Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 67


__ADS_3

"Hey bisakah kau menyetir pelan-pelan saja?" Arga merasa ketakutan saat Maria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Bisakah kau diam dan tidak banyak berkomentar?"


"Hentikan mobilnya aku merasa mual sekali." Pinta Arga namun di luar dugaan Maria malah memberinya kantung plastik hitam.


Arga menatap Maria penuh tanya, apa yang hubungannya mual dan kantung plastik.


"Kenapa kau masih bingung, kantung itu sangat berguna untuk membuang **** dan setelahnya kau bisa membuangnya. Mudah bukan?" Maria tersenyum samar saat melihat ekspresi wajah Arga.


"Waktuku tidak banyak lagi, sejak tadi nona sudah menanyakan pesananya tapi sampai saat ini aku masih belum menemukan satu buah pun jangankan buah daunnya saja tidak terlihat. Akhh... Nona permintaan mu sangat sulit kenpa kau tidak memintanya pada tuan Edgar saja."


"Hey apa kau mengatakan sesuatu? apa kau menertawakan ku atau,"


"Apakah kau tidak bisa diam saja! aku sudah lelah seharian menyetir sebaiknya kau duduk diam dan jangan banyak berkomentar." Sentak Maria yang langsung membuat Arga terdiam dan tak mengatakan apapun lagi yang membuat Maria kesal.


Setelah beberapa puluh menit berkendara kini mobil Maria pun sampai di perkebunan mangga yang lumayan jauh dari kota. "Akhirnya sampai juga."


Maria melangkahkan kakinya menuju perkebunan mangga tersebut, bahkan kini ia sudah di tunggu oleh seorang pria paruh baya yang diduga pemilik kebun tersebut.


"Hallo selamat sore saya Maria." Ucapnya memperkenalkan diri pada sang pemilik kebun.


Setelah sedikit berbincang, kini Maria pun meninggalkan tempat itu menuju kebun mangga bersama sang pemiliknya.


Arga yang memantau Maria dari dalam mobil pun sedikit terkejut saat ia di tinggalkan begitu saja disana.


"Dasar wanita aneh, mau kemana dia sekarang." Gumannya yang langsung bergegas membuntuti Maria.


"Kemana pergi nya gadis itu?" Arga memindai seluruh isi kebun mangga itu dengan sangat teliti.


"Hey apa yang kamu lakukan?!" Arga berlari menghampiri Maria yang akan memanjat pohon mangga yang terlihat berbuah sangat lebat.


"Turun kamu! jangan menyusahkan orang lain bagaimana jika nanti kamu jatuh dan pasti kau akan merepotkan aku." Teriak Arga yang terus meminta Maria turun.

__ADS_1


"Ssshhhh... Kenapa aku mengajak pria konyol ini tadi, rasanya kepalaku hampir pecah mendengar celotehannya yang melebihi twins R."


Maria pura-pura tak mendengar suara teriakan Arga, ia terus mengambil beberapa mangga muda sesuai permintaan nona bosnya.


Setelah di rasa cukup ia pun turun dengan begitu mahir, namun ia tak terlalu memperhatikan pijakannya dan terpeleset membuat mangga yang ada di tangannya berjatuhan menimpa kepala Arga.


"Damn, sudah aku bilang kau,"


Arga mengadahkan kepalanya menatap ke atas dan, bughh... Maria jatuh sempurna menimpa tubuhnya bersamaan dengan mangga terakhir dan cukup besar menimpa kembali kepalanya dan membuatnya jatuh tak sadarkan diri.


"Ckk... Hanya sebatas itu kemampuannya, hey tuan sombong bangunlah atau aku akan meninggalkan mu di kebun ini." Maria berusaha membangunkan Arga namun Arga tak kunjung memberikan tanda apapun.


Hal itu membuat Maria merasa takut dan cemas. "Apakah dia mati? tidak! dia tidak mungkin mati tubuhku tidak seberat itu bisa membuatnya end, coba cara lain."


Maria memompa jantung Arga lalu menempelkan telinganya di sana, karena masih tidak ada reaksi kini ia pun mulai mencoba cara terakhir.


