Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 22


__ADS_3

"Katakan padaku kenapa kau berbohong padaku jika kau tidak tahu keberadaan nona Alika di setiap aku bertanya padamu?!" David mencengkram lengan Sabrina dengan erat.


Sabrina tersenyum miring menatap tangan besar David dan menepisnya dengan sangat kasar. "Untuk apa aku memberi tahu mu, apa untuk menyakitinya kembali?" Sabrina memutar bola matanya malas dan berbalik meninggalkan David yang masih berdiri di tempatnya.


"Sabrina!" Bentak David yang langsung membuat langkah Sabrina terhenti seketika, lalu berbalik kembali menatap wajah tampan mantan kekasihnya.


"Kenapa kau terus memanggil namaku, apa kau tidak bisa melupakan aku tuan asisten." Sabrina menarik dasi milik David agar mendekat ke arahnya, kini wajah mereka pun hanya berjarak satu centi membuat David mulai merasa gugup saat melihat bibir merah Sabrina.


"Apa yang kau pikirkan?!" Sabrina mendorong tubuh David dengan kekuatan penuh lalu meninggalkan nya begitu saja.


"Aku tidak akan pernah terjebak lagi dengan siasat liciknya apa dia pikir aku masih bodoh seperti dulu." Sabrina mengibaskan rambutnya memakai kacamata dan berjalan sedikit terburu-buru untuk mencari keberadaan sahabat dan twins R.


***


Alika mengerjapkan matanya saat merasakan tangan besar menyentuh dan menggengam erat tangannya.


"Istriku kamu sudah bangun rupanya, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu." Edgar memeluk tubuh Alika dengan erat.


"Istri?" Alika tersenyum miring dan terus berusaha untuk melepaskan pelukan Edgar agar menjauh darinya.


"Sayang aku mohon tenanglah kita bisa bicarakan hal ini dengan cara baik-baik." Edgar semakin mengeratkan pelukannya dan mencoba menenangkan kemarahan Alika.


"Omong! kosong lepaskan aku." Alika tidak peduli dengan perkataan Edgar, hatinya merasa sangat cemas dan terus tertuju pada twins R yang kini entah dimana.


"Sayang tenanglah semuanya akan baik-baik saja, biarkan aku memelukmu sejenak untuk melepaskan rasa rindu yang sudah menyiksaku selama enam tahun ini." Ucap Edgar yang tak berniat sedikit pun untuk melepaskan pelukannya.


"Lepaskan aku! dimana kau sembunyikan anak-anakku?!"


"Kamu tenang saja mereka ada di tempat yang sangat aman dan baik-baik saja." Jawab Edgar yang kini memberikan sebuah kecupan manis di kening Alika.


"Hentikan!" Alika mengusap bekas kecupan Edgar. Kini ia pun mulai menatap Edgar dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Katakan dimana mereka! apa kau menyakiti mereka?! Edgar Anggasta aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk menyentuh dan menyakiti anak-anakku!" Alika menarik kerah baju Edgar dan mendorongnya ke dinding.


"Katakan apa mereka anak-anakku Al?" Tanya Edgar penuh harap.


"Tidak! mereka hanya anakku aku mohon jauhi mereka dan biarkan aku hidup dengan tenang, jangan sakiti mereka adalah hidupku aku tidak akan sanggup tanpa mereka. Bukankah kau tidak menginginkan anak dariku jadi aku mohon lepaskan aku dan biarkan kami pergi." Alika terduduk lemas dan bersimpuh di kaki Edgar dan berharap Edgar tidak akan menyakiti putra-putrinya.


"Apa maksudmu Alika? aku bahkan tidak tahu jika kau sedang mengandung anakku, enam tahun aku mencarimu tapi kau sangat begitu cerdik bersembunyi dariku." Edgar kembali menarik Alika kedalam pelukannya.


Alika terdiam membisu saat mendengar ucapan Edgar namun ia tidak mudah percaya begitu saja, karena kenyataanya ia pernah mendengar kata-kata menyakitkan itu langsung dari mulut Edgar beberapa tahun lalu.


"Bunda.." Panggilan kedua anaknya membuat Alika kini mendorong tubuh Edgar dan beralih memeluk Rain dan Raina.


"Anak-anak apa kalian baik-baik saja?" Tanya Alika dengan penuh kekhawatiran.


"Bunda kita baik-baik saja iya kan kak?" Jawab Raina yang langsung di angguki oleh sang kakak.


"Bunda, kenapa bunda menangis?" Rain mengusap air mata sang bunda kemudian menatap ke arah Edgar yang juga menatap ke arahnya.


"Syukurlah, ayo sekarang kita pulang." Ajak Alika menuntun kedua anaknya untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu, namun dengan cepat Edgar mencegahnya dan sedikit membisikan ancaman pada Alika.


