergi, tapi kenapa mereka belum kembali." Alika mencoba untuk menghubungi asistennya namun Maria tak kunjung menjawabnya.


"Aneh tidak seperti biasanya." Gumam Alika lirih.


"Ada apa Al?" Tanya Sabrina yang kini melihat kecemasan di wajah sahabatnya.

__ADS_1


"Entahlah tiba-tiba aku merasa khawatir dengan keadaan twins R, aku sudah menghubungi Maria tapi dia tak kunjung menjawabnya."


"Begitu ya, kamu tenanglah Maria dan anak-anak pasti baik-baik saja. Alika berhenti memporsil otak dan pikiranmu dengan hal-hal kecil kamu bisa sakit nanti." Sabrina merasa sangat cemas dengan kondisi sahabatnya.


"Ini semua berawal dari pria itu, karena dia sahabat terbaikku menjadi seperti ini." Batin Sabrina bermonolog.


Sabrina memijat kepalanya yang tiba-tiba merasa pening. "Begini saja, kau akan pergi kan? biarkan urusan si kembar menjadi tanggung jawabku aku akan mencarinya dan membawanya pulang ke rumahku. Ibu pasti sangat senang melihat mereka berdua."


"Tapi,"


"Alika apa kah tidak percaya padaku?" Sabrina melirik tajam ke arah sahabatnya.


"Iya aku percaya padamu. Terima kasih kau sudah membantuku kalau begitu aku pergi sekarang." Ucap Alika yang kini berjalan meninggalkan ruangan itu yang hanya menyisakan Sabrina di dalamnya.


"Sepertinya aku harus segera mencari keberadaan mereka." Sabrina mulai mencari keberadaan mereka melalui GPS namun ia terkejut saat melihat lokasi Maria dan twins R berada di tempat yang berbeda.


"Apa ini? kenapa mereka tidak bersama. Ini tidak bisa di biarkan! ceroboh sekali Maria." Dengan langkah cepat kini Sabrina pun keluar dari gedung kantor itu menuju tempat twins R berada.


"Maria angkat panggilan teleponku jika tidak habislah kau." Sabrina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Ekspresi wajah Rain dan Raina menunjukkan jika mereka sangat begitu mengenal pria itu membuat Maria pun mulai berusaha untuk mengingat ingat kembali wajah pria itu.


"Dia adalah... Ya aku ingat sekarang, dia adalah adik dari tuan Edgar." Dengan cepat Maria pun pergi meninggalkan ruangan itu setelah berterima kasih pada sang penjaga toko.


Maria kembali melebarkan matanya saat melihat puluhan panggilan tak terjaga dari Alika dan Sabrina.


Bersamaan dengan rasa terkejutnya kini ponsel Maria pun kembali berdering saat melihat panggilan dari Sabrina.


Maria langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut, namun kini ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya saat mendengar suara Sabrina yang begitu nyaring di telinganya.


"Ya tuhan apakah dia benar-benar nona Sabrina yang aku kenal?" Maria bergumam menatap layar ponselnya.


Setelah beberapa saat mendengar kekesalan Sabrina kini ia pun melajukan mobilnya menuju lokasi yang sudah dikirimkan Sabrina padanya.


"Argghh ini semua karena tuan muda dingin itu, mengapa dia membawa anak-anak pergi tanpa menungguku terlebih dahulu." Maria meluapkan kekesalannya mengumpat Arga.

__ADS_1


***


Di tempat lain. Arga terus bersin-bersin hingga membuat hidung mancungnya sedikit memerah. "Damn! siapa yang sudah berani mengumpatku?!" Geram Arga yang kini mengecek hidungnya yang terasa gatal.


"Uncle apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Raina yang kini melirik ke arah Arga.


"Tidak, ayo kalian lanjutkan permainan kalian uncle akan menjaganya disini." Ucap Arga dengan penuh senyuman kini mata tegasnya pun melirik ke arah keponakan lelakinya yang begitu asyik dengan dunianya sendiri.


"Andaikan saja jika mereka anak-anakku maka mungkin aku akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini karena memiliki mu Alika." Arga menghela nafasnya perlahan mengingat masa-masa indahnya kembali bersama Alika.


Namun kenangan indah itu berganti keterkejutan saat melihat seorang wanita yang berani menarik kerah bajunya dengan sangat kasar.


"Siapa kau?"


"Siapa kamu bilang? kamu sudah menculik anak-anak dariku dan membawanya begitu saja tidak tahukah jika aku hampir gila karena mencari mereka, dan kau malah asyik melamun sambil tersenyum aneh seperti itu apakah kau sedang mengejekku?!" Maria meluapkan kekesalannya pada Arga.


"Menculik? hey mereka itu keponakan ku mana mungkin aku menculik mereka. Jelas saja jika kau pengasuhnya mengapa kau meninggalkan mereka begitu saja. Mereka keturunan Anggasta sangat berbahaya bagi mereka berada di tempat seperti itu tanpa penjagaan, karena meraka sangat berharga bahkan jika di bandingkan dengan harga dirimu."


Plakk...


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di wajah tampan Arga membuat Sabrina dan semua orang yang melihatnya begitu terkejut dengan keberanian Maria.


"Dasar pria bajingan! sangat tidak sopan!" Maria merasa sangat terluka denga ucapan Arga yang begitu kasar melukai harga dirinya sebagai seorang wanita, kata-kata tajam dan prontal yang keluar dari bibir Arga membuat Maria merasa sangat di lecehkan oleh pria itu.


"Kau sangat keterlaluan! seorang pria bermulut tajam seperti mu tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita mana pun!"


Kata-kata Maria bagaikan sebuah kutukan untuk Arga membuat pria itu terkejut saat mendengarnya.


"Kau! berani sekali kau mengatakan hal itu padaku apa kau tidak tahu siapa aku?!"


"Arga Anggasta putra kedua dari keluarga Anggasta yang pernah gagal dalam hubungan asmara, bukan begitu tuan?" Maria sedikit menekan setiap kata-katanya pada Arga.


Kini bendera permusuhan di antara keduanya pun mulai berkibar membuat suasana di tempat itu berubah mencekam.


"Jika kau bisa melukai harga diriku maka aku tidak akan segan untuk menjatuhkan harga dirimu, tak perduli siapa dirimu dan dari keluarga mana kau berasal. Karena sebuah harga diri seorang wanita adalah sebuah mahkota kehormatan baginya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2