Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 37


__ADS_3

Para tim dokter mulai menenangkan Edgar dengan menyuntikkan obat bius agar pria itu tidak terus memberontak.


Perlahan mata Edgar pun mulai terpejam dan ambruk di atas lantai. Bukan yang pertama kalinya bagi kakek Wirasena melihat Edgar seperti ini, karena setelah kejadian malam naas itu jiwa Edgar seperti terguncang dan menjadi lebih sensitif terhadap apapun yang menyangkut kejadian itu.


"Tuan besar, anda memanggil saya? " David sedikit membungkukan tubuhnya memberikan hormat pada kakek Wirasena.


"David apakah selama aku tidak ada hal ini terus terjadi pada Edgar?"


"Tidak tuan, hanya saja kejadian enam tahun lalu membuat hubungan di antara kakak beradik itu kembali retak karena sebuah kesalah pahaman." Jawab David dengan jujur.


"Apa karena Alika yang menjadi penyebab utamanya?" Tanya sang kakek dengan wajah dingin dan datarnya. Ini menunjukkan jika saat ini kakek Wirasena tidak sedang bermain-main.


"Nona Alika hanya korban tuan." Jawab David membela istri bosnya. Karena memang kenyataannya jika Alika adalah korban ego seorang Edgar Anggasta.


"Hmmm..."


"Lalu siapa yang salah dalam hal ini, apa aku yang salah?!" Kakek Wirasena mulai terlihat kesal dan marah. Ia sungguh tidak terima jika keluarganya hancur hanya karena seorang wanita.


"Pergilah!" Usir sang kakek pada pria yang kini berdiri di hadapannya.


David pun pergi meninggalkan kakek Wirasena yang masih berdiri membelakangi nya dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celana.


"Baik tuan," David pun kembali membungkukan tubuhnya berjalan melewati Jax sang asisten pribadi kakek Wirasena.


David menghela nafasnya perlahan melirik sekilas pada kakek Wirasena yang masih berdiri di tempatnya. "Semoga saja tidak akan terjadi masalah apapun lagi setelah ini." Ucap David mulai merasa cemas.


David pun menutup pintu ruangan itu dan lebih memilih untuk pergi kekantor mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.


Sedangkan kakek Wirasena kini berjalan menghampiri sang cucu yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


"Cinta tidak boleh selemah itu Edgar kau adalah keturunan Anggasta. Ingat! darah lebih kental dari pada air, aku akan turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.


***


"Bagaimana semuanya sudah seperti yang aku minta?" Alika bertanya pada Maria yang kini berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Semuanya selesai nona, untung saja anda datang tepat waktu, jika tidak."


"Maaf, karena aku kalian berdua sangat kerepotan." Mimik wajah Alika berubah sendu.


"Tidak masalah nona, ini adalah pekerjaan kamu hanya saja kami tidak bisa jika tanpa dirimu." Maria langsunh merasa tidak enak hati melihat ekspresi wajah bosnya. Dalam hidup Maria tidak pernah melihat orang sebaik Alika.


Walaupun dia sudah berubah memiliki segalanya namun jiwa nya masih tetap sama seperti saat mereka bertemu sebelum Alika bersinar seperti saat ini, terlebih Alika memiliki suami yang sangat kaya dan tak kalah hebat darinya.


"Nona apa nona butuh sesuatu?" Tanya Maria saat ia melihat Alika seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Entah kenapa aku hatiku tiba-tiba gelisah dan merasa sesuatu yang besar akan terjadi. Anak-anak!" Alika langsung berdiri seketika dan mengambil tasnya yang teronggok rapi di meja dan pergi dengan sedikit terburu-buru.


"Nona saya ikut!" Maria membuntuti langkah nona bosnya keluar dari ruangan.


"Al, kalian mau kemana?" Tanya Sabrina yang kini berjalan menghampiri sahabatnya yang terlihat begitu cemas.


"Aku mau pulang, aku merasa khawatir dengan anak-anak."


