
Alika terus menarik nafasnya dan mengeluarkan nya secara perlahan untuk mengurangi rasa gugup yang melanda hatinya.
Alika merasa tak percaya, pengorbanan nya selama enam tahun menyembunyikan jati dirinya akan terbuka begitu saja setelah di pertemukan kembali dengan mantan suaminya.
"Maria tolong jaga anak-anakku jangan ijinkan siapapun datang ke ruangan ini atau pun membawa mereka pergi." Alika memberikan sebuah peringatan pada asisten nya.
Rasa takut dan khawatir Edgar akan membawa anaknya pergi membuat Alika sangat waspada terhadap siapapun karena ia tahu Edgar bukanlah orang biasa.
"Rain, Raina jangan pergi ke mana pun bunda akan segera kembali dan jangan ikut dengan siapapun sebelum bunda datang, apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti bunda, bunda tidak perlu khawatir karena Rain akan menjaga adik dengan baik."
"Dan Raina akan menjaga kakak dengan baik juga." Sambung Raina dengan wajah cerianya.
"Terima kasih nak, kalau begitu bunda keluar sekarang ingan pesan bunda ya sayang." Karena rasa khawatir yang berlebihan membuat Alika terus mengingatkan putra-putrinya.
"Lima menit! bunda akan kembali setelah lima menit." Ucap Alika sebelum ia menutup pintu nya.
"Jadi twins kalian ingat pesan bunda? sekarang kita melihat bunda disini saja okey." Maria mengotak-atik laptopnya dan memperlihatkan Alika yang kini duduk di meja pers.
Alika terlihat sangat gugup dan tertekan dengan masalah yang sedang menimpa hidupnya. Enam tahun hidup dengan tenang menata hati dan pikirannya yang terluka karena cinta.
Kini ia di hadapkan kembali pada kenyataan bahwa dirinya tidak bisa bersembunyi terlalu lama di balik masker dan rambut palsu untuk menutupi jati dirinya.
"Nona Al apa alasan anda memakai rambut palsu dan masker? bukankah anda memiliki bakat yang luar biasa, dan dalam beberapa tahun terakhir nama anda bisa bersinar di antara yang lain." Suara seorang wartawan mengajukan pertanyaan yang sangat sulit untuk Alika jelaskan.
Alika tersenyum kaku di balik maskernya yang masih menutupi wajahnya. "Cinta, pengkhianatan dan pengorbanan. Tiga kata itu yang mendorongku sampai ke titik ini dan itu semua tidak perlu di jelaskan karena hanya akan menambah luka di hatiku." Ucap Alika dengan lantang.
__ADS_1
"Baikah tanpa menunggu terlalu lama lagi aku akan membuka semua ini dan aku berharap kalian semua masih akan menerima dan menemaniku berkarya." Sambung Alika yang kini bersiap untuk membuka rambut palsunya.
Semua orang yang hadir di acara itu kini terus memotret dan menyaksikan kegiatan Alika. Rambut palsu sudah terlepas hanya tersisa masker yang masih menutupi wajah cantiknya.
Membuat seseorang yang berada tak jauh darinya merasa sangat gemas. "Kenapa lama sekali, kenapa tidak langsung membuka penutup wajah itu terlebih dahulu agar aku yakin jika dia memang istriku." Edgar terus bergumam menggerutu tidak jelas membuat David yang berada di sebelahnya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Permisi, permisi jangan menghalangi jalan tolong mingir dan beri aku jalan." Seorang wanita muda kini menerobos masuk ke dalam ruangan itu dan mendorong David begitu saja.
Wanita muda itu membelakangi David dan terlihat sangat kebingungan mencari sesuatu. "Nona apa yang sedang anda cari?"
"Mencari twins R apakah kau melihat bocah kembar laki-laki dan perempuan berusia hampir enam tahun disini?" Tanya Sabrina yang kini melirik ke arah David.
"Kau..!!" Ucap David dan Sabrina secara bersamaan.
Sabrina merasa sangat gugup dan langsung membalikan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu, namun dengan cepat David menarik tangannya dan membawa Sabrina keluar dari tempat itu.
