
"Sayang..." Panggil Edgar namun di acuhkan oleh sang istri.
"Sayang...."
"Sayang..." Edgar terus merengek agar istrinya mau menoleh padanya.
"Jangan menggangguku! aku masih sangat kesal padamu." Ucap Alika dengan tatapan mata yang terus tertuju pada laptopnya dengan tangan yang terus menari lincah di atas keyboard.
"Aishhh... Bagaimana lagi caranya menjinakan induk singa ini. Jika terus begini bagaimana aku menuruti keinginan kakek yang ingin memiliki cicit yang begitu banyak. Pikirkan sesuatu Edgar."
Edgar menghentikan jarinya saat terlintas suatu ide terbaik menurutnya. "Ahh... Sayang kenapa tiba-tiba jantungku terasa sakit sekali." Edgar memulai aktingnya untuk mendapatkan perhatian dari sang istri.
Namun Alika masih tetap bersikap cuek dan terus pokus pada pekerjaannya. "Sudah aku katakan jangan menggangguku dan hentikan tingkah konyolmu itu." Tegas Alika.
Tetapi Edgar tak kehabisan akal ia terus mengaduh kesakitan dan untuk meyakinkan istrinya.
"Ckkk... Dia sungguh sangat berisik sekali membuat aku tidak bisa pokus dengan apa yang sedang aku kerjakan saat ini." Alika mendengus kesal dan mencoba melirik ke arah suaminya.
"Edgar!" Alika melebarkan matanya dengan wajah penuh kepanikan.
'Edgar apa yang terjadi padamu, Edgar sadarlah." Alika mencoba menekan dan memompa jantung suaminya.
"Edgar bertahanlah aku akan menghubungi ambulance."
"Osksigen," Ucap Edgar lirih seolah seolah merasa sangat begitu kesakitan.
"Hah... Oksigen, bagaimana ini." Tanpa pikir panjang kini Alika pun mulai memberikan nafas buatan untuk suaminya.
Namun diluar dugaan. Edgar langsung mencium bibir sang istri yang sudah menjadi candu baginya.
Alika sangat begitu terkejut dan mulai melebarkan matanya, ia merasa tertipu oleh suaminya dengan cepat Alika pun mendorong tubuh Edgar.
__ADS_1
Namun Edgar menahan tangan istrinya, Edgar memanggul tuhuh ramping istrinya dan menidurkannya secara perlahan dengan bibir terus bertaut.
Alika mencoba untuk berlari dari cengkraman istri dan kedua anaknya, namun sayangku tenanga Alika tak cukup kuat untuk hal ini
Edgar menautkan jari-jari rebus mencumbu sang istri dengan penuh gairah ia tak ingin melepaskan istrinya begitu saja, karena ia menunggu hal ini dengan sangat lama ia tak ingin jika keinginannya terus berakhir di kamar mandi sendirian.
Edgar tak ingin menunggu lama lagi kini ia membuang semua kain yang melekat di tubuh istrinya dan menelusuri beberapa tempat favoritnya.
Setelah merasa cukup puas bermain disana kini ia pun mulai melakukan misi utamanya, namun dering ponsel keduanya berbunyi secara bersamaan? membuat Edgar mendengus kesal dan mengutuk orang yang sudah mengganggu aktivitas panasnya bersama sang istri.
***
Di dalam mobil Maria dan Arga saling diam tak ada pembicaraan apapun di antara keduanya, begitu pula dengan twins R yang merasa sedikit aneh melihat tingkah Maria yang tak seperti biasanya.
"Aunty apa kamu baik-baik saja?" Tanya Raina.
"Ya aku baik-baik saja, kenpa? apa kalian ingin pergi ke suatu tempat setelah pulang sekolah nanti?" Tanya Maria tanpa menoleh ke arah Raina.
"Kenapa dia terlihat sangat sangat begitu terburu-buru sekali." Arga melirik sekilas ke arah Maria dan memperlihatkan penampilan gadis itu dengan sedikit mencebikan bibirnya.