Tanpa pikir panjang lagi kini ia pun menempelkan bibirnya untuk memberikan nafas buatan. Maria melebarkan matanya saat melihat mata Arga yang kini terbuka lebar menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Apa yanh kamu lakukan?! kenapa kau mencari kesempatan di saat aku tidak sadar."


"Tunggu aku!" Teriak Arga yang kini berjalan terseok-seok mengikuti Maria.


***


Di kantor. Alika masih berkutat dengan pekerjaannya sesekali ia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya menunggu sang asisten kembali.


"Kemana Maria pergi? sudah hampir enam jam tapi dia belum kembali." Alika mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Maria.


Namun sayangnya ponsel Maria tidak bisa di hubungi. "Semoga saja dia baik-baik saja dan pulang dengan selamat membawakan apa yang aku inginkan." Guman Alika lirih.


Waktupun terus berjalan, Alika merasa sangat mengantuk dan mulau tertidur pulas dengan tangan tertumpu di atas meja.


Di saat Edgar tertidur pulas, seseorang membuka pintu ruangannya dan berjalan perlahan mendekati Alika.

__ADS_1


"Pantas saja dia tidak menjawab panggilanku." Edgar mendengus kesal lalu mengangkatnya tubuh istrinya dan memindahkan nya ke sofa.


Edgar sengaja mengunjungi kantor istrinya, bahkan ia meninggalkan pertemuan penting yang bisa membuat ia rugi ratusan juta hanya karena sejak tadi Alika tak kunjung menjawab panggilan telepon darinyanya.


Edgar merasa sangat cemas dan khawatir akan terjadi sesuatu pada istrinya yang tengah hamil muda. Sesuai permintaan dokter Alika tidak boleh terlalu lelah karena bisa memengaruhi kesehatan janin yang ada di dalam kandungnya.


Edgar berusaha untuk menjadi suami siaga walaupun sampai saat ini Alika masih mendiamkan nya. Kini tangannya membelai lembut wajah cantik sang istri dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya.


Edgar melabuhkan kecupan singkat di kening sang istri dan tersenyum manis saat Alika memeluknya bagaikan bantal guling.


"Aku sangat mencintaimu." Bisik Edgar membuat lengkungan manis di bibir istrinya.


Tanpa sadar Alika pun semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.


"Sayang sungguh ini tidak baik untuk kesehatan jantungku. Kau sudah membuatku harus berpuasa sangat lama tapi bagaimana aku bisa menahannya jika kau seperti ini di di hadapanku." Edgar mengangkat kedua tangannya menahan diri agar tidak melakukan apapun pada istrinya.


"Nona, saya sudah membawa pesanan anda." Ucap Maria yang langsung membangunkan Alika dari tidur nyenyaknya.


Maria yang terkejut melihat sepasang suami istri yang kini tertidur di sofa dengan begitu mesranya. Dengan langkah cepat kini ia pun berjalan keluar untuk menghindari tatapan mematikan Edgar padanya.


Namun Alika memanggilnya dan Maria pun terpaksa kembali membalikan tubuhnya menghadap sang majikan.


"Apakah kau mendapatkannya? dari mana? coba lihat." Dengan wajah sangat antusias Alika membuka kantong plastik hitam yang di berikan Maria padanya.


"Ahhh, itu saya mendapatkannya di kebun mangga pinggiran kota." Jawab Maria dengan sedikit gugup karena merasa sangat takut dengan tatapan Edgar.


Alika mencium bau mangga itu dengan mata terpejam. "Harumnya sangay menyegarkan sekali." Ucap Alika dengan senyuman mengembang menghiasi wajahnya.


"Sayang itu kotor, jauhkan itu dari wajahmu." Edgar mengambil mangga yang ada di tangan istrinya dan melemparkannya begitu saja.


"Kau! kenapa kau membuangnya begitu saja tidak tahukah aku sangat ingin mencium bau wanginya." Alika berkacak pinggang menatap penuh kekesalan pada suaminya.


"Hups... Sepertinya perang dunia akan di mulai lagi, sebaiknya aku segera pergi sebelum semuanya kacau." Gumam Maria yang kini berjalan mundur perlahan meninggalkan pasangan suami istri yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2