Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 59


__ADS_3

Alika terus berjalan mondar-mandir merasa gelisah tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini.


Hal itu membuat Edgar merasa aneh. Kini Edgar pun menyimpan berkas-berkas yang ada di tangannya dan berjalan menghampiri sang istri.


"Sayang, ada apa denganmu? kenapa kau terlihat sangat gelisah sekali apakah semuanya baik-baik saja?"


"Bagaimana aku baik-baik saja! aku saja tidak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan." Alika memanyunkan bibirnya dengan tangan bersedekap dada membuat Edgar merasa sangat gemas melihatnya.


Edgar berusaha untuk memeluk istrinya namun dengan cepat Alika menepisnya. Edgar menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Aku ingin sesuatu apakah kamu akan mengabulkan nya?" Tanya Alika dengan nada lembut dan ekspresi wajah manjanya.


Edgar mengerutkan keningnya merasa sangat heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah drastis, membuat tanda tanya besar baginya.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba merasa tidak enak begini ya?"


"Kenapa kau hanya diam saja?! baiklah lupakan saja aku mau tidur, minggir!" Alika menggeserkan tubuh suaminya dengan sedikit kasar dan membungkus tumbuhnya dengan selimut.


"Aishhh... Sebenarnya dia itu kenapa, aneh sekali." Edgar mengedikan bahunya tanda tak mengerti. Hari sudah semakin larut kini Edgar pun menyusul sang istri.


***


Pagi haru di mansion. Alika bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk twins R seperti biasanya.


Setelah satu jam berkutat di dapur kini ia pun bersiap untuk membersihkan diri, namun aktivitasnya terhenti saat tangan besar kini melingkar sempurna di pinggangnya.


"Sayang aku merindukanmu." Bisik Edgar dengan suara serak khas bangun tidur. Alika memutar bola matanya malas tak menanggapi ocehan suaminya saat ini.


Edgar terus menggendus ceruk leher Alika membuat Alika merasa sedikit risih dan geli karena ulahnya.


"Edgar hentikan, bagaimana jika ada orang yang tahu tentang hal ini." Aluka berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Kenapa? apa masalahnya, biarkan saja jika mereka melihatnya. Kau istriku, jadi tidak ada masalah jika aku melakukan apapun padamu, karena ini bukan aib ataupun dosa tapi ini ibadah yang akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ganda."


Edgar mendaratkan ciumannya di bibir sang istri dengan begitu lembut membuat Alika mulai terbuai dalam gelora cinta suaminya.

__ADS_1


Ciuman lembut yang begitu menuntut membuat keduanya terbawa suasana. Edgar mengangkat tubuh istrinya dan medudukannya di atas meja.


Suara kecapan dari bibir yang terus bertaut kini terdengar memenuhi ruangan membuat siapapun yang mendengarnya merasa merinding. Keduanya tak sadar jika mereka berada di dapur dan dua pasang mata kini terbelalak menatap aneh ke arah mereka.


"Kak kenapa ayah dan bunda saling memakan?" Tanya Raina dengan wajah polosnya.


"Entahlah kakak juga tidak tahu, tapi ayah dan bunda sepertinya sangat begitu menikmati semua itu." Jawab Rain tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua orang tuanya.


"Astaga! apa kalian tidak punya tempat lain untuk melakukan hal ini?" Pekik Arga yang langsung menutupi kedua mata keponakan kecilnya.


Hal itu membuat Alika sangat terkejut dan melepaskan tautan bibirnya dan menepis tangan Edgar yang tengah asik bermain di gunung kembarnya.


Wajah Alika tampak memerah menahan rasa malu, ia bahkan seperti seorang maling yang tertangkap basah saat melakukan aksinya.


Sedangkan Edgar tak menunjukan reaksi apapun selain wajah datarnya, ia bahkan terlihat sangat bangga dengan apa yang sudah ia lakukan bersama sang istri.


"Rain, Raina kalian berdua sarapan terlebih dahulu bunda akan segera kembali." Alika berlari menaiki tangga segera masuk ke dalam kamarnya.


"Astaga malu sekali aku." Gumam Alika lirih yanh langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk menetralkan suhu badannya yang tiba-tiba terasa panas.


