
Alika menyelimuti seluruh tubuhnya bersiap untuk beristirahat untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau. Namun matanya sangat sulit untuk terpejam walaupun semalaman penuh ia tak tertidur.
"Bahkan untuk tidur saja sangat sulit." Alika mendengus kesal dan memilih turun dari ranjang lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah lima belas menit kemudian ia pun sudah bersiap dengan setelah formalnya bersiap untuk pergi bekerja.
"Al, apa kamu akan berangkat hari ini?" Tanya Sabrina yang kini menghampiri Alika yang tengah bersiap.
"Iya, aku tidak bisa tidur jadi aku akan pergi ke kantor saja dan melihat apakah penjahit kita sudah menyelesaikan pesanan minggu ini." Jawab Alika yang kini sedang menata rambutnya.
"Baiklah, kalau begitu tunggu aku sebentar." Dengan secepat kilat Sabrina pun mulai bersiap-siap.
Setelah beberapa saat berlalu kini ini kedua sahabat itu sudah sampai di line tempat para penjahitnya bekerja. Alika memeriksa dari proses awal hingga akhir pengerjaan hingga menjadi sebuah gaun rancangannya.
"Sangat indah. Kalian semua bekerja dengan sangat baik, terima kasih." Ucap Alika pada semua karyawannya dengan senyuman mengembang.
Alika merasa sangat puas dengan hasil karyanya. Para karyawan pun sangat tersanjung dengan ucapan Alika yang begitu baik dan ramah pada mereka.
"Nona ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, dia tidak memiliki janji tapi dia sangat ingin bertemu dengan anda. " Ucap Maria sedikit berbisik di telinga Alika.
"Siapa? apa mereka dari keluarga Anggasta?" Tanya Alika sedikit penasaran.
"Sepertinya bukan nona, dia seorang wanita, jika tidak salah dia seorang model."
"Baiklah aku akan segera menemuinya." Ucap Alika yang langsung di angguki oleh Maria.
"Jika dia seorang model mungkin dia akan memesan beberapa desain terbaru. Sabrina ayo ikut aku." Ajak Alika yang kini meninggalkan line tempat para penjahitnya bekerja.
***
"Hallo selamat siang, maaf sedikit menunggu." Ucap Alika dengan ramah pada wanita yang kini duduk membelakanginya.
"Hallo selamat siang nona Al." Sapa wanita dengan tinggi semampai dengan pakaian mini yang memperlihatkan lakukan tubuhnya yang seksi.
Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Alika. Sejenak Alika terkejut melihat wanita itu, karena dialah wanita yang sama yang ia lihat bersama suaminya.
__ADS_1
Dengan sedikit terpaksa Alika pun membalas uluran tangan wanita itu. "Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Alika dengan ramah.
Alika bersikap profesional dan tidak mencampurkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Walau dia sangat malas melayani wanita itu namun ia tetap bersikap ramah padanya.
"Saya Martha, saya tidak suka berbasa-basi jadi kemari ingin memesan gaun pengantin yang sedikit terbuka dengan belahan dada sedikit rendah namun terlihat elegan saat di pakai, apakah anda bisa merancangnya untuk saya? saya mendengar orang-orang selalu memuji anda dan mereka sangat puas dengan karya anda jadi bisakah anda membuatkan nya untuk saya."
Ucap wanita yang bernama Martha itu panjang lebar membuat Alika sedikit tercengang mendengarnya.
"Apa, gaun pengantin! apakah dia akan menikah dengan Edgar suamiku? jadi benar yang aku lihat kemarin. Ternyata Edgar sudah menipuku, kata-kata cinta yang keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong!" Alika meremas kedua tangannya di bawah meja menahan emosinya yang hampir meledak.
Ingin sekali Alika memaki dan meluapkan amarahnya saat ini, namun ia urungkan karena ia belum tahu kebenarannya. Alika tidak ingin gegabah mengambil jalan yang salah karena rasa cemburunya akan berimbas pada karier nya saat ini.
