Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 34


__ADS_3

Edgar menutup mata istrinya saat melihat asisten pribadinya mulai melahap bibir sahabat istrinya penuh gairah.


"Aish... mereka membuat aku iri saja!" Kini Edgar mulai melirik ke arah istrinya berharap mereka pun akan melakukan hal yang sama seperti pasangan yang ada di hadapannya.


"Jangan menatapku seperti itu." Ucap Alika yang kini mendelikan matanya ke arah suaminya.


"Sayang kita sudah menikah bahkan kita bisa melakukan hal yang lebih dari itu." Edgar mulai merengek mengikuti Alika yang kini berjalan masuk kembali ke dalam mansion.


"Lalu?!" Alika menghentikan langkah kakinya seketika dan menatap wajah tampan suaminya yang kini tersenyum mesum ke arahnya.


"Sayang, aku sungguh minta maaf dan aku sangat menyesali semua perbuatan ku padamu dimasa lalu. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi." Pinta Edgar memohon.


"Hmm... Begitu ya? baiklah ayo ikut denganku!" Ajak Alika yang langsung membuat wajah Edgar berbinar ceria.


"Yes..!! akhirnya malam pertama, ups.. malam kedua." Edgar berjalan mengikuti langkah istrinya dengan perasaan senang.


Alika melirik sekilas dengan senyuman menyeringai melihat tingkah laku aneh suaminya.


****


"Sayang kenapa harus seperti ini? aku tidak kuat jika kau berada di atas dengan posisi yang sama seperti ini." Protes Edgar terdengar sampai di telinga kakek Wirasena yang kini tengah berdiri di balik pintu kamar Edgar.


"Lakukan saja perintahku, setelah ini baru aku akan memutuskan apakah aku akan memaafkan mu atau tidak."


"Ini terasa menggelikan tapi ini juga kabar baik sepertinya tidak berapa lama lagi cicitku akan bertambah." Kakek Wirasena terkikik geli dan melenggang pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan sepasang suami istri yan berada dalam kamar itu tak sama seperti yang kakek Wirasena pikiran.


Alika duduk di punggung Edgar yang tengah melakukan push up seperti yang Alika perintahkan, ia memberikan waktu selama dua jam pada suaminya untuk melakukan hal itu tanpa jeda.


Awalnya Edgar ingin menolak namun demi memiliki Alika kembali dan mendapatkan maaf nya, Edgar menyetujui permintaan sang istri dengan suka rela walaupun terkadang ia mengeluhkan berat badan sang istri yang membuat Alika semakin kesal padanya.

__ADS_1


Alika bahkan sengaja untuk memangku barang-barang yang cukup berat untuk menambah beban tubuhnya menjahili sang suami.


Satu jam telah berlalu, keringat mulai membasahi tubuh Edgar kekuatannya pun mulai menipis, rasa lelah mulai menjalar di tubuhnya bahkan tangannya mulai terasa keram.


Namun ia tak menghentikan aktivitas nya dan terus melakukan gerakan push up seperti yang Alika inginkan.


Alika menatap jam yang tergantung di dinding ia berharap jika Edgar mengatakan sesuatu atau menghentikan permintaan konyolnya, tetapi sampai saat ini Edgar masih diam dan terus melakukan apa yang ia inginkan.


Perlahan Alika menatap punggung suaminya yang terus melakukan gerakan naik turun mengangkat beban tubuhnya. "Apakah aku sangat keterlaluan melakukan hal ini padanya." Alika menghela nafasnya perlahan kini manik mata Alika pun tertuju pada tangan yang terbalut kain kasa yang sudah berubah warna.


Seketika Alika pun berdiri menjauh dari punggung suaminya dan meminta Edgar untuk berhenti. Namun Edgar tak menghentikan aktivitasnya dan menghiraukan permintaan Alika.


"Edgar aku bilang berhenti..!" Pekik Alika membuat Edgar langsung terdiam dan melirik ke arahnya.


"Ini belum dua jam sayang tunggu sebentar lagi ya!" Edgar tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Edgar Anggasta sudah cukup! aku minta berhenti tangan mu terluka." Alika menarik tubuh Edgar agar menghentikan aktivitasnya.