"Jaga pandanganmu, aku tidak perduli siapa dirimu dan dari kasta mana kau berasal aku akan tetap memberikan pelajaran pada orang yang bersikap kurang ajar padaku." Ucap Maria memberikan sebuah peringatan untuk Arga.
"Cihhh... Siapa yang menandangmu? kau pikir aku sudi, hey nona bangunlah tidurmu terlalu miring untuk berpikir jika aku tertarik padamu." Ucap Arga begitu pedas menusuk relung hatinya.
"Twins kita sudah sampai." Ucap Maria yang kini tersenyum ke arah kedua bocah kembar itu.
"Aunty, semoga harimu menyenangkan kami pergi dulu ya." Raina melambaikan tangannya pada Maria.
"Bagaimana hariku bisa menyenangkan jika harus satu mobil bersama orang asing." Sindir Maria yang kini melajukan mobilnya kembali.
"Kau pikir aku betah berdua bersamamu disini. Kau tidak masuk kriteria ku sama sekali, aku tidak tahu bagaimana gadis sepertimu akan mendapatkan pria yang kamu inginkan bisa saja sang mempelai pria kambur di hari pernikahan kalian." Suara tawa Arga pun kini menggelegar memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
Ucapan Arga benar-benar membuat Maria yang merasa sangat tersinggung dan mengingatkan lagi pada kisah masa lalunya yang begitu menyakitkan.
Kini ia pun menghentikan laju kendaraannya. "Jika kamu tidak sudi bersama denganku lebih baik kau pergilah jauh-jauh dariku." Ucap Maria dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.
Manik mata Maria pun mulai memerah menahan air matanya yang akan jatuh. "Cepat keluar!" Usir Maria yang kini berteriak begitu kencang tanpa ingin memandang wajah pria yang ada di sampingnya kini.
Arga yang melihat reaksi Maria saat ini pun merasa sangat bersalah karena sudah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaannya.
"Apa kau yakin akan menurunkan aku di tempat sepi seperti ini." Arga merasa enggan turu dari mobil Maria saat ini, karena dari sisi mana pu tempat itu sangat begitu jauh dari pusat kota.
Bahkan ia tahu jika jaringan internet sangat sulit di daerah tersebut. "Cepatlah aku tidak punya bahanyak waktu lagi." Ketus Maria.
"Baiklah kalau begitu aku akan turun dari mobilmu ini, tapi tolong jangan turunkan. aku disini." Mohon Arga.
Namun Maria tidak ingin mendengarkan apa yang Arga katakan saat ini, hingga Maria pun terpaksa menendang b*k*ng pria itu hingga jatuh tersungkur.
Setelah ia berhasil mengeluarkan Arga dari dalam mobilnya kini ia Maria pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor tempat ia bekerja.
"Arggh Dasar bajingan berani sekali dia mengatakan hal itu padaku. Uchh... Dia sangat keterlaluan" Maria memukul setirnya beberapa kali mengeluarkan kekesalan dalam hatinya.
"Sekarang rasakan saja itu, anggap saja ini sebagai pembalasanku, aku yakin kau akan sampai di kota pada sore nanti." Maria tersenyum samar.
"Ishhh... Dasar gadis menyebalkan tak punya hati dan perasaan bisa-bisanya dia menurunkan aku disini " Kesal Arga yang mencoba menghubungi seseorang agar menjemputnya ditempat itu.
Namun sayangnya ia tak menemukan jaringan sedikit pun membuat ia mulai merasa frestasi karena nya.
Arga mencoba menghentikan beberapa mobil untuk mendapatkan tumpangan. "Haaa... kenapa mereka hanya lewat saja tak menghiraukan teriakanku
Dengan wajah lesu, Arga duduk lemas tertunduk merenung di atas aspal kemudian ia kembali membenarkan pakaian yang sudah tampak kasut. Kini mobil berwarna merah menyala punmulai berhenti tepat di hadapan.
"Masuklah sebelum aku berubah menjadi pikiran." Ucap seorang wanita dari dalam mobilnya.
__ADS_1
Bersambung...