
Di tempat lain, Maria mulai bersin-bersin sampai hidungnya memerah. "Astaga! siapa yang sedang memakiku?" Ucapnya lirih sambil menggosok hidungnya yang sangat gatal.
Kini Maria yang baru selesai mandi pun langsung mengeringkan rambutnya dan menatap pantulan dirinya di cermin. perlahan ia mengusap bibirnya dan mengingat kembali ciuman pertamanya bersama Arga.
"Ahhh konyol! kenapa aku mengingatnya kembali aku hanya menolongnya saja tadi. Tapi kenapa hatiku berdetak kencang saat mengingat semuanya, bahkan aku merasa semuanya sangat indah dan.... ah lupakan saja Maria kau sudah mulai gila karena pria aneh itu." Maria melemparkan handuknya dan kembali mengeringkan rambutnya mencoba melupakan semua yang sudah terjadi padanya dan Arga.
***
Hari-hari berikutnya Maria bekerja seperti biasanya namun kali ini Alika lebih jarang masuk kantor karena permintaan sang suami, dan karena hal itu Maria lebih sibuk dengan segala pekerjaan nya sehingga ia tak pernah lagi bertemu dengan Arga dan melupakan kejadian hari itu.
"Nona Sabrina Kenapa anda terus melamun apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati anda pikirkan anda?" Tanya Maria pada Sabrina yang terlihat begitu tertekan.
"Entahlah Maria aku merasa seperti ada yang hilang dariku saat dia tidak ada di sampingku tapi sebaliknya merasa sangat kesal saat dia ada disampingku dan mencoba merayuku, Hahh.... Apakah itu yang dinamakan cinta dan benci menjadi satu? Maria tolong aku bagaimana caranya aku mengendalikan hati dan pikiranku sendiri?" Sabrina dengan wajah lesunya meminta pendapat Maria.
"Maaf nona aku tidak bisa membantumu kali ini, karena aku sendiri kurang memahami apa itu cinta bahkan selama ini aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan seorang pria setelah aku dicampakkan dan ditinggalkan di hari pernikahanku oleh mantan kekasihku. Sejak saat itulah aku tidak ingin mengenal cinta dan memulai hubungan dengan pria lain, hatiku tidak ingin merasakan sakit lagi terlebih dengan kondisiku saat ini, rasa sakit itu masih ada nona dia bahkan meninggalkanku dan mengakhiri semuanya tanpa mendengarkan penjelasan apapun dariku."
Perlahan air mata Maria pun luruh begitu saja membuat Sabrina merasa sangat tidak enak hati karena sudah mengungkit masa lalu pahit yang sudah dilalui Maria.
"Maafkan aku Maria aku tidak bermaksud untuk mengingatkan pada kisah masa lalumu, sebaiknya kau lupakan masa lalumu dan mulai menata masa depanmu, karena aku yakin seseorang telah menunggumu di depan sana dan dia akan menjadi pilihan hatimu dan menjaga hatimu dengan baik." Ucap Sabrina yang kini memberikan pelukan hangat untuk Maria.
"Terima kasih nona." Ucap Maria dengan suara tercekat menahan tangis yang akan keluar.
__ADS_1
"Tidak Maria, luapankan saja jika kau ingin menangis jangan sungkan anggap saja aku juga saudarimu. Jangan terlalu formal denganku karena aku juga sama manusia biasa seperti dirimu." Sabrina mengelus punggung Maria dengan lembut untuk menenangkannya.
"Terima kasih nona saya sangat beruntung mengendal anda dan nona Alika kalian sangat baik sekali padaku. Aku merasa seperti memiliki keluarga yang sangat menyayangiku terima kasih." Ucap Maria dengan senyuman penuh ketulusan.
"Hmmm.." Sabrina menganggukan kepalanya membalas senyuman Maria.
"Entah mengapa aku melihat begitu banyak luka di mata Maria dia bahkan bisa menyembunyikan semua kesedihannya dengan sangat baik, dia adalah wanita tangguh dan pernah aku temui sama seperti Alika, lalu bagaimana dengan diriku yang selalu mengeluh ini? aku bahkan tidak bisa menyembunyikan Kesedihanku sendiri." Gumam Sabrina membatin.
