Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 54


__ADS_3

"Cihh.... apa yang gadis itu pikirkan hingga ia tersenyum seperti itu padanya." David menatap tak suka pada senyuman Sabrina untuk dokter yang ada di hadapannya.


"Apa kamu masih merasa pusing?" Tanya sang dokter yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Sabrina.


"Tuan silahkan anda tunggu di luar biarkan dokter Vino menyelesaikan pekerjaan nya." Ucap suster yang menggiring David agar keluar dari ruangan itu.


"Tapi susah dia,"


"Mohon kerja sama nya tuan." Dengan sopan suster itu pun sedikit membungkukan tubuhnya lalu menutup pintu ruangan tersebut.


"Argghh... Kenapa aku harus di usir." David terlihat sangat begitu kesal apalagi saat melihat kedekatan di antara Sabrina dan dokter tampan itu dari kejauhan.


***


"Dokter bagaimana keadaan sahabatku?" Tanya Sabrina, dengan mata yang terus tertuju pada dokter Vino yang tengah menancapkan jarum infus di tangannya.


"Dia sudah lebih baik dan sudah melewati masa kritisnya dan itu semua berkat bantuanmu." Jawab dokter Vino dengan senyuman manisnya.


"Dokter apa kau sedang memujiku?" Sabrina menjelingkan matanya ke arah dokter Vino.


"Ckk.. Disini tidak ada orang kenapa kau masih memanggilku seformal ini." Dokter Vino mencolek hidung mancung Sabrina lalu menyentil kening dengan gemas.


"Sakit...." Rengek Sabrina dengan manjanya.


Membuat dokter Vino semakin gemas dan mencubit pipi cuby Sabrina. Sedangkan di luar ruangan David yang melihat interaksi di antara mereka berdua merasa tak terima dan langsung masuk begitu saja.


"Tuan.." Panggil suster membuntuti langkah kaki David yang berjalan menghampiri Sabrina dan dokter Vino.


"Ikut aku!" Pinta David yang mulai menarik tangan Sabrina sedikit kasar di hadapan dokter Vino.


"Lepaskan dia." Dokter Vino mencegah David membawa Sabrina namun Sabrina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Vino aku akan segera kembali." Sabrina membawa serta kantong infus bersamanya, dan meninggalkan dokter Vino yang masih berdiri mematung di tempatnya menatap Sabrina keluar dari ruangan itu.


"Lepakan aku!" Sabrina menipis tangan David dengan sedikit kasar.


"Bagus sekali kau bersikap manis dan lembut pada orang asing dan bersikap ketus padaku!" David menatap nyalang pada Sabrina.

__ADS_1


"Apa masalahmu padaku, apakah kau cemburu? dengar kau bukan kekasihku lagi jadi berhenti bersikap kau kekasihku." Ketus Sabrina yang langsung pergi meninggalkan David begitu saja.


"Hey tunggu aku! ckk... Diw benar kenapa juga aku harus perduli dengan urusannya." David mengangkat bahunya tak mengerti.


Sabrina terus menggerutu tidak jelas, kini ia pun berjalan masuk kedalam ruangan sahabatnya.


"Al, bagaimana keadaanmu?" Tanya Sabrina yang tak mempedulikan tatapan orang yang berada disana.


"Aku sudah lebih baik, bagaimana denganmu?"


"Syukurlah kalau begitu, aku seperti yang kamu lihat. Tolong biarkan aku beristirahat disini saja ya." Sabrina tidur di sofa yang tak jauh dari brankar pasien sahabatnya.


Sabrina masih merasa sangat pusing dan memilih untuk beristirahat di ruangan sahabatnya sampai cairan infusnya habis, karena ia yakin jika ruangan itu lebih aman dari gangguan David.


"Aku tidak tahu mengapa dia selalu saja bersikap seolah masih kekasihku, posesif dan menyebalkan melarangku ini dan itu." Sabrina mendengus kesal dan mulai memejamkan matanya perlahan.


Alika mengerutkan keningnya menatap aneh pada sahabatnya.


"Sayang beristirahatlah." Pinta Edgar aku akan mengantarkan anak-anak pulang karena tempat ini tidak terlalu baik untuk mereka."


Alika hanya menggangukan kepalanya mengiyakan ucapan Edgar.


