
Edgar berkacak pinggang di hadapan sang istri yang tengah asyik makan bersama dengan sahabatnya.
"Sayang! berani sekali kamu membuatku khawatir apa kamu ingin aku mati berdiri karena terkejut. Sekarang lihatlah kamu makan apa ini." Edgar menjauhkan mangkuk berisi soto dari hadapan istrinya.
"Edgar aku sangat lapar cepat berikan makananku." Rengek Alika berusaha meraih mangkuk sotonya kembali.
"Tidak sayang luka di lehermu cukup dalam kau tidak bisa memakan makanan seperti ini sekarang!"
"Tapi aku,"
"Diam! menurut saja dengan suamimu ini. Aku akan memesankan bubur untukmu."
Alika memanyunkan bibirnya mendengar kata bubur saja membuat selera makannya langsung menghilang begitu saja.
Kini sepasang suami istri itu mulai berdebat karena saat ini Alika hanya ingin memakan soto dan tak ingin memakan yang lainnya. Namun Edgar menolaknya dan tetap meminta Alika memakan bubur peranannya.
Sedangkan Sabrina tetap pokus pada makanannya dan tak perduli dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.
Brakk
Edgar menggebrak meja membuat Sabrina terkejut dan terbatuk-batuk karena tersendak makanan nya.
"Sabrina!" Alika melirik ke arah sahabatnya yang terbatuk-batuk sampai wajahnya berubah menjadi merah merona.
"Minum dulu." Alika menepuk punggung sahabatnya secara perlahan.
"Kenapa kalian mengganggu ketenangan saat makan! tidak tahukah kalian jika aku sudah sangat kelaparan sejak tadi. Sekarang, kalian berdua pergilah jauh-jauh dariku." Kesal Sabrina yang kembali melanjutkan aktivitas mengisi perutnya mengusir Edgar dan Alika tanpa rasa takut sedikit pun.
"Apa dia mengusirku?! berani sekali kau mengatakan hal itu padaku dan istriku apa kau,"
"Sudahlah ayo biarkan dia makan." Alika menarik tangan suaminya meninggalkan Sabrina.
"Sayang dia sudah sangat kurang ajar tadi apa kau akan diam saja tak mengatakan apapun." Edgar menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan istrinya saat ini.
"Bukan doa, tapi kamu yang membuat suasana menjadi kacau." Kesal Alika yang membuat sang suami melirik tajam ke arahnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Alika dengan wajah gugup saat melihat sang suami kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?!" Tanya Alika yang terus memundurkan langkahnya.
__ADS_1
"Aku sangat lapar ingin merangsa mu." Ucap Edgar membuat Alika bergidik ngeri menatap sorot mata elang suaminya.
Alika menahan dada bidang Edgar yang kini semakin mendekat dan menghimpitnya ke dinding. "Edgar ini bukan waktu yang tepat jadi tolong jangan lakukan apapun. Ahh..." Alika menjerit karena terkejut saat tubuhnya melayang.
"Edgar lepaskan aku, aki bisa berjalan sendiri."
"Ckkk... Kenapa kau berisik sekali seperti baru pertama kalinya saja kita melakukan hal ini."
Ucapan Edgar membuat Alika terdiam seketika dan memanyunkan bibirnya menahan malu.
"Aku memang bukan anak perawan lagi tapi apakah harus dia mengatakan hal seperti itu padaku." Geram Alika membatin.
Edgar menurunkan sang istri di brankar pasien tempat ia beristirahat, kemudian tangan besarnya menyelus lembut wajah sang istri.
Terlihat jelas di mata Edgar luka yang terbalut kasa di leher istrinya itu kembali mengeluarkan cairan merah, namun ia merasa heran mengapa istrinya tak mengeluhkan hal itu padanya.
"Apa ini sakit?" Tanya Edgar mengusap luka di leher sang istri.
"Tidak!" Jawab Alika singkat padat dan jelas, membuat Edgar langsung menatap wajah sang istri dengan wajah tak percaya.
"Apa kau yakin?" Edgar sedikit menekan luka tersebut membuat Alika kini mengaduh kesakitan.
Edgar bernafas lega bahwa apa yang ada di pikirannya itu salah.
"Dasar pria aneh sudah tahu luka dan sakit tapi masih tega menekannya." cerocos Alika dengan penuh kekesalan, sedangkan Edgar hanya terkikik geli melihat ekspresi menggemaskan istrinya.
Edgar menarik tangan Alika dan membawanya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku sayang, aku pikir setelah terluka kau berubah menjadi wanita super."
