Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 15


__ADS_3

Sepasang mata Alika terus tertuju pada dua makhluk kecil yang tengah asik bermain dengan penuh keceriaan, membuat senyuman di bibir Alika pun tak pernah pudar menghiasi wajah nya yang semakin cantik.


Enam tahun sudah Alika meninggalkan kota dan semua kenangan dalam hidupnya. Setelah meninggalkan mansion Anggasta Alika berpikir untuk tinggal di desa.


Namun ia merasa tidak aman dan memilih untuk menjual harta peninggalan kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan, demi menggapai cita-citanya dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk putra-putrinya.


Setelah merasakan sakit hati yang begitu dalam karena pengkhianatan dari orang-orang yang ia cintai, harta, jabatan dan kehidupan yang damai adalah tujuan utama dalam hidupnya.


Namun tidak mudah bagi Alika untuk mendapatkan semua hal itu tapi semangatnya tak pernah padam, hingga akhirnya ia pun bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidupnya.


Alika menjadi seorang desainer terkenal namun ia menyembunyikan identitas aslinya demi keamanan si kembar Rain dan Raina.


"Anak-anak ayo sudah mainnya kita makan dulu." Ajak Alika yang langsung di turuti oleh Kedua anaknya.


"Bunda apa setelah makan Raina dan kak Rain boleh bermain kembali?" Tanya Raina si gadis kecil yang ceria dan menggemaskan.


"Aku sudah bosan kau main saja sendiri." Sahut Rain bocah laki-laki yang cuek dan dingin, tak hanya wajah namun sikapnya pun sangat mirip dengan Edgar yang membuat Alika tak bisa melupakan suami kontraknya itu.


"Tapi kak, Raina masih ingin bermain dengan kakak masih banyak permainan yang belum kita mainkan di sini." Raina memohon agar sang kakak mau menuruti keinginannya, namun Rain terlihat cuek dan acuh pura-pura tak mendengar rengekan adiknya.


Alika hanya menghela nafasnya perlahan dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan putra-putrinya.


"Raina, kak Rain sudah lelah kita lanjutkan besok saja, sekarang habiskan makanan kalian dan kita pulang bukankah besok kalian pergi sekolah." Ucap Alika menengahi perdebatan di antara putra-putrinya.


"Tidak bunda Raina na tidak mau pergi sekolah karena teman-teman sangat nakal dan tidak sopan." Raina memanyunkan bibirnya dengan tangan besedekap dada.


"Hei gadis kecil jangan membuat bunda pusing dengan drama mu itu ayo cepat makan ini." Dengan cepat Rain menyuapi adiknya sampai mulutnya penuh dan tak bisa berbicara lagi.


Rain melakukan hal itu karena ia tak ingin jika bunda mereka merasa sedih karena celotehan konyol adiknya.

__ADS_1


Alika mengerutkan keningnya menatap kedua malaikat kecilnya yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Rain, Raina apakah ada sesuatu yang kalian berdua sembunyikan?" Tanya Alika dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak ada bunda dia gadis konyol penuh dengan drama jadi bunda tidak perlu percaya ucapan konyolnya." Rain berusaha untuk meyakinkan sang bunda agar percaya dengan kata-katanya.


"Baiklah kalau begitu, ayo habiskan makanan kalian." Alika mengusap kepala putrinya dengan lembut.


Kini Rain dan Raina pun menuruti apa yang di perintahkan oleh sang bunda mereka memakan makanan nya desilingi canda dan tawa membuat Alika kembali tersenyum.


"Andaikan dulu jika Edgar tahu tentang keberadaan mereka, mungkin saja aku tidak akan pernah melihat momen indah ini dan entah bagai mana dengan hidupku. Demi mereka aku hidup dan karena mereka juga aku berada di titik ini. Rain, Raina kalian adalah segalanya bagiku."


Tanpa sadar Alika meneteskan air matanya hal itu terlihat jelas di mata si kembar Rain dan Raina.