"Tidak nak, kalian harus pulang jika kalian disini siapa yang akan menemani kakek buyut? dia pasti sangat kesepian karena tidak ada yang menemaninya di rumah." Alika mencoba memberikan pengertian kepada kedua anaknya.


"Anak-anak apa yang di katakan bunda benar, sekarang ayo ikut ayah." Ajak Edgar yang langsung mendapat anggukan pasrah dari kedua anaknya.


***


Setelah selesai mengantarkan kedua anaknya ke mansion kini Edgar melajukan mobilnya menuju kantor polisi, tempat dimana Martha di tahan saat ini.


Sedangkan David mengurus semua hal yang akan memberatkan Martha saat persidangan nanti. Edgar benar-benar tidak akan membiarkan orang yang sudah mencelakai keluarga nya berkeliaran begitu saja.


Edgar berjalan menuju dimana tempat Martha saat ini. Edgar tersenyum sinis melihat wanita yang sudah mencelakai istrinya tengah mengamuk dan meraung di dalam sel.


Dengan wajah dingin dan datarnya kini Edgar berdiri tepat di hadapan Martha yang langsung terdiam saat melihatnya.


"Baby, kau datang! aku tahu kau pasti akan datang untuk menjemputku." Martha tersenyum dengan mata berbinar memancarkan kebahagiaan.

__ADS_1


"Keu sangat berharap sekali jika aku datang untuk membawa mu pergi dari tempat ini setelah kau mencelakai istriku, cintaku dan juga hidupku, tak hanya itu kau juga berniat untuk mencelakai putra dan putriku." Edgar menatap dingin dan tajam ke arah Martha.


"Itu bukan salahku! bukankah kau tahu aku sudah mengatakannya dari awal aku tidak akan membiarkan siapapun merebut kau dariku." Jawab Martha dengan nada tegasnya.


"Cihh... Aku tidak butuh cinta dari wanita sepertimu karena cinta dari istriku saja sudah cukup. Kau sudah berusaha mencelakai keluargaku jadi bersiaplah untuk menerima akibatnya." Ucap Edgar yang langsung pergi meninggalkan Martha yang kini terus berteriak memanggilnya.


"Bagaimana David, apa semuanya sudah selesai?" Tanya Edgar yang kini berjalan menghampiri asisten pribadinya.


"Semuanya susah selesai tuan, seperti yang anda inginkan mereka tidak akan bisa melakukan apapun tanpa persetujuan anda."


"Bagus! kerja yang bagus, aku akan memberikan bonus dua puluh persen untukmu bulan ini." Ucap Edgar yang langsung membuat raut wajah David sumringah saat mendengarnya.


"Terima kasih tuan muda." David sedikit membungkukan tubuhnya di hadapan Edgar.


"Selesaikan semuanya sampai tuntas, aku akan kembali ke rumah sakit."


"Baik tuan."


"Akhirnya aku mendapatkan bonus besar bulan ini." Pekik David membatin kini semangat kerjanya pun kembali pul dan siap untuk memberantas masalah yang sudah membuat tuan majikannya murka.


***


Setelah beberapa menit berkendara kini ia pun sampai di halaman rumah sakit dan berjalan kembali kedalam ruangan sang istri.


Namun kini ia terkejut saat ruangan itu terlihat kosong dan tak berpenghuni.


"Dimana istriku, Alika sayang... Dimana kamu?" Edgar berlari mencari sang istri ke dalam kamar mandi namun sayangnya ia tak menemukan apapun disana.


Kini jantungnya pun mulai memompa dengan cepat bahkan kakinya pun terasa melayang seperti tak memiliki pijakan.


Dengan langkah cepat Edgar menanyakan keberadaan istrinya. Ia berpikir mungkin saja para dokter memindahkannya ke ruangan lain.


Namun nihil, para para dokter bahkan tidak tahu keberadaan Alika karena mereka tidak merasa memindahkannya, hal itu membuat Edgar sangat murka.


"Sabrina! dimana gadis itu? dia pasti tahu kebenarannya." Edgar terus memeriksa kamar pasien atas nama Sabrina namun nihil ia pun tak menemukan keberadaan gadis itu.


Kini Edgar bersiap untuk memeriksa rekaman cctv namun kini langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang begitu menarik perhatiannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2