Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 47


__ADS_3

"Sayang..." Edgar berlari menghampiri sang istri untuk memeluknya, namun dengan cepat Alika menghentikan langkah kaki Edgar agar tidak mendekatinya.


"Jangan mendekat! jangan pernah menyentuhku jika sentuhanmu itu hanya akan membuatku terluka." Ucap Alika dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


Hal yang membuat Edgar merasa sedikit aneh dengan sikap istrinya saat ini. "Sayang apa maksudmu? apa kau baik-baik saja? dan kemana saja kamu hati ini apakah kau tak tahu aku hampir gila mencari keberadaanmu." Edgar memberikan beberapa pertanyaan pada sang istri yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Ponselku." Pinta Alika yang kini menatap ponselnya yang berada di tangan Edgar.


"Jawab dulu pertanyaanku, kau itu istriku sudah seharusnya kau meminta izinku terlebih dahulu sebelum kau pergi agar aku,"


"Agar apa?! agar kau bisa bebas melakukan apapun sesukamu di belakangku?! katakan!" Sentak Alika meluapkan kemarahan yang sempat terpendam dalam hatinya.


"Sayang... kenapa kau marah aku hanya bertanya kemana kau pergi hari ini aku mencarimu dan khawatir dengan keadaan mu dan anak-anak, aku mohon jangan ulangi hal ini lagi ya." Edgar melembutkan kata-katanya agar Alika merasa tenang dan tak tersulut emosi.


Edgar berusaha untuk mendekati istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya, namun Alika dengan cepat menepisnya dan memberikan sebuah tamparan yang cukup keras hingga tercetak jelas bekas tangannya di wajah Edgar.


"Alika apa yang kamu lakukan." Edgar menatap tak percaya jika istrinya akan bersikap kasar seperti itu padanya.


"Kamu sudah menipuku Edgar!" Alika menarik kerah baju suaminya dengan tangisan yang begitu memilukan.


Kakek Wirasena memberikan kode pada Arga untuk meninggalkan sepasang suami istri itu untuk segera menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Dengan berat hati Arga pun mengikuti perintah sang kakek untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Edgar masih menatap wajah istrinya yang terlihat begitu memprihatinkan.


Edgar menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke sebuah ruangan agar mereka bisa lebih leluasa untuk mengungkapkan isi hati masing-masing.


"Sayang..."


"Jangan sentuh aku Edgar aku sungguh sangat membenci dirimu! kau sudah menipuku kau juga yang sudah menyebabkan kematian kedua orang tuaku."


"Apa maksudmu? aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu katakan saat ini." Ucap Edgar penuh kebingungan dan tak mengerti dengan apa yang sedang istrinya katakan saat ini.


"Setelah sejauh ini kau masih tidak mengerti dengan apa yang sudah kamu lakukan. Edgar kau sungguh sudah membuatku sangat hancur." Tubuh Alika pun luruh di atas lantai menangis terisak dan mulai mengatakan semua isi di dalam hatinya, kini ia pun meminta jawaban Edgar tentang kejadian malam dimana kecelakaan itu terjadi.


"Katakan apa yang sudah terjadi malam itu Edgar aku ingin mendengarnya sekarang juga." Ucap Alika membuat Edgar terdiam dengan wajah terkejutnya.


"Kenapa kamu hanya diam saja? katakan cepat katakan padaku." Alika menatap wajah suaminya yang terlihat begitu syok dengan pertanyaan yang di lontarkan nya.


"Ma-malam itu aku..."

__ADS_1


Flasback


"Edgar jangan bersedih jika pertunanganmu di batalkan secara sepihak berpikirlah jika dia bukan yang terbaik untukmu." Ucap sang ibu yang kini duduk di belakang Edgar yang tengah menyetir dalam derasnya hujan yang turun membasahi bumi di malam itu.


Edgar hanya diam tanpa menjawab apa yang dikatakan ibunya. Tatapannya terus lurus ke depan dengan menahan rasa sakit dan kecewa karena mengetahui jika kekasihnya sudah mengkhianatinya.


Wanita yang begitu Edgar cintai hanya memanfaatkan cinta nya hanya demi mendapatkan apa yang di inginkan sang gadis.


Hal itu terdengar langsung di telinganya saat kekasihnya tengah bermesraan dengan pria lain, membuat rencana untuk memberikan kejutan lamaran dan melangsungkan pertunangan malam itu hancur seketika.


Rasa bahagia dan cinta dalam diri Edgar kini lenyap seketika di gantikan dengan rasa kecewa yang Edgar membuatnya berjanji pada dirinya, bahwa tidak akan ada lagi seorang wanita pun yang bisa memanfaatkan cinta hanya demi mendapatkan harta dan sebuah ketenaran yang dimiliki keluarga Anggasta.