Kegalauan yang dirasakan Sabrina ternyata dirasakan pula oleh David suaminya, ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi karena terlalu memikirkan istrinya yang tidak pernah bisa membalas cintanya.
"Apakah dia benar-benar tidak bisa mencintaiku lagi? lalu Apakah aku harus berhenti mencintainya juga dan melepaskannya agar dia bisa hidup bahagia." David menghela nafasnya perlahan kini ia pun mulai memikirkan sesuatu untuk kebahagiaan Sabrina.
"Sepertinya ini jalan yang terbaik untukku dan dirinya, aku berharap dia bahagia dengan perpisahan ini dan aku berharap dia dapat memiliki pasangan hidup yang bisa mencintainya dengan tulus." Gumam David lirih.
Arga yang duduk tak jauh dari David pun mulai mengernyitkan dahinya menatapnya dengan penuh tanya. "Sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan? Kenapa dengan dirimu apakah kau sedang bertengkar dengan istrimu? apakah kau tidak di beri jatah semalam dan tidur di luar?" Tanya Arga sedikit terkekeh mulai mengundang kekesalan di hati David.
"Tuan kerjakan saja urusanmu kau tidak perlu mengurusi urusanku.'' Ketus David dengan wajah datarnya.
"Hmmm... Aku mengerti."
David dan Arga pun mulai kembali bekerja namun suara ketukan pintu tiba-tiba membuat mereka menatap ke arah sumber suara.
__ADS_1
''Tuan David seorang wanita muda datang untuk mencarimu dia mengatakan ini sangat penting sekali." Ucap seorang staf sedikit membungkukan tubuhnya di hadapan David.
David mengernyitkan dahinya, kini ia mulai berpikir apakah yang di maksud staf itu adalah istrinya. Karena selama ini tidak ada seorang wanita pun yang berani menemuinya secara pribadi seperti ini. Karena rasa penasaran yang tinggi kini David pun mulai menyetujuinya.
"Baiklah aku akan segera datang menemuinya." Jawab David yang langsung berdiri dan bergegas mengikuti staf itu.
"Pria konyol! siapa wanita yang menemuinya kali ini, apakah dia istrinya? aku tahu dia sudah menikah tapi selama ini aku tidak pernah tahu siapa istrinya, mungkin ini kesempatanku untuk mengetahui siapa istri pria konyol itu." Arga terkikik geli dan membuntuti langkah David secara sembunyi-sembunyi, agar David tidak mengetahuinya.
"Di mana pria panjang itu?" Gumam Arga yang kini memindai seluruh ruangan untuk mencari keberadaan asisten pribadi kakaknya yang memiliki sifat misterius dan penuh tanda tanya.
Arga terus memindai ruangan itu dengan seksama dan kini pandangan matanya terhenti pada seorang perempuan yang berdiri membelakanginya tengah mengobrol serius dengan David.
''Sepertinya aku mengenal tubuh itu tapi dimana aku pernah melihatnya? aku merasa sangat pamiliar sekali dengannya.'' Kini Arga pun mulai mencari tempat yang lebih aman dan bisa melihat wajah si gadis. Dia sangat begitu penasaran dengan siapa wanita yang menjadi istri David Mirza selama ini.
"Sepertinya ini tempat yang aman." Gumam Arga saat menemukan tempat yang cocok untuknya dan benar saja kini ia pun bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang sedang bersama David.
"Jadi dia?" Arga menutup mulutnya Yang kini terbuka lebar hatinya mulai merasa perih dan sakit saat melihat wanita yang begitu ia kenal pergi bersama David.
"Jadi dia istrinya. Astaga! kenapa hatiku terasa sakit seperti ini." Arga menekan dadanya menatap nanar pada wanita yang kini masuk ke dalam mobil bersama David dan melesat pergi meninggalkan kantor Anggasta grup.
Bersambung...
__ADS_1