
Edgar menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat pria lansia dengan penampilan nyentrik dan unik tengah berdiri menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jelaskan apa yang sedang terjadi disini." Tanya sang kakek yang kini mulai memainkan kaca mata di tangannya berjalan penuh gaya menghampiri Edgar.
Dialah Wirasena Anggasta kakek sekaligus orang tua yang membesarkan Edgar dan Arga setelah istri dan kedua orang tuanya meninggal karena sebuah kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
Setelah melihat cucunya tumbuh besar kakek Wirasena memilih untuk pensiun dan pergi ke luar negeri menghabiskan masa tuanya di negara kelahiran sang istri. Semua tanggung jawab perusahaan ia serahkan pada Arga dan Edgar karena ia sangat yakin jika para cucunya bisa menjadi penerus yang handal untuk mengembangkan usaha keluarga Anggasta.
Di masa tuanya saat ini kakek Wirasena sering merasa kesepian tanpa adanya seorang yang bisa menjadi teman ngobrol asiknya, karena Arga dan Edgar sibuk dengan urusan kantor bahkan keduanya selalu menolak untuk menikah dengan berbagai macam alasan, membuat sang kakek merasa kesal dan memilih untuk diam.
Demi mengusir kejenuhan dalam hidupnya, sang kakek pun merubah gaya hidupnya menjadi layaknya seorang remaja yang berpenampilan ala anak hip-hop dan disanalah ia menemukan kebahagiaan dan banyak teman yang asyik menurutnya.
Bertahun-tahun sudah ia berada di luar negeri dan jarang sekali mengunjungi kedua cucunya yang super sibuk.
Kini kakek Wirasena di kejutkan dengan kemunculan wanita cantik dan sepasang bocah kembar menggemaskan tengah ramai di menjadi perbincangan hangat di jagat maya yang di kaitkan dengan Edgar cucunya.
Tanpa berpikir panjang sang kakek pun langsung kembali ke negaranya untuk meminta penjelasan sang cucu, dan di sinilah ia berada saat ini.
Kakek Wirasena trus berjalan memutari tubuh sang cucu dengan mata tua itu terus menatap tajam seakan bisa menembus tubuh Edgar.
"Sudah berapa lama aku meninggalkan negara ini?! aku membebaskan mu hidup sesukamu tapi bukan ini yang aku harapkan membuat malu keluarga saja." Ketus sang kakek.
"Kakek aku bisa jelaskan ini semua padamu tapi,"
"Aku tidak perlu penjelasan sekarang dimana mereka, aku harus menilainya dengan sangat cermat setelah itu barulah aku yang akan memutuskan apakah dia layak untuk menjadi bagian keluarga Anggasta atau tidak." Ucap sang kakek masih dengan nada Ketusnya.
Edgar mulai bingung dan gelisah pasalnya saat ini hubungannya dengan Alika masih memiliki jarak yang sangat jauh, Edgar tidak ingin kedaranga sang kakek membuat Alika semakin jauh dan semakin menjauh dan semakin membenci dirinya.
"Kek aku akan membawanya padamu tapi tidak untuk saat ini karena aku,"
"Aku tidak perduli, kau tetap harus membawanya padaku hari ini juga! Jex ayo cepat bawa semua barangku ke dalam kamar mulai saat ini aku akan tinggal sidini." Ucap kakek Wirasena sambil berlalu di ikuti oleh asisten pribadinya.
"Tapi kek!"
__ADS_1
"Dua jam dari sekarang! jika dalam dua jam kau tidak membawanya maka lupakan saja dia untuk selamanya dan kau harus menikah dengan pilihanku, ini bukan permintaan tapi perintah!" Sang kakak sedikit berteriak tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Argghh....!! bagaimana ini mungkin." Edgar mengacak rambutnya frustrasi.
Sedangkan sang kakek yang melihat ekspresi cucunya dei lantai dua hanya terkekeh geli dan mulai ber tos ria dengan asisten pribadinya.
"Jex apakah aktingku sudah sangat bagus? uchhh... Aku sangat tidak sabar sekali untuk bertemu dengan mereka." Ucap kakek Wirasena yang kini tersenyum penuh arti.
"Akting anda sungguh sangat bagus sekali tuan Wira anda sangat keren." Jex sang asisten yang berpenampilan sama dengan sang kakek pun mengacungkan kedua jempolnya.
***
Dua jam telah berlalu kini Alika dan kedua anaknya sedang berdiri di hadapan sang kakek, namun tak hanya mereka bertiga saja Sabrina dan Maria pun ikut berdiri menghadap sang kakek.
