Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 45


__ADS_3

Tak ingin kembali salah paham Alika tetap tenang dan menunggu sampai kakek selesai bercerita. Dan betapa terkejutnya saat ia mengetahui kenyataan bahwa suaminya terlihat dalam kematian kedua orang tuanya.


Alika memundurkan langkahnya perlahan. Kakinya terasa tak memili pijakan tubuhnya pun lemas seketika saat mengetahui kenyataan itu.


"Kenapa kakek baru datang dan mengatakan segalanya sekarang? rasanya sakit sekali kek, sungguh aku tidak bisa menerima hal ini." Ucap Alika dengan suara bergetar menahan tangis.


"Alika maaf bukan maksud kakek lari dari masalah dan tanggung jawab tapi saat itu Edgar,"


"Kakek memikirkan keadaan cucu kakek, tapi bagaimana denganku apakah saat itu hati kakek tidak tersentuh sama sekali dengan rintihan gadis malang ini." Alika memundurkan langkahnya saat sang kakek berjalan menghampirinya.


"Jangan mendekat kek," Alika mengetop langkah sang kakek.


"Maaf kakek tahu kami salah, selama ini kakek hidup dalam penyesalan kakek mencarimu dan ingin memberikan wasiat ini dari ayahmu." Kakek Wirasena memberikan selembar kertas yang terlihat rapih pada Alika.


Dengan tangan bergetar Alika pun menerima surat tersebut dan membaca tulisan tangan sang ayah yang pergi meninggalkannya beberapa tahun lalu.


......Alika putriku maaf ayah tidak bisa kembali malam ini, tapi percayalah nak doa ayah dan ibumu akan selalu menyertaimu. Teruslah belajar dan gapai cita-citamu, ayah yakin kamu pasti bisa. Jangan salahkan mereka jika terjadi sesuatu pada ayah karena ini salah ayah yang terlalu ceroboh. ~Ayah~......


"Ini tidak mungkin." Tangis Alika pun kembali pecah meremas kertas berisi pesan terakhir sang ayah untuknya.


"Maaf Alika, kakek baru memiliki keberanian untuk hal ini saat itu kakek sangat takut jika Edgar akan semakin tak bisa mengendalikan dirinya."


"Andai saja kek, andaikan kakek mengatakan hal ini sebelumnya mungkin aku tidak akan sesakit ini, aku sungguh kecewa kek." Alika terus berjalan mundur menggalkan sang kakek dengan rasa kecewanya yang teramat dalam.


Rasa sedih dan kecewanya semakin menggunung saat melihat suaminya di gandeng wanita lain, dan suaminya juga yang terlibat kecelakaan yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu.


Alika mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kota dengan tangisan yang tak berhenti mengiringi perjalanannya.


"Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? bagaimana caraku menghadapi kenyataan ini. Sungguh aku tidak akan sanggup untuk terus bertahan dalam posisi ini." Alika terus bermonolog meluapkan kesedihan dalam hatinya.


***

__ADS_1


Di mansion kedua. Edgar yang baru saja kembali setelah menyelesaikan urusannya. Gurat lelah pun terlihat begitu jelas di wajah tampannya.


"Sayang..."


"Sayang... Alika!!" Edgar membuka pintu kamarnya dengan penuh senyuman berharap jika istrinya juga tersenyum menyambut kedatangannya.


Senyum itu pun menghilang saat ia tak melihat siapapun di ruangan itu. "Ah.. Dia pasti sedang mandi." Edgar membuka dasinya dan melemparkan jasnya begitu saja segera menyusul sang istri ke kamar mandi.


Namun nihil istrinya pun tak ada disana. Ini sudah larut malam tidak mungkin jika dia masih di kantornya." Gumam Edgar lirih.


Kini pria itu pun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan menuju kamar twins R, karena Edgar sangat begitu yakin jika istrinya berada disana menemani kedua anaknya.


"Sayang," Panggil Edgar dengan suara perlahan takut jika ia akan mengganggu tidur kedua anaknya, tetapi sayangnya Edgar pun tak menemukan keberadaan istrinya bahkan kedua anaknya pun tak ada disana.


Edgar merasa marah dan kesal pun langsung memanggil para penjaga dan menanyakan keberadaan istri dan kedua anaknya.


