
Alika berjalan gontay menghampiri sahabat dan kedua anaknya yang sedang asik bergurau. Sabrina melirik sekilas pada sahabatnya yang terlihat kebingungan.
"Anak-anak kalian berdua main di dalam dulu ya aunty masih ada pekerjaan sama bunda kalian."
"Siap aunty, ayo kak." Ajak Raina yang langsung menggandeng tangan kakaknya meninggalkan Sabrina dan Alika berdua saja.
"Al," Panggil Sabrina saat melihat kedua anak sahabatnya sudah keluar dari ruangan itu.
"Hmm, ya." Alika menjawab panggilan sahabatnya dengan sedikit lemas.
"Kamu kenapa sih? tadi kayaknya asik banget kenapa sekarang tiba-tiba galau begini?"
"Gak ada apa-apa kok, aku cuma merasa aneh saja dengan sikapnya. Dia terlihat sangat mencintaiku tapi dia terkesan menyembunyikan sesuatu dariku, entah apa itu aku pun tak mengerti."
"Hmmmm begitu ya." Sabrina tak bisa berkata-kata lagi jika itu menyangkut masalah rumah tangga sahabatnya, karena ia sendiri tidak tahu dengan bagaimana rasanya menjadi seorang istri dan hidup berumah tangga.
"Apa yang membuatmu merasa jika dia menyembunyikan sesuatu darimu?" Tanya Sabrina kembali setelah mereka berdua lama terdiam.
"Entahlah. Kami sudah menikah bahkan dua kali tapi, orang luar belum mengetahui hal ini selain kau dan orang-orang terdekat."
Keraguan dan rasa curiga dalam diri Alika mulai kembali setelah melihat gerak-gerik aneh suaminya.
"Sabrina aku sangat takut jika aku terluka untuk yang kedua kalinya, jika hal itu sampai terjadi entah bagaimana caranya aku hidup nanti." Alika menggoyangkan lengan sahabatnya dengan manik matanya yang mulai mengembun.
"Tenanglah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Bagaimana jika sebaiknya kamu coba saja datang ke kantor Anggasta grup dan lihat apa yang suamimu lakukan apakah seperti yang kami inginkan atau sebaliknya. Alika dalam sebuah hubungan bukankah kepercayaan itu sangat penting." Sabrina mulai memberikan pendapat pada sahabatnya.
"Kau benar, bagaimana hubungan ini bisa berjalan dengan sempurna jika aku masih menyimpan rasa curiga padanya." Alika pun berdiri memeluk sahabatnya dengan sangat erat.
"Terimakasih kamu memang sahabat terbaikku."
"Sama-sama bukankah persahabatan harusnya seperti itu, saling melengkapi dan saling membantu satu sama lainnya." Sabrina menepuk-nrpuk punggung sahabatnya perlahan.
"Kalau begitu aku akan merepotkan mu lagi Sab, aku titip anak-anak dan tolong seperti biasa kosongkan jadwal untuk besok."
"Siap nona bos." Sabrina memberikan hormat dan membuat Alika tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Kau sangat konyol semoga kau cepat mendapatkan sebuah lamaran dari seorang pria yang mau setia menemanimu sampai akhir hayat nanti."
"Aamiin..." Sabrina mengaminkan doa Alika dengan penuh semangat.
"Wahhh sepertinya kau sangat bersemangat sekali. Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan asisten David?" Alika menaik turunkan sebelah alisnya sedikit menggoda Sabrina.
"Apa? aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria menyebalkan itu." Lain di mulut lain di hati, wajah Sabrina berubah menjadi merah merona saat mendengar nama mantan kekasihnya di sebut.
"Kenapa? Aku lihat sepertinya kamu sangat dekat sekali dengannya apakah istilah cinta pertama bersemi kembali dengan kata lain balikan sama mantan itu juga akan terjadi padamu?" Alika semakin gencar menggoda sahabatnya saat melihat wajahnya terlihat lebih memerah dari sebelumnya.
"Omong kosong! tidak ada hal seperti itu, kau cepat pergilah kau akan pergikan cepat sana pergi sebelum hujan turun." Sabrina mendorong tubuh sahabatnya agar keluar dari ruangan itu.
"Hey nyonya nyonya David kenapa kau mendorongku?"
"Alika Maheswari jangan menggodaku." Sabrina menutup pintu ruangan itu dan mulai menepuk-nepuk wajahnya yang terasa begitu panas.
