Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 44


__ADS_3

"Waw... Ini sangat keren." Sabrina merasa sangat takjub dengan keberanian dan ketegasan seorang Mariana Renita, wanita yang akrab di sapa Maria.


Tak heran jika Alika memulihkan untuk menjadi seorang asisten pribadinya, selain pintar dan cantik dia pun memiliki kelebihan yang tak banyak orang yang tahu.


"Uncle, aku sangat kecewa denganmu! ayo kak kita pergi." Ucap Raina yang menuntun sang kakak pergi meninggalkan tempat itu dan di ikuti Sabrina di belakang nya.


"Ini semua karena ulahmu! kau sudah mengajarkan hal yang buruk pada mereka. Kau tidak pantas menjadi pengasuh mereka lihat saja aku akan mengatakan hal ini pada Alika." Sentak Arga meluapkan kemarahannya.


"Jika aku tidak pantas menjadi seorang pengasuh, lalu pekerjaan apa yang pantas untukku?" Maria tersenyum mengejek.


"Dengar tuan tak perduli dengan apa yang akan kau katakan pada nona Alika nanti, silahkan saja! Lagi pula apa hebatnya jika menjadi seorang tuan muda tapi tidak punya atitude." Maria kembali tersenyum miring mengejek Arga dan meninggalkan pria itu begitu saja.


"Dasar wanita, arrgh..." Arga mencakar dan menendang angin saat melihat wanita yang sudah merendahkan harga dirinya begitu saja.


"Lihat saja akan aku balas perbuatanmu nanti." Gumam Arga dengan senyuman penuh arti.


***


"Maria, kau sangat hebat sekali menggertak pria itu, tidak ku sangka ternyata kamu sangat pemberani juga." Seru Sabrina saat melihat Maria menghampirinya.


"Nona sangat berlebihan, saya hanya mempertahankan harga diri saya sebagai seorang wanita saja nona. Maaf karena saya sudah membuat kecerobohan hari ini, saya pastikan lain hari hal ini tidak akan terulang lagi." Maria sedikit membungkukan tubuhnya di hadapan Sabrina.


"Oh ya ampun Maria, kenapa kau selalu saja bersikap formal seperti ini, bukankah sudah ku katakan padamu anggap saja kita sahabat seperti aku dan Alika kau tidak perlu seformal ini padaku." Ucap Sabrina yang sedikit memundurkan langkahnya.


"Ah.. iya." Maria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi le rumahku membawa Rain dan Raina bersamaku kau kembalilah ke kantor dan pastikan semuanya aman."


"Baik nona." Maria mengiyakan permintaan Sabrina yang kini mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Setelah melihat mobil Sabrina semakin menjauh dari pandangannya, kini Maria pun bergegas kembali ke dalam mobilnya dan bersiap kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


***


Di tempat lain. Alika menghirup udara pedesaan yang tersa begitu menyejukan hatinya. Setelah beberapa jam berlalu, kini ia pun sampai di tempat tujuannya menatap hamparan kebun yang begitu luas membentang bak permadani.


Hembusan angin meniup rambutnya yang panjang terurai. Kaki jenjangnya terus melangkah menyururi jalan yang di penuhi lumpur, hingha sampai di tempat tujuannya.


"Ayah, ibu. Anakmu datang mengunjungi kalian." Alika meletakkan buket bunga yang ia bawa di atas pusara kedua orang tuanya.


"Ayah, ibu seperti biasa putri kalian datang untuk mengunjungi kalian dan sedikit menceritakan hal yang sudah terjadi dalam hidup ini. Ayah, ibu cucu kalian sudah besar mereka juga sudah bertemu dengan ayah kandungnya."


"Tapi, apakah ayah dan ibu tahu aku juga sudah kembali pada pria itu." Manik mata Alika pun mulai mengembun saat ia kembali mengingat suaminya menggandeng seorang wanita cantik bersamanya.


