Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 32


__ADS_3

Rain dan Raina menangkup kedua pipinya masing-masing begitu pun dengan Edgar yang berada di antara kedua anaknya.


"Twins apa kalian sudah menemukan cara untuk membuat bunda kalian memaafkan ayah?" Tanya Edgar pada kedua anaknya.


Rain dan Raina kini saling melirik dan mengangkat bahu dan tanganya mereka sambil menggelengkan kepalanya.


Edgar mendengus kesal karena sampai saat ini ia masih belum bisa menemukan cara yang ampuh untuk meluluhkan kerasnya hati Alika.


Edgar terus menggosok telapak tangannya berjalan mondar mandir membuat Rain dan Raina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kak apa kita harus melakukan sesuatu lagi untuk membantu ayah?" Raina meminta pendapat sang kakak.


Sejenak Rain berpikir namun kemudian ia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan usulan adiknya. "Biarkan saja ayah melakukan hal ini sendiri, karena wajar saja jika bunda marah dan kesal padanya dia sudah sangat keterlaluan menyakiti bunda."


"Tapi kak bagaimana kita bisa memiliki adik seperti yang di katakan kakek buyut jika bunda dan ayah masih bertengkar?" Raina menatap sang kakak berharap jika sang kakak mau membatu ayahnya agar bisa bersatu dengan rukun bersama sang bunda.


"Aku sudah punya satu adik yang bawel dan terkadang menyebalkan aku rasa kau saja sudah cukup dan tidak perlu adik yang lainnya." Jawab Rain penuh kejujuran.


Raina mendelikan matanya merasa sangat kesal dengan jawaban yang di lontarkan sang kakak. "Kak aku ini cantik dan menggemaskan dan kau yang menyebalkan! ishh... aku sangat kesal sekali padamu." Raina mengerucutkan bibirnya tak terima dengan perkataan Rain.


"Tapi aku mengatakan hal yang benar adik, kenapa kau kesal padaku?" Rain tampak tak peduli dengan ekspresi wajah adiknya saat ini.


"Uhh... Kau dan ayah sama saja, sama-sama menyebalkan!" Pekik Raina yang kini berlari meninggalkan ruangan itu.


"Ada apa dengannya, kenapa dia terlihat kesal sekali?" Edgar tampak kebingungan dan mulai beranya pada sang putra.


Namun Rain hanya menggelengkan kepalanya pura-pura tak mengerti.


"Ckk... Apakah semua perempuan sama saja selalu tiba-tiba marah dan, arrgh... mereka sangat sulit untuk di tebak." Edgar memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


***

__ADS_1


Alika menyiapkan makanan untuk kedua anaknya sendiri karena mereka terbiasa dengan masakan yang ia buat.


"Bunda..!!"


"Bunda..." Raina berteriak memanggil sang bunda berlari menghampiri Alika yang masih sibuk dengan bahan masakan.


"Ada apa sayang?" Alika mematikan kompornya dan mensejajarkan tubuhnya dengan putri kecilnya yang terlihat sangat begitu kesal.


"Bunda kenapa bunda tidak melahirkan aku sebelum kakak, kenapa bunda tidak membuatku saja yang menjadi kakak." Ucap Raina berceloteh membuat Alika sedikit kebingungan dengan ucapan putrinya.


Alika tersenyum dan mengusap rambut panjang Raina dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Memangnya kenapa jika Raina menjadi adik, bukankah itu sangat bagus karena kak Rain akan selalu menjaga Raina dengan sepenuh hati."


"Tidak bunda, kak Rain sangat menyebalkan sama seperti ayah! sekarang aku tahu mengapa bunda juga kesal pada ayah." Ucap Raina membuat Alika menggelengkan kepalanya tak bisa berkata-kata lagi.


"Memangnya apa yang kak Rain lakukan?" Alika menatap wajah putrinya penuh tanya. Raina pun mula menceritakan semua keinginannya seperti yang ia ceritakan pada sang kakak.