"Bunda kenapa bunda menangis?" Tanya Rain yang langsung menghampiri sang bunda, begitu juga dengan Raina yang langsung terlihat sedih dan merasa bersalah.


"Sayang, putra-putri bunda. Bunda tidak menangis karena hal itu bunda hanya terkena angin dan mengeluarkan air mata, kalian adalah anak-anak terbaiknya bunda." Alika memeluk putra-putrinya dengan sangat erat berusaha menenangkan kesedihan Twins R.


***


Setelah drama selesai kini mereka pun sudah berada di rumah dan bersiap untuk beristirahat. Seperti biasa Alika selalu membacakan dongeng pengantar tidur hingga putra-putrinya tertidur pulas.


"Ada kalanya sebuah dongeng menjadi kenyataan." Gumam Alika yang kini menutupi buku dongeng pengantar tidur dan keluar dari kamar Twins R setelah mematikan Lampunya.


Alika mulai mengerjakan kembali tugas-tugasnya hingga larut malam mulai menyiapkan desain terbarunya untuk pameran, karena tak hanya uang yang akan ia dapatkan tetapi Alika akan mendapatkan ketenaran dan popularitas nya dalam jajaran desainer berbakat.


"Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." Gumam Alika yang kini menatap desain yang sudah ia buat dengan wajah sangat begitu bersemangat.


***

__ADS_1


Di mansion Anggasta. Edgar menatap langit malam yang bertabur bintang dengan meniupkan asap rokok ke udara.


Tatapan tajam namun penuh dengan kehampaan hatinya terasa begitu kosong sejak enam tahun berlalu ia terus berjuang berusaha mencari keberadaan istrinya, namun ia tak pernah bisa menemukan keberadaan Alika.


Karena itulah setiap malam di balkon kamarnya Edgar akan berdiri menatap langit dan terus meneriakan nama Alika.


"Aku tidak pernah merasakan cinta sedalam ini pada seorang wanita namun dirimu berbeda Alika, kau bisa membuatku merasakan jatuh cinta dalam waktu yang singkat dan kau juga bisa membuatku merasakan sakitnya ditinggalkan dan penyesalan yang tak berujung. Enam tahun sudah ku mencarimu namun kau bagaikan di telan bumi. Alika apakah kau benar-benar tidak bisa memberikan kesempatan kedua padaku?" Edgar terlihat sangat begitu rapuh karena kehilangan jejak Alika sampai saat ini.


Begitu pun dengan Arga yang selalu memperhatikan sang kakak dari kejauhan, ada rasa tak tega melihat kondisi kakaknya yang sangat begitu rapuh karena kehilangan cintanya. Namun ia selalu bersikap seakan tak perduli karena bukan hanya Edgar, ia pun sama merasakan sakitnya.


Arga sangat begitu marah pada Edgar setelah ia tahu jika hubungan nya berakhir karena skenario kakaknya, bahkan ia sangat membenci dirinya sendiri karena ia pun ikut terlibat dalam semua yang menyebabkan Alika pergi.


Namun nasi sudah menjadi bubur semua yang telah terjadi tidak dapat kembali seperti sedia kala. Arga hanya berharap jika suatu hari ia bisa bertemu dengan Alika dan meminta maaf atas segalanya.


***


"Tuan muda," David masuk ke dalam kamar Edgar dan menghampirinya untuk memberikan informasi penting.


"David apakah membawa kabar baik untukku? Tanya Edgar tanpa menatap wajah asisten pribadinya.


"Tuan kita mendapatkan,"


"Apakah kau sudah menemukan istriku David? dimana dia? apakah dia baik-baik saja?" Tanya Edgar yang langsung memotong ucapan David.


David menggelengkan kepalanya membuat semangat Edgar kembali meredup. "Setelah bertahun-tahun aku bekerja bersama tuan Edgar, inilah pertama kalinya aku melihat sisi lain yang berbeda darinya." Gumam David lirih.


"Nona Alika dimana kau berada saat ini?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2