Hal itu terus terjadi berulang-ulang bagaikan kaset rusak dalam memori ingatannya membuat Alika semakin merasakan sakit didalam hatinya. "Apakah cinta sesakit ini ayah? sungguh aku tidak sanggup untuk menahan semuanya." Alika memeluk batu nisan ayahnya menumpahkan segala rasa kerinduan yang tertanam dalam hatinya.


Tanpa Alika sadari seseorang kini berdiri tak jauh darinya menatapnya dengan tatapan tak biasa.


Dengan langkah berat kakek Wirasena pun menghampiri Alika. Isak tangisnya semakin terdengar begitu pilu di telinga kakek Wirasena membuat hatinya terasa begitu tercubit.


"Nak..." Panggil sang kakek membuat Alika langsung terdiam dan melirik ke arah sumber suara.


"Kakek," Alika menghapus air matanya dan langsung berdiri menatap sang kakek dengan wajah terkejutnya.


"Maaf jika kakek menggangumu."


"Kakek sedang apa kakek disini? siapa yang bersama kakek?" Manik mata Alika mulai memindai sekitarnya dan tak terlalu mempedulikan perkataan maaf sang kakek.


"Apa kakek datang sendiri?" Tanya Alika yang kembali menatap sang kakek.

__ADS_1


"Alika, ada hal yang harus kakek katakan padamu." Kakek Wirasena menghela nafasnya perlahan walau tak mungkin, namun ia harus mengatakan hal yang tak mungkin bisa di terima oleh Alika.


"Berjanjilah padaku jangan mengatakan apapun sebelum aku menyelesaikan apapun yang akan ku ceritakan padamu nak." Kakek menatap Alika meminta persetujuannya.


Alika hanya menganggukan kepalanya tanda setuju, karena ia sendiri sangat begitu penasaran dengan apa yang akan kakek Wirasena ceritakan padanya.


"Apa yang akan kakek katakan? apakah kakek akan mengatakan tentang siapa wanita itu." Batin Alika bergumam.


"Alika sebelumnya kakek minta maaf sedalam-dalamnya karena hal itu terjadi sangat cepat, aku bahkan tidak bisa mencegah hal itu terjadi meskipun aku sangat begitu menginginkan nya."


Deggghh...


Ucapan sang kakek membuat Alika tersentak kaget dan berpikir jika hal lain sudah terjadi pada suami dan wanita yang menggandeng mesra tangan Edgar saat keluar dari dalam lift.


"Apakah ini alasan mengapa dia tak segera mempublikasikan hubungan pernikahan kami." Batin Alika terus bermonolog, bahkan ia tak mendengarkan apa yang sedang kakek Wirasena katakan saat ini.


"Sudahlah kek, mungkin aku bukan pilihan yang tepat untuk nya." Ucap Alika membuat kakek Wirasena kini mengerutkan keningnya mendengar jawaban Alika yang tak sesuai dengan apa yang sedang ia katakan.


"Apa maksudmu?" Tanya sang kakek dengan wajah bingungnya.


"Apakah kakek akan menceritakan wanita yang bersama Edgar, aku sudah tahu dan aku sudah melihatnya tadi." Jawab Alika yang semakin membuat kakek Wirasena kebingungan.


"Tapi nak aku tidak menceritakan tentang wanita itu, wanita siapa? aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Tenanglah Alika dengarkan kakek sebentar saja, kakek ingin menceritakan malam dimana ayah dan ibumu berpulang ke pangkuan ilahi."


Degggh...


Alika yang sempat terdiam dan menundukan kepalanya, menahan malu karena salah paham pada sang kakek pun kini kembali mendongkakkan wajahnya menatap wajah kakek Wirasena yang juga menatapnya dengan tatapan tak bisa di artikan.


"A-apa yang kakek tahu tentang ayah dan ibu? apakah kakek mengenal mereka?" Tanya Alika yang kini mulai di penuhi rasa penasaran dalam hatinya.

__ADS_1


"Tidak, tapi kejadian malam itu... " Kakek Wirasena menjeda ucapanya dan terus menarik nafas menetralkan rasa takut dan gugup yang tiba-tiba muncul secara bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2