Tetapi para pengawal mengatakan bahwa mereka belum melihat istrinya kembali. Hal itu membuat Edgar sangat murka dan bergegas pergi meninggalkan mansion untuk mencari keberadaan istrinya.


"Tenangkan dirimu Edgar jangan sampai kau mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitinya dan membuatnya takut padamu, hubungan mu dengannya baru saja membaik kau belum sepenuhnya mendapatkan kepercayaan istrimu." Edgar bermonolog mengingatkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa saat berkendara kini ia pun sampai di kantor milik istrinya. Edgar menatap bangunan yang berdiri hanya dua lantai itu dengan sedikit kecewa, karena kantor istrinya sudah terlihat begitu sepi tak berpenghuni.


"Argghh... Kemana dia pergi? apakah Arga yang menbawa mereka." Edgar melemparkan ponselnya begitu saja karena sejak tadi Alika tak kunjung menjawab panggilan nya.


Edgar menarik rambutnya frustrasi dengan perasaan kesal kini ia pun kembali mengambil ponselnya dan mencari lokasi keberadaan sang istri.


Kini wajahnya mulai memerah saat mengetahui titik lokasi keberadaan istrinya berada di mansion Anggasta. Dengan kata lain jika Alika tengah berada mansion adiknya.


Bayangan saat Alika tengah bermesraan dengan Arga pun mulai muncul dalam benak Edgar. Rasa marah dan cemburu pun mulai menyelimuti nya.


Dengan kecepatan penuh Edgar melajukan kembali mobilnya bahkan ia seperti tak perduli dengan keselamatan nyawanya sendiri saat ini, pikirannya terus tertuju pada sang istri yang entah sedang melakukan apa berada di mansion adiknya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama bagi Edgar untuk sampai di kediaman sang adik. Dengan langkah panjang dan wajah penuh kebencian Edgar melangkahkan kakinya masuk ke dalam untuk membawa istrinya pulang.


"Setelah ini aku akan membawanya tinggal di luar negeri saja agar bajingan itu tak bisa lagi terus menggoda istriku!" Gumam Edgar lirih.


"Alika!!"


"Alika dimana kamu." Teriak Edgar memanggil sang istri berharap jika Alika akan segera menghampiri nya dan menenangkan kemarahan nya saat ini.


"Alika!!" Panggil Edgar kembali membuat seisi mansion itu kini keluar untuk melihatnya.


"Apa kau sudah tidak punya sopan suntun kak, berteriak membuat keributan di rumahku." Ucap Arga dengan raut wajah sinisnya.


"Dimana kau sembunyikan istriku bajingan!" Dengan penuh kemarahan, Edgar menarik kerah baju adiknya dan hampir mendaratkan bogem mentah jika sang kakek tidak dengan cepat mencegahnya.


"Ada apa ini Edgar? apakah begitu caramu memperlakukan adikmu." Kakek Wirasena berjalan menghampiri kedua cucunya.


"Aku hanya mencari istriku dan aku yakin dia ada disini"


"Bagaimana kau mersa yakin jika dia disini?" Tanya Arga dengan wajah sinisnya kini is pun menipis tangan sang kakek agar melepaskan cengkraman nya.


"Tentu saja aku yakin. Lihat ini." Edgar memperlihatkan titik lokasi keberadaan istrinya yang menunjukkan bahwa Alika berada di mansion itu.


"Cihhh... sebaiknya kau cari saja sendiri jika bene dia ada disini." Ucap Arga dengan santainya. Ia tak mempedulikan bagaimana raut wajah kakaknya saat ini.


Karena kenyataanya jika Alika tidak ada di sana seperti yang di tuduhkan sang kakak padanya.


Seperti keinginan Arga kini Edgar pun berusaha sendiri untuk mencari keberadaan Alika di tempat itu. Namun dengan cepat kakek menghentikan langkahnya dan memperlihatkan ponsel milik Alika yang kini berada di tangan sang kakek.


"Kakek kenapa ponsel istriku ada padamu? lalu dimana Alika dan twins R." Tanya Edgar yang kini memintap wajah sang kakek dengan tatapan penuh selidik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2