Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 78


__ADS_3

Alika terus menahan rasa sakit yang yang terus datang dan pergi menyiksa dirinya perlahan cairan bening pun mengalir begitu saja melewati kakinya, hal-hal itu membuat Edgar sangat terkejut dan langsung menggendong istrinya pergi meninggalkan pesta itu.


Kini semua orang pun terlihat sangat begitu panik dan mengikuti langkah Edgar bersamanya. Rain dan Reina pun mulai menangis karena takut terjadi sesuatu kepada sang Bunda, namun Sabrina dan Maria mencoba membujuk dan menenangkan kegelisahan kedua anak kembar itu.


David mencoba mengemudikankan mobilnya untuk membawa tuan dan nyonya mudanya pergi ke rumah sakit terdekat dengan selamat.


Sedangkan di pesta itu hanya tersisa Arga seorang, karena semua orang pergi meninggalkan pesta itu dengan dengan penuh kepanikan.


Kini ia pun berusaha untuk membubarkan acara pesta itu dengan tenang, seperti tak terjadi apapun agar semua tamu undangan tidak ikut panik karena hal yang sedang di alamai oleh kakak iparnya.


"Kemana gadis itu, apa dia juga ikut pergi ke rumah sakit?" Gumam Arga membatin mencari sosok Maria wanita yang sudah mulai mencuri hatinya.


Arga mengedarkan pandangannya ke semua penjuru tempat, namun sayangnya ia tidak menemukan orang yang ia cari. Setelah acara selesai kini ia pun berpikir untuk menyusul seluruh keluarganya ke rumah sakit.


Sedangkan Edgar yang berada di rumah sakit tengah merasa panik saat dokter tak kunjung keluar dari ruangan istrinya.


"Apa yang dokter itu lakukan di dalam? Kenapa mereka tidak kunjung Keluar apa yang terjadi kepada istri dan calon anakku?'' Edgar terus berjalan mandar-mandir menunggu sang dokter selesai memeriksa keadaan istrinya, hatinya kini tengah dilanda sebuah kepanikan dan ketegangan yang tiada terkira.


Rasa takut pun kini mulai menghimpit perasaan di dalam hatinya. Edgar merasa takut jika sesuatu terjadi kepada istri dan calon anaknya, namun kakek wirasena mencoba untuk menenangkan kebimbangan yang setengah dirasakan oleh sang cucu saat ini.

__ADS_1


"Jangan terlalu cemas, istrimu pasti akan baik-baik saja kakrk yakin itu.'' Ucap sang kakek menepuk pelan bahu cucunya.


"Bagaimana aku tidak cemas ketika istriku seperti itu! kakek mungkin tidak merasakan seperti yang aku rasakan saat ini aku tak sangat takut jika sesuatu terjadi pada istri dan calon bayi kami." Jawab Edgar dengan wajah kesalnya.


"Anak muda. Kau sangat meremehkan aku rupanya, bahkan aku sudah pernah mengalami hal ini sebelum kau terlahir ke dunia ini. Dan kau masih bilang jika aku tidak bisa merasakan hal ini? sesungguh itu sangat konyol." Ujar kakek Wirasena dengan mata mendelik ke arah cucunya.


Mendengar kekesalan sang kakek, Edgar hanya diam saja tak menggubris ucapan sang kakek kini yang berlari ke arah pintu ruangan yang terbuka dan mulai memberondong beberapa pertanyaan kepada wanita berjas putih yang tengah menangani istrinya.


"Dokter! Bagaimana keadaan istriku apa dia baik-baik saja? Lalu bagaimana keadaan calon bayi kami, apakah dia juga baik-baik saja?" tanya Edgar dengan raut wajah penuh ketakutan.


"Anda tidak perlu khawatir tuan ini sering terjadi kepada seorang ibu yang akan melahirkan anak-anaknya ke dunia. mereka akan mengalami kontraksi pada saat proses pembukaan untuk melahirkan secara alami. Apakah anda ingin menemani istri anda melahirkan?" tanya sang dokter.


"Kenapa kau masih bertany! Tentu saja aku pasti akan menemani istriku melahirkan karena ini adalah momen yang sangat aku tunggu-tunggu sejak lama, sekarang di mana istriku ayo cepat kita ke sana!" ajak Edgar dengan sedikit tidak sabaran.


"Aunty, apakah bunda kami akan baik-baik saja? Apakah adik bayi akan segera lahir dan menemui kamu?" Tanya Raina dengan wajah polosnya.


"Kita doakan saja semoga bunda dan adik bayi selamat dan mereka baik-baik saja." Jawab Maria dengan tangan yang mengelus wajah kepala gadis kecil itu dengan sangat lembut.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihat adik bayiku apa yang ingin melihat wajahnya apa dia juga mirip sepertiku?" Timpal Rain.

__ADS_1


"Adik bayi Pasti sangat mirip seperti kalian kalian sangat manis dan menggemaskan." Ucap Sabrina membuat kedua bocah kembar itu tersenyum kegirangan.


***


Setelah beberapa menit terlalu kini suara tangisan baik pun terdengar membuat semua orang yang ada di luar ruangan itu mengucap syukur dengan penuh kebahagiaan.


"Aku sangat tidak sabar untuk melihat bayinya." Gumam Sabrina di samping telinga David suaminya.


"Kenapa begitu? Kenapa kita tidak membuatnya sendiri saja pasti bayi kita sangat lucu dan menggemaskan sepertimu." Berisik David sedikit menggoda istrinya.


"Konyol!" Sabrina tersipu malu mendengar ucapan suaminya.


"Bagaimana jika kita membuatnya sekarang saja. Ayo ikut aku." Ucap David yang kini menarik tangan Sabrina untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Maria yang mendengar percakapan pengantin baru itu mulai merinding dan mengusap tengkuknya.


"Itu sangat menggelikan sekali." Gumam Maria lirih menatap punggung sepasang pengantin baru itu semakin menjauh dari pandangannya.


Maria pun mulai mengusap tangannya yang terasa dingin saat memikirkan sesuatu yang akan terjadi di antara sepasang pengantin baru itu.

__ADS_1


"Kenapa otakku tiba-tiba memikirkan hal yang sangat kotor? Maria apa yang kamu pikirkan!" Maria menonyor kepalanya sendiri dan membuang pikiran aneh yang berada di luar nalarnya.


Bersambung..


__ADS_2