Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 28


__ADS_3

Alika menghela nafas perlahan dengan tatapannya masih tertuju pada pria tua di hadapannya.


"Aku mengaku bahwa aku masih mencintainya sampai saat ini kek, tiga tahun bersama Arga aku bisa dengan mudah melupakannya namun tuan Edgar, hanya tiga bulan bersamanya butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk melupakannya." Alika menjeda sejenak ucapanya meminum air yang di berikan sang kakek beberapa saat lalu.


"Jika masih cinta kenapa kalian tidak bersama, pikirkan juga tentang anak-anak kalian mereka masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa." Ucap kakek Wirasena menghentikan kegiatan Alika.


"Kakek jangan salah paham padaku, karena rasa benciku juga sama bersarnya seperti rasa cinta yang ku rasakan untuknya." Ucap Alika yang langsung masuk di telinga Edgar yang masih setia mendengarkan percakapan di antara mereka.


Seketika Edgar langsung berdiri tegak dan tersenyum bahagia mendengar semua perkataan Alika. "Itu artinya aku masih bisa mendapatkan nya kembali."


"Aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta itu kembali dan membuang rasa bencimu padaku Alika Maheswari." Ucap Edgar dengan penuh semangat.


"Kau menang kak, dan aku yang kalah. Cinta yang terjalin selama tiga tahun lamanya kalah pada cinta palsu yang hanya tiga bulan saja." Ucap Arga yang kini berdiri tak jauh darinya.


Edgar tidak tahu sejak kapan adiknya berdiri disana. Namun ia tak terlalu peduli karena saat ini ia hanya akan pokus untuk mengejar cinta istrinya kembali.


"Alika kau adalah cinta tak terduga dalam hidupku, hanya kau yang mampu memporak porandakan isi hatiku. Terima kasih kau masih menyimpan rasa cinta untukku." Edgar merasa sangat bahagia.


"Ingatlah jika kau mengulangi kesalahanmu untuk kedua kalinya aku tidak akan segan-segan untuk membawanya pergi jauh darimu." Ucap Arga membuat Edgar langsung terdiam dan berbalik menatap ke arah adiknya.


"Kau tidak perlu khawatir tentang hal ini adik, karena aku sangat mencintai kakak iparmu dan aku tidak akan membiarkannya kembali terluka karena cintaku, tapi sebaliknya aku akan membuatnya bahagia dan menjadikannya seorang ratu di dalam hatiku." Ucap Edgar penuh keyakinan.


"Aku berharap kau tidak mengingkari janjimu kak." Kini Arga pun mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan mansion kedua.


"Ikhlas adalah jalan yang terbaik untukku." Gumam Arga membatin.


Wajah Edgar tampak berseri bahagia membayangkan masa depan yang indah bersama dengan Alika dan twins R. Namun kini senyuman itu tenggelam bergantikan wajah terkejut saat mendengar teriakan Alika yang begitu histeris berteriak memanggil namanya.


"Ada apa dengannya?" Tanpa pikir panjang Edgar pun langsung masuk ke dalam ruangan. Edgar terkejut melihat sang kakek sudah tergelatak di lantai sedangkan Alika berusaha untuk terus menyadarkannya.


"Kakek! Alika apa yang terjadi pada kakek Wira?"

__ADS_1


"Entahlah aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia terjatuh dan tak sadarkandiri." Alika menggelengkan kepalanya terus menangis merasa panik dan ketakutan secara bersamaan.


Mendengar suara riuh kini semua yang ada di mansion kedua pun mulai berdatangan untuk melihat apa yang sudah terjadi


"Tuan Edgar aku benar-benar tidak melakukan apapun pada kakekmu." Alika terus menangis ia sangat takut jika Edgar akan menyalahkan dirinya atas apa yang sudah kakek Wirasena alami saat ini.


"Kita bahas masalah ini nanti kita bawa kakek ke rumah sakit sekarang juga." Ucap Edgar yang langsung mengangkat tubuh tua itu sedikit berlari membawanya masuk ke dalam mobil Arga.


"Aku akan akan mengikuti kalian di mobil yang lain." Ucap Alika yang langsung masuk ke dalam mobilnya bersama dengan sahabat dan kedua anaknya.


"Semoga saja tidak terjadi apapun pada kakek Wirasena karena aku." Gumam Alika yang kini melajukan mobilnya mengikuti mobil Edgar.


