
Setelah mengantarkan kedua anaknya kini Alika pun mulai untuk melakukan aktivitas nya untuk mempersiapkan hasil karya miliknya di acara pameran malam nanti.
Maria datang kembali membawa berkas kontrak yang belum Alika lihat. "Nona ini berkas kontrak yang sebelumnya saya jelaskan pada anda." Maria kembali memberikan kontrak pekerjaan itu pada Alika.
Alika pun menerima nya dan melihat nama mantan suami kontraknya tercantum di kertas itu. "Maria saya tidak tertarik dengan kontrak ini lebih baik kamu tolak saja dan saya mohon jangan tanyakan apa alasannya." Alika mengusap wajahnya dan menghapus keringat nya yang tiba-tiba bercucuran.
Alika menaikan suhu ruangan itu membuat Maria terlihat sangat kebingungan saat melihat reaksi Alika yang tampak begitu aneh.
"Nona suhu nya terlalu dingin anda bisa sakit nanti, ingat malam ini anda harus qbenar-benar sehat karena acara itu sangat penting untuk karier anda." Ucap Maria mengingatkan.
Alika terduduk lemas di kursi nya sedangkan Maria dengan cepat menormalkan kembali suhu ruangan itu dan mengambilkan segalas air hangat untuk Alika agar sedikit lebih tenang.
"Mengapa dia selalu membayangiku, aku harus sangat berhati-hati dan twins. Edgar tidak boleh sampai tahu jika mereka adalah anak-anaknya." Alika terus bermonolog dalam hati, kini rasa cemas dan takut pun mulai menghampirinya membuat dirinya merasa tidak tenang.
"Nona minumlah agar kau sedikit tenang. Nona semuanya akan baik-baik saja anda tidak perlu khawatir karena saya akan menolak kontrak pekerjaan ini seperti yang anda inginkan."
"Terima kasih Maria."
"Baik kalau begitu saya permisi nona." Maria pun pergi meninggalkan Alika yang masih duduk menggengam erat gelas di tangannya.
"Semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir Alika kau bahkan bisa bersembunyi dirinya selama enam tahun ini dan aku yakin dia pasti sudah melupakanmu dalam hidupnya." Alika menghela nafasnya perlahan dan terus bermonolog meyakinkan dirinya sendiri.
Jam terus berjalan kini saatnya Alika pun menjemput putra-putrinya dari sekolah, namun sebelum itu ia menghubungi sahabatnya untuk segera datang menemui anak-anaknya seperti keinginan twins R .
***
Di taman sekolah. Seperti biasa twins R menunggu sang bunda duduk di bangku taman sekolahnya dengan memainkan permainan seperti yang biasa mereka lakukan untuk mengusir jenuh.
"Sekarang sebutkan nama hewan ini?" Rain menunjukan sebuah foto burung berwarna coklat pada adiknya.
"Ayo tebak burung apa ini?" Rain menaik turunkan alisnya menatap senang saat adiknya mulai kebingungan.
__ADS_1
"Kak kenapa kau memberikan pertanyaan yang sangat sulit sekali padaku." Rengek Raina yang kini mengembungkan pipinya yang mulai terlihat memerah karena terik sinar matahari.
"Itu adalah burung xenops dapat ditemukan di Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama di hutan hujan tropis. mereka memakan serangga dan ulat." Jawab seorang pria muda yang kini berdiri di hadapan Rain dan Raina.
Keduanya sedikit terkejut dan langsung berdiri menatap ke arah sang pria yang kini berjongkok mensejajarkan tubuhnya. "Apakah kalian tidak di jemput?" Tanya Edgar dengan nada lembutnya.
"Bunda kami akan menjemputnya." Jawab Raina dengan wajah cerianya, namun berbeda dengan Rain yang langsung terlihat dingin dan cuek.
"Kalau begitu dimana bunda kalian?" Tanya Edgar kembali.