"Owh.. Kamu tidak perlu khawatir twins R ada di ruanganku mereka baru saja tiba beberapa menit yang lalu, aku pikir kamu masih sibuk jadi aku minta mereka untuk menunggu di ruanganku saja." Ucap Sabrina membuat Alika kini bernafas lega.


"Raina dimana kakakmu?" Alika mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang putra.


"Kakak masih di ruangan aunty Sabrina bun." Jawab Raina.


"Apa kalian sudah makan siang? lalu siapa tadi yang mengantarkan kalian kesini?"


"Aku dan kak Rain bosan di rumah menunggu ayah dan bunda jadi kami berniat untuk menyusul kalian dengan naik taksi. Tapi kami tidak tahu dimana rumah sakit tempat kakek di periksa, jadi kami berpikir untuk datang kesini saja meminta bantuan aunty Maria, tapi ternyata aunty Sabrina juga ada disini dan mengatakan bunda juga disini." Ucap Raina panjang lebar menjelaskan pada sang bunda.


"Maaf ya sayang tadi bunda sangat terburu-buru, tapi kalian tidak perlu khawatir karena kakek sudah baik-baik saja. Dia hanya teruka kecil saja." Alika tersenyum dan merapihkan rambut putrinya yang sedikit berantakan.


"Bunda..." Panggil Rain yang baru saja keluar dari ruangan Sabrina.


"Rain, kemari nak." Panggil Alika pada putra kecilnya.


"Ayo sebaiknya kita makan siang bersama Sabrina, Maria kalian juga ikut ayo." Alika menuntun kedua anaknya bersiap untuk pergi ke restoran terdekat.

__ADS_1


***


Di rumah sakit. Edgar mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.


"Alika! Alika!" Edgar beranjak turun dari brankar pasien dan mencabut selang infus yang kini menancap sempurna di lengannya.


"Edgar cucuku, kau sudah sadar rupanya. Tenanglah istrimu baik-baik saja." Kakek Wirasena mencoba untuk menenangkan cucunya yang terlihat begitu cemas dan ketakutan.


"Apa kakek yakin dia baik-baik saja." Edgar menepis tangan sang kakek dan terus berusaha untuk pergi dari ruangan itu.


"Tentu saja, apakah kau tidak percaya pada kakekmu ini? Edgar aku akan segera mencarikan seorang istri untuk adikmu agar kau merasa tenang." Ucap sang kakek yang langsung membuat Edgar terdiam dan menatapnya.


"Apa kakek yakin dia akan menerimanya?"


Kakek Wirasena menghela nafasnya secara perlahan. "Meskipun dia menolaknya tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain itu." Jawab kakek Wirasena dengan nada dinginnya.


"Aku tahu semua ini salahku dan berawal dariku tapi, aku tidak setuju jika kakek akan memaksanya menikah. Aku tidak ingin dia terluka lebih dalam lagi karena aku kek."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Kakek Wirasena menatap wajah tampan cucunya dengan bingung.


"Aku akan memikirkan nya nanti sekarang aku harus pergi mencari keberadaan istriku, kau beristirahatlah kek." Ucap Edgar yang kini berlari meninggalkan sang kakek begitu saja, tak perduli teriakan kakek Wirasena yang terus memanggilnya.


"Dasar anak brandal! aku harap semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada masalah lain lagi yang muncul karena perselisihan di antara mereka berdua." Gumam Kakek Wirasena.


"Jex antarkan aku pergi ke suatu tempat sekarang juga."


"Baik tuan." Jex sedikit membungkukan tubuhnya kini berjalan membuntuti kakek Wirasena meninggalkan rumah sakit.


Beberapa jam berlalu Jex membawa kakek Wirasena ke sebuah tempat seperti yang pria lansia itu inginkan. Namun Jex tidak mengerti mengapa tuannya meminta datang ke tempat itu.


"Tuan apa anda yakin pergi ke tempat seperti ini?" Tanya Jex memastikan.


"Tentu saja! ayo cepat kita turun." Ajak sang kakek, membuat Jex yang merasa begitu enggan terpaksa harus mengikuti keinginan tuan majikannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2