Sedangkan Edgar masih fokus menunggu detik-detik terakhir saat Alika membuka masker yang menutupi wajahnya. Edgar tersenyum namun ia pun tak kuat menahan aur matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja membasahi pipinya.
Setelah Alika memperlihatkan wajahnya kini ia pun menutup konferensi pers nya dan bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun dengan cepat semua wartawan berdiri dan menghalangi jalannya dan mempertanyakan siapa ayah kandung anaknya.
Alika tidak menanggapi pertanyaan itu dan lebih memilih pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun tentang anaknya.
"Dia anakku hanya anakku." Batin Alika berteriak meluapkan segalanya.
Setelah Alika berhasil keluar dari kerumunan itu kini ia pun kembali ke ruangan dimana putra-putrinya berada. Namun saat Alika membuka pintu ia terkejut melihat Maria yang sudah terikat di kursi dengan bibir tertutup lakban hitam.
"Maria apa yang terjadi dimana twins R?" Alika membantu Maria melepaskan ikatannya dan merasa khawatir saat putra-putrinya tidak ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Maaf nona saya tidak bisa menjaga twins R seperti yang anda harapkan," Maria bersimpuh di hadapan Alika yang kini terlihat sangat kacau.
"Tidak! dia tidak boleh mengambil Rain dan Raina dariku!" Dengan sedikit terburu-buru kini Alika keluar dari ruangan itu.
Namun kininseseorang menutupi mulut Alika dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius dan membuatnya pingsan
"Maafkan aku sayang ini adalah jalan satu-satunya untuk membawamu pergi tanpa penolakan atau alasan apapun, kita akan bicarakan semua ini dari hati ke hati." Ucap Edgar yang kini menggendong tubuh istrinya keluar dari ruangan itu.
***
Di saat Edgar sudah menemukan kembali istrinya yang kabur dan hilang selama enam tahun, kini David pun kembali di pertemukan dengan mantan kekasihnya beberapa tahun lalu.
"Berani sekali kau membohongiku jika kau tidak tahu tentang nona Alika!" Bentak David pada Sabrina yang kini terlihat sangat acuh dan tak mempedulikan teriakan nya.
"Sabrina apa kau tidak mendengarkan?!" David merasa geram dan menarik lengan Sabrina dengan sangat kasar.
Plakk...
Satu tamparan keras menda4at sempurna di wajah pria itu. "Dasar pria tidak tahu malu! untuk apa kalian mencari keberadaan Alika apa kalian belum cukup menyakiti nya dan membuatnya sengsara karena ulah kalian! kalian sangat egois!" Sabrina berteriak dan mendorong tubuh David dengan kekuatan penuh.
"Dan kau David! tidak hanya tuanmu yang picik tapi kau pun sama dengannya. Kau mendekati ku dan membuatku terbang sampai ke langit namun kau menjatuhkan ku begitu saja sampai ke dasar jurang, kamu mendekatiku hanya untuk sebuah informasi tentang Alika saja. Kamu jahat David kamu pengkhianat dan kau tidak lebih dari seorang pecundang!" Sabrina meluapkan segala rasa kecewanya terhadap David.
"Andai aku tahu jika saat itu kamu hanya akan mempermainkan perasaan ku makan aku tidak sudi menjalin hubungan apapun denganmu, dan sampai saat ini aku masih menyesali kebodohan ku sendiri."
Ya enam tahun lalu Sabrina dan David saling dekat dan menjalin hubungan layaknya seorang kekasih, namun tujuan utama David melakukan hal itu agar ia bisa mendapatkan semua informasi tentang Alika seperti yang di perintahkan oleh Edgar.
Lambat laun perasaan cinta pun muncul di hati David namun David dengan cepat menepisnya, sampai rahasia kebohongan David pun terbongkar saat Sabrina mendengar percakapan di antara David dan seseorang lewat sambungan telepon bahwa hubungan mereka hanya sebatas formalitas saja.
__ADS_1
Saat mendengar hal itu dunia Sabrina pun runtuh seketika. Bahkan ia merasa sangat bersalah dan merasa sudah mengkhianati sahabatnya karena turut dalam rencana Edgar dan David.
Bersambung...