
Alika masuk kedalam kamar ke dua anaknya dengan senyuman mengembang, ia merasa sangat bahagia dengan apa yang telah terjadi beberapa saat lalu.
"Sepertinya ini tidak buruk." Gumam Alika lirih perlahan ia pun mengusap bekas kecupan Edgar di bahunya dengan perasaan aneh.
Alika mulai memutar tubuhnya dengan senyuman mengembang membuat Rain dan Raina menatap penuh tanya saat melihat tingkah aneh sang bunda.
"Bunda apa bunda baik-baik saja?" Tanya Rain yang langsung membuat Alika tersadar dari tingkah konyolnya.
"Mhhh... Itu, ahh bunda baik-baik saja, bunda lupa sesuatu." Alika keluar dari dalam ruangan itu dengan wajah memerah menahan malu.
"Bodoh! kenapa bisa salah masuk kamar, ckkk ini semua karena tuan pemaksa itu." Alika menonyor keningnya sendiri menyalahkan Edgar.
"Manis sekali." Gumam Edgar yang kini berdiri di balik dinding mendengarkan semua umpatan istrinya.
Dengan senyuman mengembang kini ia pun mengikuti langkah istrinya masuk kedalam kamar mereka.
***
"Kakek keluarlah! semuanya sudah aman." Ucap Rain yang kini meminta sang kakek keluar dari tempat persebunyiannya.
Raina menutup kembali pintu kamarnya setelah memastikan sang bunda benar-benar pergi dari kamarnya. "Kak bunda dan ayah sudah masuk ke kamarnya lalu kita harus apa?" Tanya Raina yang kini meminta pendapat sang kakak.
"Bagaimana kek?" Rain berbalik meminta pendapat sang kakek karena ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk mempersatukan kedua orang tuanya.
"Hmm... Biar kakek pikirkan terlebih dahulu." Kakek Wirasena pun mulai memikirkan sesuatu untuk membuat cucunya bersatu dan kembali, dan memberikan cicit yang begitu banyak untuknya agar hidupnya semakin menyenangkan.
"Kakek kenapa kakek diam saja apa kakek sudah mendapatkan sebuah ide?" Tanya Raina yang mulai tidak sabar menunggu sang kakek berpikir.
"Ya kakek sudah mendapatkan ide yang bagus!" Kakek Wirasena tersenyum penuh arti.
"Apa itu?!" Tanya Rain dan Raina bersamaan.
"Kita kirim saja kedua orang tua kalian pergi bulan madu." Ucap sang kakek dengan wajah sumringahnya.
"Bulan madu? apa itu kek?" Rain terlihat sangat begitu penasaran dengan apa yang kakek Wirasena katakan.
"Kau masih kecil tidak akan tahu bagaimana orang dewasa menyelesaikan masalah." Jawab sang kakek yang kini mengacak rambut Rain dengan gemas.
"Ckk... Aku tidak ingin dewasa dengan cepat, orang dewasa selalu saja punya masalah aku ingin seperti ini saja semuanya terasa menyenangkan!" Ucap Rain yang kini merapihkan kembali tatanan rambutnya.
__ADS_1
"Kau sama saja seperti ayahmu!"
"Tidak! aku sama seperti bunda." Ucap Rain dengan wajah datarnya.
Kakek Wirasena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menatap Edgar persi kecil, kemudian ia melirik ke arah Raina yang terlihat kebingungan melihat perdebatan di antara mereka berdua.
"Dan dia terlihat begitu polos sama seperti Alika." Gumam kakek Wirasena membandingkan twins R dan kedua orang tuanya.
***
Di tempat lain. Sabrina dan Maria tengah disibukan dengan pekerjaannya masing-masing-masing, karena sudah beberapa hari Alika tidak masuk ke kantor seperti biasanya.
"Maria bagaimana ini, kita tidak bisa menyelesaikan ini hanya berdua saja kita membutuhkan Alika karena hanya dia yang tahu cara mengatasinya." Ucap Sabrina yang terlihat sangat lesu karena kurang beristirahat.
"Entahlah, nona Alika tidak bisa dihubungi dan asisten suaminya melarangku agar tidak menemui nona Alika untuk sementara waktu."
"Apa?!"
Brakk
Sabrina menggebrak meja membuat Maria terlonjak kaget karena ulah bar-barnya.