"Ckk... Kau pikir aku Darna! sudahlah pergi sana aku ingin beristirahat dan jangan ganggu aku." Alika mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.
Namun tanpa ia duga Edgar menangkup kedua pipinya dan melahap bibirnya dengan penuh kelembutan. Hal yang selalu membuat Alika terbang melayang, kini lidah mereka pun saling membelit bertukar saliva membuat orang yang berada di ambang pintu menatap mereka dengan wajah terkejut.
"Astaga aku tidak melihat apapun." Ucap Sabrina yang langsung memutar tubuhnya berbalik untuk meninggalkan ruangan penuh gairah itu.
Bugh...
Sabrina mengaduh saat hidung mancungnya menatap dada bidang seseorang yang kini berdiri mematung di hadapannya.
Sabrina menegahkan kepalanya melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya. "Kau lagi, hmmm..." Tangan besar langsung membukanya agar tidak menimbulkan suara berisik yang akan mengganggu penghuni ruangan itu.
__ADS_1
"Lepaskan!" Sabrina menghempaskan tangan David dengan sedikit kasar.
"Kenapa kamu mengintip mereka yang sedang berciuman?" Tanya David dengan tatapan penuh selidik.
"Mengintip? hello, kau pikir aku apa! enak saja kau berbicara sembarangan." Sanggah Sabrina tak terima.
"Lalu jika bukan mengintip sedang apa kamu disana?"
"Tentu saja aku, ishhh... kenapa kau ingin tahu apa yang sedang aku lakukan. Lagi pula siapa dirimu yang harus aku beri penjelasan." Jawab Sabrina dengan nada ketusnya.
Mendengar jawaban Sabrina membuat David sedikit terpancing emosi dan mengunci tubuh Sabrina di dinding. "Kenapa kau bersikap ketus dan arogan padaku dan bersikap manis dan lembut pada orang lain."
"Kenapa? kamu tidak terima? lagi pula siapa kamu berharap aku bersikap lembut dan manis padamu! aku, mhhhm..." Kata-kata Sabrina terhenti saat David menciumnya secara paksaan.
Karena terus merasa di lecehkan oleh mantan kekasihnya membuat Sabrina mendorong tubuh David dengan sekuat tenaga, kini ia pun melemparkan bubur yang ada di tangannya ke arah David.
"Kamu keterlaluan! kamu pria bajingan!" Ucap Sabrina dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca kini meninggalkan David yang sudah berlumur bubur.
"Sabrina! ahhh... sial! kenapa juga aku harus perduli dengannya." David mulai menyingkirkan bubur yang memenuhi tubuhnya.
"Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku saat bersamanya, hubungan kami dulu hanya sebuah formalitas pekerjaan tapi mengapa hatiku seakan tak bisa jauh darinya." David terus bergumam menatap pantesan wajahnya di cermin toilet rumah sakit.
"Apakah ini yang di namaku karma karena sudah mempermainkan hati seseorang yang begitu tulus me cintai kita, hal itu pun terjadi pada tuan muda." David menghela nafas panjang dan mulai mencuci kemejanya yang sangat kotor karena noda bubur.
****
"Argghh.... Dasar pria bajingan! aku sangat kesal sekali padanya, rasanya aku ingin sekali mencekiknya saat ini." Keluh Sabrina terus mengumpat mantan kekasihnya.
Sabrina terus memukuli gulingnya dan berpikir jika itu adalah David. "Rasakan ini," Sabrina meluapkan kekesalan dan kemarahan nya pada David melalui sebuah guling.
"Sabrina..." Suara ketukan pintu dan sang ibu menyadarkan Sabrina dari aktivitasnya saat ini.
"Sabrina ada tamu yang mencarimu nak." Ucap sang ibu sedikit berteriak memanggil putrinya.
"Iya bu, aku datang." Jawab Sabrina yang langsung bergegas untuk membuka pintu kamarnya.
Namun kini langkahnya terhenti saat melihat jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam. "Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini, apaka dia pria tidak waras itu datang dan ingin meminta maaf. Cihhh... Tidak! aku tidak mau keluar menemuinya." Sabrina bersedekap dada dan kembali duduk di atas ranjangnya dan bersiap untuk tidur.
"Biarkan saja dia menungguku sampai tahun jerapah di mulai." Gumam Sabrina yang kini menutupi telinganya dengan bantal agar ia tidak bisa mendengar suara apapun saat ini.
__ADS_1
Bersambung...