"Jika kau ingin pergi, silahkan saja tapi tidak dengan anak-anak kita." Ucap Edgar yang kini menghalangi jalan Alika.


"Sudah aku katakan padamu mereka hanya anak-anakku." Alika menekan setiap kata-katanya.


"Terserah! ini rumahku dan siapapun yang datang atau pergi harus sesuai dengan izinku." Edgar mengangkat bahunya acuh. Tak peduli dengan raut wajah Alika yang semakin membencinya.


"Ini adalah jalan yang terbaik agar kau dan anak-anak kita tetap berada disini, maafkan aku Alika, aku sudah menorehkan begitu banyak luka di hatimu." Batin Edgar bermonolog.


"Anak-anak apakah ayah boleh berbicara berdua bersama bunda, kalian berdua mainlah dan lihatlah kamar baru kalian." Ucap Edgar yang kini memberikan kode pada pengawalnya.


"Aku tidak ingin berbicara apapun denganmu biarkan aku pergi dari tempat ini." Ucap Alika yang menahan putra-putrinya agar tidak pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


"Sayang mengertilah kita perlu bicara sebentar saja untuk menyelesaikan masalah ini, aku tidak ingin karena hal ini kita mempertaruhkan masa depan anak-anak kita." Edgar mencoba untuk memberikan pengertian kepada Alika.


"Sudah aku katakan meraka hanya anak-anakku." Alika tidak menyetujui keinginan Edgar dan tetap berusaha ingin pergi meninggalkan tempat itu.


"Alika," Edgar mencoba meraih tangan Alika, namun dengan cepat ia menepis tangan Edgar dan menatapnya dengan penuh kebencian.


"Cukup! Sudah cukup tuan Edgar Anggasta, berhenti bersikap seolah kau sangat mencintaiku dan menginginkan anak-anakku! bukankah kau pernah mengatakan enam tahun yang lalu bahwa kau tidak sudi memiliki keturunan dari wanita sepertiku?!" Alika berteriak histeris meluapkan segala kesedihan dan kemarahan yang terpendam dalam hatinya selama ini.


Edgar meraih tubuh Alika agar pengawal segera membawa twins R keluar dari ruangan itu, Edgar tidak ingin jika anak-anaknya melihat pertengkaran di antara mereka yang bisa membuat mental Rain dan Raina tertekan karena hal ini.


"Bunda..." Raina menatap dang bunda dengan penuh kesedihan namun sang pengawal berusaha untuk memenangkan nya dan membawa kedua anak itu keluar dari ruangan tersebut.


"Aku sudah menderita Edgar! aku sudah menderita seperti yang kau inginkan semua cacian hinaan dan cemooha buruk tentang diriku semua sudah ku dengar, apakah itu belum cukup membuatmu merasa puas dan senang." Alika terduduk lemas di atas lantai begitu pun dengan Edgar yang kini terlihat sangat begitu menyesali semua perbuatan nya dimasa lalu.


Edgar tak menyangka jika permainan nya untuk menjauhkan Alika dari Arga karena ia anggap sebagai benalu, yang hanya memanfaatkan cinta dan kepolosan adiknya akan berujung penyesalan yang teramat dalam dalam hidupnya.


Rasa sakit dan penderitaan yang Alika rasakan karena ego dan kesombongan nya membuat Edgar sadar bahwa dirinya sudah sangat jauh menyakiti Alika. Namun kini Edgar berharap jika Alika akan memaafkan nya dan mengampuni segala kesalahannya di masa lalu.


"Alika izinkan aku menembus semua kesalahanku dan kembalilah padaku, aku akan pastikan bahwa hanya akan ada kebahagiaan di antara kita." Edgar menatap mata Alika dan berharap jika Alika akan mempertimbangkan keputusan nya.


"Aku mohon demi anak-anak kita." Ucap Edgar kembali.


Alika hanya terdiam dan mencerna kata-kata yang Edgar ucapkan padanya, harinya merasa sangat senang namun ia kembali menepis semuanya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Edgar menangkup kedua pipi Alika dan mendaratkan bibirnya memberikan sebuah ciuman manis yang sudah lama ia rindukan. Alika berusaha menolak ciuman yang di berikan Edgar padanya, namun Edgar semakin memperdalam ciuman nya membuat Alika kesalahan menghadapi serangan Edgar.


Brakkk...


Bughh... Arrghhh...


Suara gebrakan pintu terbuka bersamaan dengan suara rintihan Edgar pun terdengar memenuhi ruangan, membuat semua pengawal yang ada di rumah itu pun kini datang dan menodongkan senjatanya pada Alika.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2