Mendengar cerita putrinya membuat Alika mulai merasakan panas dingin bahkan keningnya pun mulai di basahi keringat. "Hmm.. Sayang kalian adalah saudara kembar kalian harus saling melengkapi dan jangan bertengkar. Jadi Raina yang cantik dan menggemaskan ini harus menuruti perintah kak Rain dan mendengarkan nasihatnya dengan baik, okey!"


"Bunda, kenapa bunda diam saja?" Raina menggoyangkan tangan sang bunda yang kini terlihat melamun.


"Ahh iya sayang, akan bunda pikiran hal ini nanti sekarang kamu pergilah mama akan menyelesaikan pekerjaan mama kau pasti sudah sangat lapar kan?" Alika mengusir putrinya dengan halus dan kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda.


Perkataan Raina kini terus berputar dalam pikirannya membuat Alika tidak bisa pokus dengan apa yang sedang ia kerjakan saat ini.


"Sayang minggir kau bisa terluka!" Edgar menarik tangan istrinya menjauhkan Alika dari kompor yang mulai mengeluarkan api yang cukup besar.


Bau hangus pun mulai memenuhi ruangan. Edgar berusaha memadamkan api yang dan kembali menghampiri sang istri dengan wajah cemasnya.


"Apa kau baik-baik saja? apa ada yang terluka?" Edgar memeriksa seluruh tubuh istrinya dan bernafas lega saat tidak menemukan luka apapun disana.


"Aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Syukurlah, aku hampir mati karena terkejut." Ucap Edgar bernafas lega.


"Maaf." Alika berinisiatif untuk memeluk Edgar lebih dulu dan menempelkan wajah cantiknya pada dada bidang sang suami.


Edgar terdiam mematung saat menerima pelukan sang istri dengan wajah terkejut, karena inilah pertama kalinya Alika memeluknya tanpa paksaan ataupun dorongan orang lain.


"Tanganmu terluka aku akan mengobatimu." Alika menuntun Edgar meninggalkan dapur.


Sedangkan Edgar hanya menurut mengikuti langkah istrinya dengan perasaan senang. Edgar merasa sangat bahagia saat melihat sinyal-sinyal perdamaian yang di nyalakan Alika.


"Akhh... Bodoh! jika aku tahu hal ini yang bisa membuatnya begitu mengkhawatirkan keadaanku mungkin aku sudah melakukan sejak awal dan juka di perlukan aku juga akan membakar mansion ini asalkan dia tetap seperti ini padaku." Gumam Edgar membatin.


Matanya kini tak berkedip sedikit pun melihat sang istri yang begitu telaten membungkus lukanya.


"Sudah selesai." Alika berdiri untuk kembali menyimpan kotak obatnya. Namun dengan cepat Edgar menarik tangan Alika hingga jatuh ke pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan?" Alika berusaha untuk berdiri namun Edgar memeluk pinggang rampingnya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alika.


Akika melebarkan matanya saat merasakan hembusan nafas Edgar bagaikan tersengat aliran listrik ribuan volt.


"Terima kasih." Ucap Edgar tanpa menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Alika.


"Itu tidak perlu, kau terluka karena kecerobohanku jadi jangan berpikir macam-macam." Alika merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini, jantungnya terus memompa dengan cepat bahkan seakan ingin melompat meninggalkan tempatnya.


Edgar tersenyum tipis mulai melabuhkan kecupan manisnya di pundak mulus sang istri. Hal itu membuat Alika merasa tidak tahan lagi dan berdiri dengan sangat kasar berlari meninggalkan Edgar yang kini tersenyum melihat tingkah lucu dan menggemaskan seorang Alika Maheswari.


"Kau sangat lucu dan unik." Gumam Edgar yang kini melihat luka yang sudah di balut perban oleh istrinya.


"Kau bersikap seolah membenciku tapi kau terlihat sangat begitu khawatir saat melihatku terluka, haruskah aku membubuhkan banyak luka di tubuhku agar kau terus berada di samping." Ucap Edgar lirih menatap sang istri yang berjalan menaiki tangga.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2