"Ah... Itu ya, ..." Edgar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan putrinya.


"Mampus kau, bagaimana aku menjawabnya?"


"Ayah kenapa ayah diam saja?" Tanya Raina kembali.


"Ayo jawab kak, dia bertanya padamu." Arga tersenyum miring mengejek Edgar.


"Rasakan itu, inilah balasan bagi orang yang tidak tahu tempat dan waktu untuk bercinta. Sekarang pikirkan apa yang akan kau katakan pada purimu." Gumam Arga membatin.


"Ayah, ayo cepat jawab pertanyaan adikku, aku juga tak sabar ingin mendengarnya." Ucap Rain menimpali, membuat Arga semakin merasa senang dengan. ekspresi kebingungan kakaknya saat ini.


"Anak-anak ini bukan waktunya untuk membahas tentang masalah ini, atau kalian akan terlambat pergi ke sekolah nanti." Ucap Kakek Wirasena mulai menengahi pembicaraan mereka.


"Apa sulitnya kek, ayah hanya tinggal menjawab saja pertanyaanku dan itu tidak akan membuat kami terlambat." Jawab Raina yang di angguki oleh sang kakak.

__ADS_1


"Nak sepertinya bunda kalian memanggil, tunggu sebentar ya." Edgar langsung berlari terbirit-birit membuat Rain dan Raina menatap aneh ke arah sang ayah.


"Uncle,"


"Anak manis ini sudah hampir terlambat sebaiknya cepat habiskan makanan kalian, uncle akan mengantarkan kalian ke sekolah bagaimana apa kalian mau."


"Yeayy... Mau tapi tunggu aunty Maria datang." Jawab Raina dengan wajah cerianya.


"Kenapa harus menunggu dia, aku ini paman kalian dan sudah pasti kalian aman bersamaku." Protes Arga karena ia tahu siapa wanita yang di maksud oleh keponakannya itu.


"No, tidak bisa terbisa seperti itu. Ini sudah perintah langsung dari bunda dan itu sudah keputusannya, jadi uncle tidak bisa merubah apapun yang sudah bunda perintahkan." Rain menatap mata Arga dengan tatapan penuh peringatan, membuat Arga langsung menelan salivanya dengan susah payah.


"Astaga! dia memang titisan pria menyebalkan itu, aishhh.. masih sekecil ini saja bisa membuatku merasa terancam bagaimana jika dia sudah dewasa nanti." Arga menghela nafas kasar tersenyum kaku mengiyakan apa yang di katakan keponakan kecilnya.


"Hallo selamat pagi." Sapa seorang wanita cantik berambut pendek dengan senyuman manisnya kini mengembang menghiasi wajahnya, memberikan hormat pada semua orang yang ada di meja makan itu.


"Selamat pagi juga." Jawab kakek Wirasena dan twins R secara bersamaan.


"Kebetulan kau datang di saat yang tepat nak, ayo kita sarapan sebelum melakukan aktivitas."


"Terima kasih sebelumnya tuan besar, tapi maaf sebelumnya saya sudah sarapan di rumah." Jawab Maria dengan sopan.


"Mhhh begitu ya, sayang sekali." Kakek Wirasena sedikit kecewa mendengar jawaban Maria.


"Kakek kami berangkat dulu." Ucap Rain dan Raina yang mulai memberi salam berpamitan pada sang kakek.


"Hati-hati di jalan."


"Tuan besar saya pamit undur diri." Maria sedikit membungkukan tubuhnya untuk memberikan hormat pada sang kakek.


Kakek Wirasena tersenyum mengagukan kepalanya. "Hati-hati di jalan, aku percayakan mereka padamu."


"Baik tuan besar."


"Kakek aku juga berangkat dulu, aku akan memastikan jika kedua keponakanku aman." Ucap Arga membuat Maria langsung merasa dongkol mendengarnya.

__ADS_1


"Cihh... Dia pikir aku tidak mampu menjaga twins R, dari sejak mereka di lahirkan aku sudah membatu mengurusnya dan sekarang dia meragukan keamanan nya sungguh menyebalkan!" Geram Maria yang kini berjalan mengikuti langkah twins R keluar dari mansion Anggasta.


__ADS_2