"Bunda ada apa dengan kakek keren itu?" Tanya Raina dengan wajah polosnya.


"Bunda tidak tahu sayang."


"Memangnya kenapa pria tua itu bisa ngek aku lihat tadi dia baik-baik saja." Ucap Sabrina berceloteh.


"Entahlah aku juga tidak tahu, hanya saja aku," Alika menjeda ucapanya melirik sekilas pada Sabrina.


"Aku hanya mengatakan jika aku tidak bisa bersama Edgar, aku tidak ingin hatiku kembali terluka Sabrina kamu mengerikan apa maksudku." Alika terlihat begitu cemas menghadapi kenyataan dalam hidupnya.


"Iya aku mengerti tapi apakah hanya itu saja yang kamu katakan pada pria tua itu?" Sabrina sedikit tidak percaya dengan perkataan sahabatnya.


"Sabrina apa kamu tidak percaya padaku?" Alika menepikan mobilnya dan melirik takam ke arah Sabrina yang mulai cengengesan.


"Sabrina!"


"Astaga telingaku sakit sekali." Keluh Sabrina memegangi telinganya yang terasa berdenging karena teriakan Alika.


"Kau itu sahabatku atau musuhku? kenapa kau tidak percaya padaku!"

__ADS_1


"Santai Al tadi hanya bertanya kenapa kamu harus marah." Sabrina mencoba untuk menenangkan Alika agar tidak tersulut emosi di hadapan anak-anak.


Alika menarik nafasnya secara perlahan dan menghembuskannya ia terus mengulangi hal itu sampai dirinya benar-benar merasa tenang.


"Maaf."


"Kau tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah bestie tenanglah semuanya akan baik-baik saja." Ucap Sabrina yang kini memeluk Alika untuk menguatkannya.


"Bunda, apakah kami masih punya ayah? kenapa bunda tidak mengatakan hal ini sejak awal? kenapa bunda menyembunyikan nya dari kami dan bunda juga berbohong pada kami jika ayah sudah pergi ke surga." Raina menatap Alika dengan gurat wajahnya yang penuh dengan kekecewaan.


"Maaf sayang bunda tidak bermaksud begitu."


"Tetap saja bunda sudah berbohong! bukankah bunda sendiri yang mengatakan jika berbohong itu tidak baik, tapi kenapa bunda sendiri bohong pada kami?" Ucap Raina dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatap Alika.


Sedangkan Rain hanya diam tanpa berbica sepatah katapun menatap jalanan yang terlihat sangat ramai.


"Maaf nak bunda tidak bermaksud begitu tapi ada hal yang tidak kalian mengerti untuk saat ini. Percayalah bunda hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kalian berdua." Alika berusaha untuk menjelaskan kepada putrinya dan membujuknya agar tidak bersedih karena hal itu.


Namun Raina yang terlanjur kecewa pun tak menggubris ucapan sang bunda. "Raina kesal sama bunda!" Ucapnya yang kini mulai memanyunkan bibirnya.


"Kamu tenang saja Al aku akan mencoba untuk membujuk mereka." Sabrina mengedipkan sebelah matanya.


Alika tersenyum kaku dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit untuk melihat keadaan kakek Wirasena saat ini.


"Aku tidak menyangka jika akhirnya akan serumit ini." Alika menatap kedua anaknya melalui kaca spion hatinya merasa sangat takut jika kedua anaknya akan membencinya karena hal ini.


Setelah beberapa saat berkendara kini ia pun sampai di rumah sakit dan berjalan menuju ruangan kakek Wirasena.


Alika tersenyum dan mulai meraih tangan putrinya namun Raina lebih memilih berjalan bersama Sabrina, begitu pun dengan Rain.


"Baiklah! tidak masalah jika kalian berdua marah pada bunda untuk saat ini, tapi bunda mohon jangan terlalu lama." Alika berusaha untuk tersenyum dan mengusap lembut kepala Rain dan mencuil gemas pipi Raina yang terlihat lebih berisi di bandingkan dengan Rain.

__ADS_1


"Alika kau sudah datang! ayo cepatlah kakek ingin bertemu denganmu." Edgar terlihat sangat begitu panik dan cemas menarik tanga Alika masuk ke dalam ruangan sang kakek.


Bersambung...


__ADS_2