Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 57


__ADS_3

Flasback.


"Sabrina.... Aku mencintai..." Teriak David di iringi suara tawa yang membuat Sabrina merasa sangat terganggu mendengar suara teriakan orang yang tak asing lagi baginya.


"Sabrina...." Panggil David kembali dengan berjalan sedikit sempoyongan, David terus mengetuk pintu rumah Sabrina dan membuat seisi rumah kini terbangun karena ulahnya.


"Siapa sih dek?" Tanya Vino menatap ke arah adiknya yang sudah terlihat masam.


"Siapa lagi kalau bukan si perusuh itu!" Kesal Sabrina yang berjalan lebih dulu untuk membuka pintu, ia ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah mengganggu tidurnya.


Ceklek..


Sabrina membuka pintu dan langsung di peluk erat oleh David. "Sabrina jangan pergi baby, aku sangat mencintaimu aku tidak rela kau bersama pria lain, tolong mengertilah perasaanku ini."


Sabrina mendorong tubuh David agar menjauh darinya. "Lepaskan! ap kau benar-benar sudah tidak waras. Mana mungkin aku mau kembali pada pria sombong dan arogan sepertimu." Ucap Sabrina dengan nada ketusnya.


Hal itu membuat David semakin mengeratkan pelukannya, terlebih saat melihat Vino membantu melepaskan pelukannya pada Sabrina.


"Hahh kakak aku bisa mati di tangan pria gila ini, tolong hubungi Alika saja. Biarkan tuan Edgar datang untuk menjemput bedebah ini."


Seperti yang Sabrina katakan kini Vino pun menghubungi sahabat adiknya dan memintanya untuk segera datang.


"Kakak, sepertinya sangat mabuk sekali." Keluh Sabrina saat mendengar gumaman tidak jelas David saat ini.


"Kak kau seorang dokter, cepat suntik dia agar menjauh dariku sungguh aku tidak kuat menahan pelukannya yang seperti lilitan ular piton."


"Tapi adik aku tidak bisa sembarangan menyuntikkan obat pada pasien, itu sangat berbahaya."


"Kenapa begitu? suntik mati pun tidak apa-apa kak dari pada aku yang harus mati karena kehabisan nafas karena ulahnya." Ucap Sabrina membuat sang kakak sangat syok mendengar ucapanya.


"Astaga adik! apa yang sedang kamu pikirkan saat ini hingga berbicara sekejam itu." Kini Vino merasa sangat frustrasi mendengar suara lengguhan yang keluar dari bibir adiknya.


"Kakak ini sangat memalukan bagiku!" Sabrina tak kuasa menahan sentuhan demi sentuhan David padanya.

__ADS_1


David terus menelusuri leher jenjang Sabrina dan meninggalkan tanda kepemilikan nya disana, membuat ibu yang baru saja terjaga dari tidurnya sangat syok melihat putrinya di lecehkan.


Sedangkan sang kakak hanya menontonnya. dengan langkah cepat ibu mengambil teko dan menyiramkannya pada David.


Ibu menarik lengan putrinya dengan sedikit kasar agar menjauh dari pria asing itu. "Berani sekali kamu menyentuh putriku? kami pikir kamu siapa!" Teriak ibu dengan penuh kemarahan.


"Hallo ibu mertua, perkenalkan saya calon menantu anda." David sedikit membungkukan tubuhnya untuk memberi hormat pada ibu Sabrina.


"Sabrina apa maksud pria ini?" Kini ibu Sabrina menatap putrinya dengan tatapan menyelidik.


"Jangan percaya bu dia,"


"Apa ini? sungguh sangat memalukan! anak gadis dengan tanda merah seperti ini? mau di simpan dimana wajah ibu ini Sabrina!" Pekik ibu dengan wajah merah padam.


"Ibu ini tidak seperti yang ibu pikirkan, tanyakan saja pada kakak." Sanggah Sabrina yang meminta pembelaan sang kakak.


"Ibu sudah melihat dengan mata kepala ibu sendiri. Kamu juga Vino kamu seorang pria, seorang kakak apakah kamu hanya akan menonton semua ini. Sungguh sangat memalukan, bagaimana jika tetangga kita melihat hal menjijikan itu lalu apa yang akan mereka pikirkan tentang keluarga kita." Dengan nafas terengah-engah menahan rasa amarah yang membuncah dalam dirinya ibu pun meluapkan segala kemarahan nya pada kedua anaknya.


