Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 11


__ADS_3

Setelah beberapa saat meninggalkan mansion Anggasta, kini Alika kembali dengan setumpuk barang di tangannya.


Pak Min datang menghampiri Alika dan ingin membantunya namun Alika dengan cepat menolaknya dengan lembut dan membawa barang-barang tersebut langsung ke kamarnya.


Edgar keluar dari kamar mandi masih dengan rambut basah menghampiri Alika yang kini tengah sibuk melihat barang-barangnya.


Alika menatap lekat wajah tampan suaminya kontraknya dan merasa terpesona saat melihat delapan roti sobek yang menghiasi perut sispeknya.


"Wahhh... Banyak sekali barang yang kau beli hari ini, apa kau sedang merampokku?" Edgar tesenyum miring menyindir istri kontraknya.


Alika hanya tersenyum tipis dan memperlihatkan barang-barang dengan merek terkenal pada Edgar dengan bangganya.


"Lihatlah menurutmu apa ini bagus aku membelinya karena ini adalah edisi terbatas." Alika memperlihatkan tas hitam hitam pada Edgar.


"Ini sangat mahal, aku menyukainya jadi aku membelinya."


"Seleramu lumayan juga."


"Itu semua karena aku istrimu dan aku tidak ingin mempermalukan mu karena penampilan ku yang biasa saja." Jawab Alika dengan senyuman termanisnya.


"Owh jadi begitu?" Edgar mendorong tubuh Alika hingga jatuh terbentang di atas ranjangnya.


Kini ia pun menumpu beban tubuhnya dengan satu tangan dan tangan lainnya mengusap wajah Alika dengan penuh kelembutan.


Alika memejamkan matanya menikmati sentuhan yang di berikan Edgar padanya dengan jantung berdetak begitu cepat.


"Edgar Anggasta aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Ucap Alika yang kini membuka matanya perlahan.


Edgar tersenyum miring. "Cinta? bagai mana kata cinta itu bisa terucap dari bibirmu bukankah kau tahu pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak perjanjian?" Tanya Edgar.


"Aku ingin kamu membatalkan kontrak konyol itu dan aku ingin menjadi istrimu selamanya." Jawab Alika tulus dari dalam hatinya.


Alika ingin melihat reaksi Edgar setelah ia menyatakan cintanya dan ia pun mulai menyiapkan hatinya agar tidak terluka lebih dalam lagi.


Alika tahu Edgar menikahinya hanya karena tidak ingin adiknya terluka dan menyangka jika selama ini Alika hanya memanfaatkan cinta Arga.

__ADS_1


"Tidurlah dan besok ikut aku ke dokter kandungan." Ucap Edgar yang kini menjauhkan dirinya dari Alika.


"Dokter kandungan? bagai mana ini, bagai mana jika dia tahu aku sedang mengandung anaknya, tidak! ini tidak boleh terjadi aku harus mencari cara untuk menyelamatkan calon anakku." Alika mengelus perutnya dan menatap Edgar yang sudah berpakaian rapih kelar meninggalkan nya.


"Edgar Anggasta aku tidak pernah menyangka masih ada pria picik sepertimu di dunia ini." Perlahan air mata Alika pun luruh membasahi pipinya.


"Alika kau harus kuat, jangan lemah hanya karena cinta, hanya lima belas hari lagi setelah itu aku akan bebas dab hidup bahagian dengan anakku dan aku berharap tidak bertemu lagi dengan keluarga Anggasta."


Alika kembali menyusum semua barang-barangnya dan menyimpannya di lemari.


****


Keesokan harinya. Alika menatap sarapannya dengan malas ia hanya mengaduk-aduk nasi tanpa memakan nya membuat pak Min menatapnya penuh keheranan.


"Tidak seperti biasanya nona Alika mengacuhkan makanannya seperti ini." Gumam Pak Min yang kini menghampiri Alika.


"Nona apa makanannya tidak enak? jika iya katakan saja aku akan menggantinya dengan yang baru." Ucap pak Min ramah.