"Nona Sabrina anda mau kemana?" Tanya Maria dengan wajah penuh kebingungan.
"Kau tenang saja Maria aku akan segera kembali." Ucap Sabrina tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa dengan nona Sabrina mengapa aku merasa dia sangat sensitif sekali dengan asisten tuan Edgar." Maria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Sabrina melajukan motornya dengan kecepatan sedang dengan lihainya ia menyalip mobil-mobil besar seperti menantang maut.
"Dasar pria gila berani sekali dia melarang kami untuk bertemu dengan Alika memangnya siapa dia, karena ulahnya beberapa hari ini aku tidak bisa tidur dengan tenang harus mengerjakan ini dan itu. Lihat saja akan aku patahkan tulang-tulangnya." Sabrina terus menggerutu tidak jelas mengumpat David dengan kejam.
Setelah beberapa menit menantang maut kini Sabrina pun sampai di depan rumah mewah bak istana dalam dongeng. Tanpa banyak kata kini ia pun masuk ke dalam halaman yang luas itu dan bersiap masuk ke dalam mansion.
Namun dengan cepat para penjaga menghalanginya dan meminta Sabrina untuk pergi dengan cara baik-baik. Bukan Sabrina namanya jika ia pergi tanpa mendapatkan apa yang ia inginkan .
Dengan berani Sabrina menolaknya dan membut keributan di halaman mansion.
__ADS_1
"Alika..!! apa kau di dalam?!" Teriak Sabrina membuat para penjaga geram dan mengangkat tubuh gadis itu agar segera pergi meninggalkan mansion sebelum sang pemilik murka pada mereka.
"Nona anda terlalu mengganggu jadi jangan salahkan kami jika kami bersikap kasar padamu." Ucap salah satu dari mereka.
"Lepaskan aku apa kalian tidak tahu siapa aku?!" Sabrina mulai kesal saat kedua penjaga kini mengangkat tubuhnya agar pergi meninggalkan tempat itu.
"Hey jangan sentuh motorku itu belum lunas!" Teriak Sabrina menghentikan salah satu penjaga yang akan menaiki motornya.
"Hey apa kau tuli..!!" Sabrina berteriak lebih kencang untuk menghentikan sang penjaga, namun pria berbadan besar itu tak mempedulikan teriakan Sabrina dan membawa motor itu keluar gerbang bersamaan dengan dirinya.
Kini kedua penjaga yang mengangkat tubuh Sabrina pun mendorongnya dengan sedikit kasar membuat Sabrina jatuh terhuyung. Namun tubuh Sabrina terasa melayang saat seseorang menyangga tubuhnya seperti seorang pahlawan.
"Terima kasih." Sabrina berdiri tegak dan menatap orang yang telah menolongnya dengan senyuman manisnya.
Namun kini senyuman itu menghilang begitu saja saat melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Kau..."
"Ya aku kenapa?" David tersenyum menatap wajah Sabrina yang berubah kesal padanya.
"Cihh... Jika aku tahu itu kau aku tidak sudi di sentuh oleh pria sepertimu!" Ucap Sabrina dengan ketusnya.
"Oh ya, benarkah?!" David sedikit mencondongkan tubuhnya pada Sabrina.
"Tuan David, tuan muda sudah menunggu anda di dalam." Ucap salah satu penjaga yang mengangkat tubuh Sabrina beberapa saat lalu.
"Hmmm..." David melangkahkan kakinya meninggalkan Sabrina begitu saja.
Namun dengan cepat Sabrina menahannya menarik jas milik David dengan sangat kasar.
"Kau tidak bisa pergi meninggalkanku begitu saja!" Ucap Sabrina dengan tatapan mata tajamnya.
David tersenyum miring dan menatap ke arahnya Sabrina dan menarik pinggang ramping gadis itu agar mendekat ke arahnya.
"Kenapa? apa kau merindukanku?" David semakin mendekatkan wajahnya pada Sabrina hingga jarak mereka kini hanya dua centi meter saja.
Hembusan nafas hangat David dan tatapan matanya membuat Sabrina merasa terhipnotis oleh ketampanan mantan kekasihnya. Perlahan Sabrina menutup matanya membuat David tersenyum saat melihatnya.
Jarak yang begitu intim antara keduanya, membuat suasana semakin terasa mencekam bagi para penjaga dan kedua pasang mata yang kini menatap mereka dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
Bersambung..