"Bunda mungkin sedang,"
"Ayo kita pergi bunda sudah datang." Rain memotong obrolan sang adik dengan pria asing dan menarik kerah baju Raina untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Tapi kak aku belum selesai bicar." Teriak Raina yang mengikuti langkah sang kakak dengan berjalan mundur.
"Kau terlalu banyak bicara apakah kau lupa apa pesan bunda!"
Sedangkan Edgar tersenyum tipis saat melihat interaksi kedua bocah kecil itu hatinya merasa hangat saat melihatnya, bahkan saat ini ia merasakan hawa yang berbeda dalam dirinya.
"Mereka sangat menggemaskan. Andaikan saja pernikahan ku dan Alika adalah pernikahan yang sehat mungkin saat ini kamu juga sudah mendapatkan putra putri yang menggemaskan seperti mereka.
Edgar melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu bersamaan dengan Alika yang kini sampai. Mereka berada di tempat yang sama namun keduanya tak saling menyadari keberadaan masing-masing.
***
"Bunda apakah aunty Sabrina sudah datang?" Tanya Rain.
"Belum sayang, aunty masih sibuk dengan pekerjaan nya mungkin esok atau lusa dia baru bisa menemui kalian berdua." Jawab Alika yang kini melihat gurat kekecewaan di wajah putranya.
"Jangan bersedih nak, bagai mana jika kita makan eskrim."
__ADS_1
"Yeayy.... Eskrim! Raina mau eskrim." Seru Raina dengan hebohnya.
"Baiklah kita beli eskrim sekarang." Alika membelokan mobilnya di toko eskrim.
Dengan penuh keceriaan kini mereka pun masuk ke dalam toko untuk memesan eskrim yang mereka inginkan, namun tiba-tiba ponsel Alika berdering memperlihatkan nama Maria di sana.
Alika terlalu pokus berbicara hingga ia tak menyadari bahwa saat ini Edgar juga berada di tempat yang sama. "Anak-anak apa semuanya sudah selesai?"
"Sudah bunda." Jawab keduanya serempak.
Kini Alika pun membayar eskrim yang mereka beli dan meninggalkan tempat itu.
"Kalian berdua masuk terlebih dahulu bunda berbicara dengan aunty Maria sebentar."
"Baik bunda," Jawab Rain yang kini mengajak adiknya masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Alika masih mendengarkan yang sedang Maria sampaikan padanya. "Katakan saja aku tidak tertarik dan ini sudah keputusan final, baiklah nanti kita bicarakan lagi soal ini setelah aku sampai di rumah." Alika memutuskan sambungan teleponnya dan bersiap untuk masuk ke dalam mobilnya.
Namun kini ia terhenti saat pandangannya yang tertuju pada seorang pria yang tak asing baginya sedang membagikan eskrim pada anak jalanan.
"Edgar.." Alika terus menatap pria yang masih ia cintai dan ia benci sampai saat ini.
"Tidak! dia pasti bukan Edgar Anggasta mana mungkin pria seperti dirinya mau berpanas-panasan di bawah terik matahari hanya untuk membagikan eskrim pada anak jalanan, dia bahkan tidak suka pada anak hingga ia berpikir akan melenyapkan anaknya sendiri bahkan saat mereka belum terbentuk." Alika menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil meninggalkan tempat itu.
Namun sebelum Alika pergi Edgar melihat nya dan berlari berusaha mengejar mobil istrinya yang hilang.
"Aku yakin dia adalah Alika ku, dia ada disini itu artinya aku akan segera bertemu dengannya."
Edgar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa mengejar mobil Alika yang sudah terlihat sangat jauh.
"Alika sayang setelah enam tahun akhirnya aku menemukan mu dan setelah ini kau tidak akan pernah bisa lari dan bersembunyi dariku lagi." Ucap Edgar yang terlihat sangat begitu bahagia dan bersemangat untuk mengejar istrinya.
__ADS_1
Bersambung....