Sabrina mendengus kesal saat bayangan David tiba-tiba muncul di hadapannya. "Ckk.. Ini gila! Alika semua ini karena mu." Sabrina menendang bayangan David yang kini kembali menghilang dari pandangannya
"Konyol sekali." Gumam Sabrina lirih dan tersenyum menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa menit berkendara melewati jalanan yang tidak terlalu padat kini Alika sampai di perusahaan Anggasta grup. Alika mengadahkan kepalanya menatap bangunan yang begitu tinggi dan besar di hadapannya.
"Ini baru pertama kalinya aku melihat kantor Anggasta, ternyata benar yang seperti orang bilang perusahaan ini sangat begitu besar. Aku jadi sangat penasaran sekali dengan isi di dalamnya." Alika memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Tanpa pikir panjang Alika pun melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam kantor Anggasta.
"Hallo selama siang, ada yang bisa kami bantu nona." Sapa sang resepsionis dengan sangat ramah.
"Selamat siang saya ingin bertemu dengan tuan Edgar." Jawab Alika tanpa basa-basi.
"Apakah anda sudah punya janji?"
"Tidak ada, apakah bertemu dengannya harus memiliki janji terlebih dahulu?" Tanya Alika dengan konyolnya.
"Tentu saja nona."
__ADS_1
"Astaga bagaimana caranya aku masuk ke dalam? apakah menemui suamiku sendiri harus mendapatkan persetujuan dari orang lain? ini konyol." Alika melirik sekilas pada sang resepsionis yang kini menatapnya dengan tatapan aneh.
"Apakah aku bisa bertemu dengan asisten David? aku mohon ini sangat penting sekali."
"Maaf nona tapi asisten David sedang sangat sibuk hari ini." Jawab sang resepsionis.
Hal itu membuat Alika merasa kesal dan mulai hilang kesabaran. "Tolong izinkan saya masuk kedalam sekarang juga karena ini sangat penting sekali, saya jamin tidak akan membuat keributan apapun di kantor ini." Alika memohon sekaligus memberikan sebuah peringatan pada sang resepsionis.
Namun resepsionis itu tetap bersikukuh tidak mengizinkan Alika masuk ke dalam kantor Anggasta. Alika menghela nafasnya secara kasar dan mulai menenangkan dirinya yang mulai kesal.
"Baiklah kalau begitu saya akan menghubungi asisten David sendiri." Alika membuka maskernya membuat sang resepsionis terkejut saat melihat wajahnya.
"Hahh itukan nona Al desainer yang terkenal itu?" Batinsang resepsionis menjerit merasa sangat kagum melihat ibu dua anak itu masih sangat muda dan cantik.
"Nona Al apakah saya boleh meminta berfoto bersama?" Ucap sang resepsionis penuh harap.
Alika melirik ke arah sang resepsionis masih dengan wajah kesalnya. "Tidak, terimakasih saya sedang sibuk." Jawab Alika dengan sedikit ketus.
"Baiklah nona saya akan mengizinkan anda masuk ke dalam tapi tolong izinkan saya berfoto dengan anda." Mohon sang resepsionis yang ternyata adalah penggemar berat Alika.
"Penawaran yang cukup menarik." Alika menarik sudut bibirnya dan mulai memposisikan kamera untuk menangkap gambar mereka.
"Terima kasih nona Al." Sang resepsionis merasa senang bisa berfoto dengan idolanya. Kini ia pun menawarkan diri untuk mengantarkan Alika ke dalam ruangan Edgar, namun Alika menolaknya dengan sangat halus.
Alika kembali memakai masker untuk menutupi wajahnya dan berjalan dengan anggun memasuki kantor Anggasta grup.
Namun kini langkahnya terhenti saat melihat orang yang akan ia temui keluar dari dalam lift bersama seorang wanita cantik yang menggandeng tangan suaminya dengan sangat mesra. Keduanya terlihat sangat begitu dekat walaupun tak ada ekspresi apapun di wajah Edgar saat ini.
"Siapa dia? siapa wanita itu?" Alika membalikan tubuhnya saat Edgar melewatinya begitu saja.
Manik mata Alika mulai mengembun, hatinya mersa sangat begitu sakit saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain.
"Mengapa kau terus menghancurkan kepercayaanku? apa arti janji yang sudah kau ucapkan padaku Edgar jika pada akhirnya kau mengkhianati aku." Tangis Alika pun luruh membasahi wajah cantiknya yang ia sembunyikan di balik masker.
"Nona," Suara seseorang mengejutkan Alika dari dunianya.
__ADS_1
Bersambung...