"Tidak perlu pak makanannya sangat enak Alika suka." Dengan sangat terpaksa Alika memakan makananya dan memberikan senyuman terjadinya pada pak Min.


Setelah pak Min pergi kini asisten David pun datang untuk membawa Alika pergi ke dokter kandungan.


"Dimana kak Edgar?" Tanya Alika yang kini mencari keberadaan suami kontraknya.


"Tuan muda sedang sibuk jadi saya yang akan mengantarkan anda untuk pemeriksaan hari ini." Jawab David dengan wajah datarnya.


"Baiklah ayo!" Alika berjalan mendahului David melewati Arga yang sudah bersiap dengan pakaian formalnya.


Sekilas Arga menatap ke arah Alika begitu pun sebaliknya namun dengan cepat Alika menurunkan pandangannya dan keluar meninggalkan mansion Anggasta.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit Alika hanya menatap kosong ke arah jalanan yang cukup ramai. David meliriknya sekilas tanpa berniat untuk bertanya apapun pada Alika.


Setelah beberapa saat kini mereka pun sudah berada di rumah sakit dan di sambut oleh dokter yang sudah di tunjuk oleh Edgar untuk memeriksa keadaan Alika saat ini.


"Mari nona kita mulai pemeriksaan." Ajak sang dokter pada Alika.

__ADS_1


Alika pun menuruti permintaan sang dokter memasuki ruang pemeriksaan namun kini ia menghentikan langkah kakinya dan menatapnya David.


"Kau bukan suamiku jadi keluarlah." Ucap Alika namun David tak menjawab ucapan Alika dan masih berdiri mematung di tempatnya.


"Jika kamu masih disini aku tidak mau melanjutkan pemeriksaan ini." Ucap Alika kembali memberikan sedikit ancaman pada David.


Tanpa mengucap apapun kini David pun keluar dari ruangan itu setelah membisikan sesuatu pada sang dokter.


Kini pemeriksaan pun di mulai membuat Alika gugup dan merasa waswas ia benar-benar takut jika ucapan Edgar beberapa bulan yang lalu akan terjadi.


"Dokter apa anda memiliki seorang anak?"


"Ya,"


"Dokter bagai mana perasaan mu jika anakmu di sakiti oleh orang lain?" Tanya Alika yang kini menggengam erat tangan sang dokter.


"Maksud nona?" Dokter itu merasa sangat keheranan menatap wajah Alika yang terlihat begitu sedih dan tertekan.


"Aku sedang hamil enam belas minggu, tapi aku takut jika suamiku tahu tentang kehamilan ini, aku mohon padamu selamatkan nyawa calon anakku dan katakan jika aku tidak hamil aku mohon padamu dokter." Alika memohon dan bersujud di hadapan sang dokter dengan tubuh mulai bergetar membuat sang dokter merasa sangat iba.


"Tapi nona saya tidak mau mengambil resiko, karena jika siapapun yang mencoba mempermainkan keluarga Anggasta maka tidak akan ada ampun."


"Tapi dok," Alika merasa lemas saat mendengar jawaban sang dokter.


Kini dokter itu pun mulai memeriksa Alika sedangkan Alika hanya menurut pasrah ia hanya berharap jika Edgar menarik ucapanya kembali.


"Tidak masalah jika dia tidak menginginkan bayi ini tapi aku berharap jika dia tidak benar-benar menyuruhku untuk menggugurkan nya." Gumam Alika membatin.


Setelah selesai pemeriksaan kini Alika dan David pun menunggu hasil laporan dokter. Alika menggengam erat tangan nya untuk mengurangi rasa gugup dalam dirinya, sedangkan David masih dengan wajah datarnya menunggu dokter berbicara.


Sang dokter melirik sekilas pada Alika, sedangkan Alika hanya menggelengkan kepalanya perlahan memberikan kode pada sang dokter agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


"Bagai mana dok apa nona Alika sudah hamil?" Tanya David dengan nada dingin dan tegasnya.


Sang dokter hanya menghela nafasnya perlahan dan menatap David dengan seksama. "Dari hasil laporan nona Alika dia..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2