Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 52


__ADS_3

Sesuai petunjuk dan lokasi kini Edgar telah sampai di sebuah tempat yang begitu kumuh tak terurus.


"Kalian semua! berpengaruh dam jangan biarkan para bandit itu lari setelah apa yang mereka lakukan pada anak-anakku." Titah Edgar memberikan instruksi pada para anak buahnya.


"Baik tuan muda." Ucap para anak buahnya yang mulai berpencar mengelilingi tempat itu seperti yang Edgar inginkan.


Edgar mengendap-endap masuk untuk mencari keberadaan kedua anaknya. "Mereka tak jauh dari sini." Dengan sedikit berhati-hati Edgar mulai melumpuhkan para anak buah bandit itu hingga tak berdaya.


Begitupun dengan dengan anak buahnya. Rain dan Raina yang melihat ayahnya datang pun merasa sangat begitu senang, namun kini seorang pria bertubuh besar datang mendongkakkan pistol ke arah twins R untuk mengancam Edgar.


Rain masih mencoba membuka ikatan tangannya sedangkan Raina mulai merasa ketakutan melihat pistol yang kini di berada di depan wajahnya.


"Mundur atau salah satu dari mereka akan ku lenyapkan!" Ancam pria itu membuat Edgar langsung menuruti perintahnya, karena ia tak ingin gegabah dalam mengambil sebuah keputusan.


"Lepaskan anak-anakku!" Pinta Edgar membuat pria itu tersenyum sinis.


"Mudah saja, menikah dengan nona kami dan mereka akan selamat."


"Omong kosong!"


Merasa tak puas dengan jawaban Edgar, kini pria itu pun merasa kesal dan mengarahkan pistolnya ke atas dan menarik pelatuknya.


Dooorr...


Suara tembakan yang begitu nyaring membuat Raina terkejut dan menjerit sekuat tenaga. Keringat dingin pun mulai mengucur deras membasahi tubuh mungilnya yang sangat begitu ketakutan.


Bersamaan dengan Rain yang berhasil. membuka ikatan tangannya, kini ia pun langsung menggengam tangan sang adik untuk menenangkan rasa takutnya.


Raina menoleh ke arah sang kakak yang kini menggelengkan kepalanya memberikan sebuah isyarat jika sang adik harus tetap tenang dan semuanya akan baik-baik saja.


Sang pria berbadan besar itu tersenyum senang namun ia tak tau jika anak bua Edgar sudah bersiap menunggu perintah tuannya.


"Sekarang!" Ucap Edgar langsung berlari menghampiri sang anak dan memeluknya dengan sangat erat agar tidak melihat apa yang sedang terjadi di belakang mereka.


"Ayah..." Panggil Rain dan Raina bersamaan.


"Kalian jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Dimana bunda?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir putrinya membuat Edgar merasa sedikit cemas dengan keadaan istrinya saat ini.


"Bunda wanita yang hebat dan tangguh dia pasti baik-baik saja." Jawab Edgar mulai menenangkan kegelisahan kedua anaknya, namun ia sendiri tak bisa menengah kegelisahan dirinya sendiri.


"Kenapa ayah berbicara seperti itu, ada apa dengan bunda? dimana bunda?" Pertanyaan beruntun pun kini keluar dari bibir putranya yang terlihat sangat jelas jika Rain sangat mengkhawatirkan keadaan sang bunda.


"Ayah kenapa ayah diam saja?" Tanya Rain kembali, ia merasa sangat aneh melihat raut wajah ayahnya saat ini.


"Baiklah anak-anak sebaiknya kita pergi dari tempat ini sekarang." Ajak Edgar mengalihkan perhatian Rain dan Raina yang terlihat begitu cemas.


Edgar tak bisa menjawab semua pertanyaan mereka karena ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan istrinya saat ini.


***


Di rumah sakit. Sabrina tengah menunggu dokter selesai memeriksa keadaan sahabat terbaiknya.


Sabrina terus berjalan mondar mandir membuat David dan Maria bingung melihatnya.


"Bisakah kau lebih tenang sedikit?!" Kesel David yang langsung menghentikan langkah kaki Sabrina saat ini. Namun Sabrina hanya melirik sekilas ke arahnya dan kembali melanjutkan apa yang sedang ia lakukan sebelumnya.