Edgar tersenyum tipis dan menghampiri istrinya yang terlihat begitu panik. "Jangan menangis aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil." Edgar mengusap air mata Alika dengan penuh kelembutan.


Namun hal itu tak membuat Alika berhenti menangis. Kini tangisannya bahkan semakin kencang memekakan telinga membuat Edgar mulai kebingungan menghadapi sikap istrinya.


"Sayang tenanglah!" Edgar membawa Alika ke dalam pelukannya dan mengusap punggung istrinya secara teratur untuk menenangkan kesedihannya.


"Maafkan aku, jangan menangis lagi, sudah cukup aku tidak ingin melihat air mata ini lagi. Tapi aku hanya ingin melihat mu tersenyum bahagia." Edgar menempelkan keningnya di kening sang istri dengan mata terpejam.


Setelah beberapa saat berlalu kini alika mulai merasa tenang dan menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu.


Tanpa banyak kata Alika meraih tangan Edgar dan mulai mengobati lukanya. "Aku minta maaf karena sudah sangat begitu keterlaluan padamu." Ucap Alika penuh ketulusan.


"Kamu tidak salah dan tidak perlu minta maaf padaku." Edgar tersenyum dan menahan tangan Alika saat ia hendak pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


"Maaf aku telah memisahkanmu dari adikku."


"Itu sudah berlalu." Alika melepaskan genggaman tangan suaminya kembali menyimpan kotak obatnya ke tempat semula.


"Aku salah telah memulai hubungan kita dengan sebuah pengkhianatan dan penipuan, tapi cintaku padamu saat ini adalah hal yang nyata. Aku mencintaimu Alika Maheswari." Edgar berkata dengan lantang membuat Alika terdiam sejenak dari aktivitasnya.


"Aku tahu itu." Alika berbalik menatap wajah tampan suaminya yang terlihat terkejut dengan jawabannya.


"Aku juga mencintaimu Edgar Anggasta, tapi itu dulu. Sekarang aku sangat membencimu, sangat!" Alika berjalan kembali menghampiri suaminya yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Apakah kau yakin dengan ucapanmu Alika, kita sudah menikah bahkan dua kali apakah kau tidak memiliki perasaan sedikit pun padaku?"


"Kita menikah bukan karena keinginan tapi karena demi anak kita bukan?" Alika memalingkan wajahnya saat Edgar kini menatap matanya.


"Alika tatap mataku dan katakan jika kau masih mencintaiku!" Edgar mencengkram lengan istrinya dengan tangan bergetar.


Kini kedua netra mereka pun saling terpaut Edgar melihat cinta, kesedihan dan keraguan di dalam mata istrinya.


"Apa yang akan membuatmu percaya jika aku sangat mencintaimu Alika, aku bahkan rela mati untuk mendapatkan cinta dan kepercayaan mu lagi." Mata Edgar kini mulai mengembun dan mengeluarkan cairan beningnya.


Satu hal yang tak pernah Edgar lakukan di hadapan siapapun namun kini ia merasa sangat lemah di hadapan istrinya.


"Jangan menangis." Lirih Alika yang kini memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menumpahkan segala kerinduannya selama ini.


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Edgar membalas pelukan sang istri dan mendaratkan beberapa kecupan di kening sang istri.


"Tetaplah begitu dan jangan kecewakan aku, karena jika itu sampai terjadi aku tidak akan segan-segan untuk pergi meninggalkan mu dan membawa anak-anak pergi." Balas Alika yang kini semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku berjanji." Edgar sedikit melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah sang istri dengan penuh cinta.


Edgar mengusap air mata istrinya yang berhenti mengalir bak derasnya air sungai "Jangan menangis." Edgar menangkup wajah istrinya dan melabuhkan ciuman yang begitu lembut membuat Alika merasa sangat terbuat dengan sentuhannya.

__ADS_1


Kini bibir keduanya pun mulai saling bertautan, mengecap dan bertukar slipa penuh gairah. Namun kini aktivitas penuh gairah mereka pun terhenti karena suara riuh memekakan telinga.


__ADS_2