"Akan saya usahakan nona. Jika boleh tahu kapan anda akan menikah?" Tanya Alika yang kini berusaha mencari tahu tentang kebenarannya.
"Secepatnya," Jawab Martha dengan senyuman manisnya.
"Pria yang akan menikahi anda pasti sangat beruntung nona, anda sangat cantik." Alika mencoba memuji wanita yang berada di hadapannya untuk mencari tahu siapakah pria yang akan menjadi pendamping wanita itu.
"Aku berharap semuanya tidak seperti yang aku pikirkan." Gumam Alika membatin.
"Wahh.. Sepertinya anda sangat mencintainya." Ucap Alika dengan senyuman yang begitu di paksakan.
"Begini, karena anda calon pengantin pertama yang memesan gaun di bulan ini jadi saya akan memberikan penawaran menarik untuk anda, saya akan membuatkan jas yang senada untuk calon suami anda apa anda tertarik?"
"Waw... Sepertinya sangat menarik. Aku sangat tertarik." Jawab Martha dengan sangat antusias.
"Kalau begitu bolehkah saya tahu ukuran tubuh calon suami anda atau begini saja, anda boleh kembali bersama calon pasangan anda agar kami bisa mengukur kalian secara bersamaan." Ucap Alika memberikan sebuah penawaran.
"Tidak bisa! dia selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tak pernah ada waktu untukku. Sangat menyebalkan!" Ucap Martha dengan raut wajah kesalnya.
"Owh begitu ya." Alika terus mencari cara untuk membuka teka-teki wanita bernama Martha itu, namun otaknya tiba-tiba tidak bisa berpikir apapun selain rasa cemburu yang kian menumpuk memenuhi isi kepalanya.
"Hmmm kalau begitu, bagaimana saya akan merancang jas untuk calon suami anda?" Alika pura-pura terlihat kebingungan agar tidak menimbulkan kecurigaan Martha.
"Baiklah akan saya pikikan nanti. Kalau begitu saya permisi nona Al. Saya harap saya juga akan merasa puas dengan hasil karya anda seperti yang orang-orang katakan." Dengan gaya angkuhnya Martha pun memakai kembali kaca matanya dan keluar dari ruangan Alika.
__ADS_1
Alika menatap pintu ruangannya yang kembali tertutup. Amarah yang sempat ia pendam kini ia lampiaskan pada barang-barang yang ada di hadapannya.
Aaarrghhh....
Brakk... Brakk...
Suara barang-barang berjatuhan pun terdengar begitu jelas sampai di ruangan Sabrina dan Maria yang terletak tak jauh dari ruangan Alika.
"Suara apa itu?" Sabrina melirik ke arah Maria sedangkan Maria hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Alika!"
"Nona Alika!!"
Kini pikirannya pun tertuju pada satu orang yang sama. Dengan langkah cepat, Sabrina dan Maria langsung menghampiri ruangan Alika dan terbelalak saat melihat ruangan itu kini sudah tak terbentuk.
Berbagai macam barang dan pecahan vas bunga kini mulai berserakan mengotori ruangan itu. sedangkan sang pemilik ruangan tengah menangis sendu di bawah meja.
Alika memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Alika ada apa dengamu?" Sabrina menghampiri sahabatnya dengan raut wajah cemas.
"Maria tolong ambilkan air." Pinta Sabrina yang kini memeluk sahabatnya agar sedikit lebih tenang.
"Baik nona!" Dengan cepat Maria berlari ke pantri untuk mengambil air yang di minta Sabrina.
***
"Tuan muda ini gawat! wanita itu datang ke kantor nona Alika." Ucap David dengan nafas terengah-engah menghampiri tuannya.
"Apa?! kenapa kau baru mengatakan nya sekarang! lalu bagaimana apa wanita itu membuat ulah lagi?" Edgar merasa terkejut dan cemas secara bersamaan.
"David cepat ikuti aku!" Pinta Edgar yang bergegas meninggalkan ruangannya.
"Aku harap semuanya baik-baik saja." Gumam Edgar lirih.
__ADS_1
Bersambung....