Dengan tanpa rasa malu sedikit pun kini David kembali meraih tangan Sabrina dan membawa kembali kedalam pelukannya.


"Jangan marahi dia, Sabrina calon istriku ibu tidak berhak menaikan intronasi suara padanya. Bukankah hal yang wajar, jika sepasang kekasih yang saling mencintai melakukan hal itu untuk membuktikan rasa cintanya." David kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sabrina.


Membuat ibu semakin murka padanya. " Dasar anak berandal tidak tahu malu!" Dengan penuh kemarahan, kini ibu meninggal ruangan itu dan mengambil lebih banyak air untuk menyiram mereka berdua.


"Ibu.. Ibu sudahlah kita bicarakan hal ini besok saja karena percuma saja kita berbicara dengan orang mabuk." Vino berusaha untuk menenangkan kemarahan ibunya, sedangkan Edgar dan Alika mencoba memisahkan keduanya agar tidak membuat ibu Sabrina semakin murka.


"Hah... Pria macam apa seperti itu! kau harus berjanji pada ibu agar menjauhkan pria tidak sopan itu dari Sabrina." Pinta sang ibu pada putranya.


"Baiklah ibu, lebih baik sekarang ibu beristirahat saja, biarkan aku yang akan mengurus semua ini." Ucap Vino membukakan kamar sang ibu agar kembali beristirahat dan menenangkan dirinya.


Setelah selesai menenangkan sang ibu, kini Vino meraih kotak obat dan kembali ke ruang tamu dimana sepasang suami istri itu mencoba untuk memisahkan Sabrina dari pelukan erat David.


Wajah sabrina mulai memerah menahan sesak, bahkan tulangnya seakan remuk karena ulah David.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa, kini Vino pun menyuntikkan obat bius agar pria itu bisa tenang dan tak membuat kekacauan yang akan membuat ibunya kembali murka.


David mulai tak sadarkan diri karena reaksi obat bius itu sedangkan Sabrina pun tak sadarkan diri karena kehabisan nafas.


"Kita bawa mereka ke dalam kamar, aku akan mengganti pakaian pria ini dan kamu tolong ganti pakaian Sabrina." Ucap Vino yang mengangkat tubuh David di bantu Edgar.


Karena kamar Sabrina lebih dekat kini mereka pun membawanya ke dalam kamar Sabrina. Karena terlalu terburu-buru untuk memeriksa keadaan adiknya Vino pin mengganti pakaian David dengan piama milik Sabrina.


"Begini juga tidak buruk." Gumam Vino yang kini beralih melihat sang adik yang masih tak sadarkan diri di sofa.


"Terima kasih Alika kamu sudah membantu Sabrina."


"Jangan sangkan kak, kau seperti baru mengenalku saja." Ucap Alika dengan senyuman tulusnya.


Hal yanh membuat Edgar tidak suka saat melihatnya. Dengan cepat Edgar pun meraih pinggang sang istri dan mendekatkan dirinya, seolah ia mengatakan jika Alika adalah miliknya.


Vino yang mengerti pun hanya menggelengkan kepalanya dan mulai memeriksa keadaan sang adik.


Flasback End.


"Setelah membuat keributan di rumahku kau bilang tidak mungkin! sungguh pria macam apa kamu ini." Sabrina memutar bola matanya malas.


Sabrina memalingkan wajahnya ke arah lain ia masih sangat merasa kesal pada pria yang ada di hadapannya, karena David sudah menjadi penyebab utama sang ibu marah padanya.


Sejak pagi tadi ibu tak mengatakan apapun atau menjawab pertanyaan nya, ibu mengacuhkannya bahkan ibu seakan enggan menatapnya.


Kini pandangan David tertuju pada leher jenjang Sabrina, ia merasa sangat kesal melihat begitu banyak kiss mark disana.


Tangannya terkepal kuat dengan tatapannya yang terus tertuju pada pria yang berdiri di samping Sabrina. "Kurang ajar sekali beraninya kau menyentuh milikku." Geram David yang mulai melayangkan bogem mentahnya di wajah tampan Vino.


Bersamaan dengan pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang kini berdiri di ambang pintu dengan raut wajah tak bisa di artikan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2