Edgar terpaksa membawa mereka ikut serta karena Alika menolak keras jika tanpa mereka Alika tidak akan pernah mau ikut dengannya.
Edgar menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan berharap semuanya akan baik-baik saja. "Semoga saja kedua gadis aneh itu tidak membuat onar dan kerusuhan di depan kakek." Gumam Edgar menatap sekilas pada Maria dan Sabrina yang berdiri tak jauh dari istrinya.
Alika merasa sangat gugup dan takut saat melihat pria tua di hadapannya terus menatapnya dengan tatapan aneh. Sedangkan Sabrina dan Maria terus mengantupkan bibirnya menahan tawa yang hampir meledak, saat melihat penampilan pria tua yang berada di hadapan mereka tengah duduk dengan gaya angkuhnya
"Itu adalah kalung semacam aksesoris." Jawan Rain membalas bisikan adiknya.
"Tapi itu sangat besar sekali apakah dia tidak lelah memakai aksesoris seperti itu seharian penuh?" Bisik Raina kembali.
"Entahlah, kakak tidak tahu kenapa kau tidak tanyakan langsung saja pada pria tua itu." Jawab Rain membuat Raina langsung menganggukan kepalanya.
"Baiklah aku akan bertanya sendiri pada kakek dan aku juga merasa penasaran dan ingin mencobanya." Gumam Raina. Dengan senyuman manisnya kini gadis kecil dengan rambut panjang itu pun melangkahkan kakinya menghampiri sang kakek.
"Hallo kakek," Raina melambaikan tangannya di hadapan kakek Wirasena.
"Hai gadis kecil." Jawab kakek Wirasena singkat masih dengan gaya angkuhnya.
"Apa kakek tidak menanyakan siapa namaku?" Tanya Raina membuat kakek Wirasena merasa sangat gemas dan ingin segera menggendong gadis kecil itu. Namun ia masih tetap menahan semuanya sebelum ia tahu apakah berita yang sedang vital itu benar adanya atau hanya sekedar hoax.
__ADS_1
"Siapa namamu sepertinya itu tidak penting!" Jawab sang kakek dengan nada ketusnya.
"Owhh ya ampun kakek kenapa kau sangat jual mahal sekali, tersenyulah kakek karena senyuman akan membuatmu terus awet muda biar Raina contohkan, seperti ini."
Raina memperlihatkan beberapa pose senyuman termanisnya membuat sang kakek tak tahan melihat tingkah gemasnya, kini ia pun merentangkan tangannya meminta Raina untuk mendekat dan duduk di sampingnya.
"Gadis kecil kau sangat manis sekali." Kakek Wirasena mencolek hidung kecil cucu buyutnya.
"Namaku Raina dia kakakku Rain dan kamu anak kembar." Ucap Raina memperkenalkan dirinya dengan penuh kepolosan.
"Nama yang indah,"
"Bunda yang memberikannya." Jawab Raina dengan cepat menunjuk ke arah Alika.
"Lalu apakah ibumu juga yang mengajarkan pose tersenyum seperti tadi?" Tanya kakek Wirasena yang di jawab geleng-geleng tanggan oleh Raina.
"Lalu?"
"Aunty Sabrina." Tunjuknya pada Sabrina yang kini mulai menyembunyikan wajahnya di balik tas kecil yang ia bawa.
Kakek Wirasena mengangguk mengerti, kini ia pun meminta Raina dan semua orang yang ada di ruangan itu pergi meninggalkan mereka bertiga. Karena inilah saatnya kakek Wirasena mengintrogasi Alika dan juga Edgar.
"Jelaskan apa yang sudah terjadi tanpa sepengerahuanku dan apakah berita yang beredar itu benar adanya." Kakek Wirasena mulai bertamya dengan wajah seriusnya.
"Mhhh... Itu...." Alika merasa gugup bahkan telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
"Kek,"
"Diam! aku sedang bertanya padanya bukankah padamu." Bentak sang kakek membuat Edgar langsung terdiam membisu di tempatnya.
"Saat itu aku,"
Ceklekk...
__ADS_1
Suara pintu terbuka menghentikan Alika yang akan menceritakan tentang kisahnya dan kini ia pun berbalik menatap ke arah pintu melihat siapa yang datang, kini mata Alika pun terbuka lebar saat melihat kembali seseorang yang pernah singgah didalam hatinya dimasa lalu.
Bersambung...