"Aku akan menghancurkan siapapun yang mempermainkan ku dan keluargaku di masa depan nanti, dan aku tidak akan pernah memberikan kesempatan untuk mereka menjadi benalu dalam keluarga Anggasta." Janji Edgar bersamaan dengan sebuah lampu mobil yang menyilaukan matanya dan membuatnya hilang keseimbangan.


Edgar membanting setirnya untuk menghindari kecelakaan. Namun mobilnya oleng dan tak bisa di kendalikan menyebabkan Edgar menabrak bahu jalan dengan sangat keras.


Suara benturan memekakan telinga terdengar jelas di telinga Edgar yang kini sudah terlempar jauh dari mobilnya. Edgar terjatuh di atas semak-semak yang seakan menolongnya dari maut.


Dengan langkah tertatih menahan sakit di sekujur tubuhnya, Edgar pun berjalan menghampiri mobilnya dan melihat kondisi kedua orang tuanya dan juga neneknya yang terluka cukup parah.


Kini ia pun melirik ke arah mobil putih yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Ingin marah, ingin memaki namun Edgar menahan semua itu dan lebih memilih untuk menyelamatkan keluarganya.


"Tuan muda bagaimana denga penghuni mobil itu?" Tanya David yang kini meminta izin Edgar untuk membawanya ikut serta.


Namun Edgar tak mengatakan apapun dan meminta sopir ambulance untung segera melajukan mobilnya. Sekilas Edgar menatap mobil putih yang sudah tak terbentuk berada tak jauh dari mobilnya.


David merasa kebingungan karena Edgar tak menjawab pertanyaannya.


"To....Long...." Suara rintihan seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil meminta pertolongan. Darah terus mengucur di dahinya menatap David yang masih berdiri menatap pria paruh baya itu.


Tak lama kemudian kakek Wirasena datang bersama Arga dan menghampiri mereka, Arga mencoba menolong pria paruh baya itu sedangkan David masih berdiri mematung di tempatnya.


"David apa yang kau lakukan! cepat bantu aku." Teriak Arga yang berusaha untuk mengeluarkan istri pria paruh baya itu dari dalam mobil.


***


Setelah beberapa menit kemudian, kini Arga dan kakek Wirasena sampai di rumah sakit membawa pasangan suami istri korban kecelakaan itu agar segera mendapatkan pertolongan medis. Setelah itu mereka pun menghampiri Edgar yang kini tengah menangis sejadi-jadinya.


"Kak apa yang terjadi?" Tanya Arga pada sang kakak.


"Mereka sudah pergi." Jawab Edgar di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Tidak ini mungkin." Arga terlihat begitu frustrasi begitu pun dengan kakek Wirasena.


"Tuan Wira ikut saya sebentar." Pinta sang dokter dengan wajah paniknya.


Dengan langkah berat kakek Wirasena pun mengikuti sang dokter sedangkan Arga mulai mencoba menenangkan kesedihan kakaknya.


***


Kini kakek Wirasena dan Arga menghadiri pemakaman tiga keluarga Anggasta yang sangat begitu mereka sayangi.


Namun tidak dengan Edgar yang kini berada dalam pengawasan dokter, ia mengalami depresi berat akibat peristiwa yang sudah di alaminya yang menyebabkan kematian ayah, ibu dan juga neneknya.


Sedangkan David mengurus jenazah sepasang suami istri itu pada keluarganya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari kota.


Flasback End.


Alika menutup mulutnya dan menangis sejadi-jadinya membuat Edgar semakin merasakan pilu mendengar tangisan istrinya.


"Apa hubunganmu dengan mereka sayang?" Tanya Edgar dengan sedikit ragu dan merasakan takut jika apa yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah kebenarannya.


"Mereka adalah orang tuaku."


Deghh...


Edgar langsung tersentak kaget saat apa yang ada dalam pikirannya saat ini adalah kebenarannya.


"Sa-sayang maafkan aku, sungguh aku tidak,"


"Cukup!" Alika menghentikan ucapan suaminya, sungguh ia tidak ingin mendengarkan apapun lagi saat ini.


Setelah sekian lama terdiam kini Alika menatap wajah suaminya dengan tatapan sendunya. "Lalu apakah wanita yang bersamamu siang tadi adalah wanita yang sama dengan yang kau ceritakan sebelumnya?"


Mendengar pertanyaan sang istri membuat Edgar terdiam seketika dan menatap wajah Alika yang kini menatapnya penuh tanya. "Wanita?"


Tiba-tiba bibir Edgar bergetar ia merasa sangat bingung harus mengatakan apa pada istrinya tentang wanita itu.


"Kenapa kau tidak menjawabku? apakah dia gadis yang sama?" Tanya Alika kembali.


"Bukan, tapi wanita itu adalah..." Edgar menelan slivanya saat melihat tatapan istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2