Saat ini Sabrina tak ingin berdebat dengan David dan ia pun memilih untuk diam dan tak mengatakan apapun. Sedangkan David hanya menggelengkan kepalanya dengan tangan bersedekap dada.


Suara pintu terbuka, seorang pria berjas putih pun berdiri di ambang pintu membuat Sabrina langsung berlari menghampirinya.


"Dokter bagaimana keadaannya apa doa baik-baik saja?" Sabrina menggengam erat tangan dokter muda itu membuat David yang melihatnya langsung merasa panas dan kesal.


Hal itu terlihat begitu jelas di mata Maria. "Sepertinya ada bau hangus?" Ucap Maria berceloteh membuat David langsung melirik ke arahnya.


Maria menelan salivanya dengan susah payah, ia merasa sangat terintimidasi dengan tatapan David saat ini.


"Hmm.... Tuan, jika aku boleh memberikan saran sebaiknya perjuangankan jika memang harus di perjuangkan dan tinggalkan jika memang tidak baik untukmu."


"Ckkk... Apa yang kau pikirkan? apa kau pikir aku menyukainya?! tidak! kau salah besar, dia selalu membuatku kesal mana mungkin aku menyukainya gadis bar-bar yang aneh!" Jawab David dengan nada ketusnya.


"Cihhh... Munafik sekali, sudah terlihat sangat jelas jika wajahmu menunjukkan kecemburuan tapi kau masih saja mengelaknya, sudahlah terserah kau saja! tapi asal anda tahu tuan sikap bar-bar kami adalah hal yang paling membahagiakan untuk kami."


Dengan wajah kesal Maria pun bergegas meninggalkan David dan menghampiri Sabrina yang masih berbicara dengan sang dokter.

__ADS_1


"Kalau begitu ambil darahku saja dokter, golongan darah kami sama." Sabrina mengulurkan tangannya pada dokter tampan itu.


"Baiklah silahkan ikut saya untuk pemeriksaan." Ajak sang dokter yang di angguki oleh Sabrina.


"Nona Sabrina apa yang terjadi?" Tanya Maria yang kini melirik ke arah Sabrina yang akan pergi bersama sang dokter.


"Alika kritis dan membutuhkan banyak darah, stok darah rumah sakit ini kosong jadi aku akan mendengarkan darahku."


Maria menganggukan kepalanya tanda mengerti. "Kalau begitu, ambil darah saya juga."


"Baiklah, ayo!" Ajak Sabrina.


Kedua gadis itu pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu menyisakan David yang kini berdiri sendirian di sana.


"Mau pergi kemana mereka? Aishhh... kenapa aku ditinggal disini sendirian! kenapa tuan muda juga lama sekali?" Berbagai macam pertanyaan pun terlontar dari bibir David


"Astaga! kenapa aku bisa lupa, aku bahkan belum mengabari hal ini pada tuan muda. Matilah kau David." Kini pria itu pun langsung merogoh sakunya untuk menghubungi Edgar.


Namun kini matanya terbelalak saat melihat Sabrina dan dokter tampan itu berjalan saling menggengam tangan dan hilang di balik dinding.


"Wanita itu kenapa dia sangat duka sekali menggoda pria, lihat saja akan aku beri pelajaran nanti." Geram David yang kini meremas ponselnya dengan sangat kuat.


[Hallo David, ada apa dan dimana istriku sekarang? ]


Pertanyaan dari sebrang sana menyadarkan David dari kekesalannya saat ini.


"Hah... Iya tuan muda saya berada di rumah sakit permata kamu,"


[Apakah istriku baik-baik saja?! tunggu aku akan segera datang!]


Suara teriakan Edgar membuat telinga David sedikit berdenging hingga membuat David sedikit menjauhkan ponselnya.


"Astaga! telingaku sakit sekali." Keluh David yang langsung mengusap telinganya.


"Tunggu sampai tuan muda datang aku akan memberikan sedikit pelajaran pada gadis bar-bar itu." Gumam David lirih, menatap pada tempat dimana Sabrina dan dokter itu menghilang.


Sedangkan di tempat lain, Edgar terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tak menyadari raut wajah ketakutan kedua anaknya saat ini.

__ADS_1


Hatinya merasa takut dan cemas terjadi sesuatu pada istrinya saat ini.


Bersambung...


__ADS_2