
Plak...
Sebuah tamparan keras kini mendarat sempurna di wajah tampan David, membuat Alika terkejut dan menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
Sedangkan Edgar hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi apapun. "Sayang sebaiknya kita pulang sekarang, Rain dan Raina pasti sudah menunggu kita." Ajak Edgar yang kini menuntun sang istri untuk kelur dari ruangan itu, Edgar tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan pribadi mereka.
"Tapi bagaimana dengan,"
"Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Ucap Edgar memotong ucapan sang istri.
Kini Alika berjalan mengiringi langkah kaki sang suami meninggalkan rumah sahabatnya.
Suasana panas pun mulai terasa memenuhi ruangan itu. Sabrina menatap mantan kekasihnya dengan tatapan penuh kemarahan, ia merasa sangat tidak suka dengan sikap kasar David pada kakak kesayangannya.
Wajah memerah memperlihatkan bekas tangan Sabrina pun masih tercetak jelas disana, namun David tak memperlihatkan reaksi apapun pada Sabrina.
"Kenapa kamu memukulnya? apa masalahmu dengannya? berani sekali kamu membuat kakakku terluka." Teriak Sabrina penuh emosi.
"Hahh... Kakak?" David sedikit terkejut menatap Sabrina dan beralih ke arah pria yang masih duduk di atas lantai mengusap sudut bibirnya yang sobek karena ulahnya.
"David tamatlah riwayat mu, pria itu kakaknya, tapi.... Tidak! dia pasti berbohong. Tidak mungkin seorang kakak melakukan hal itu pada adiknya sendiri." David bermonolog menatap beberapa tanda merah di leher jenjang Sabrina yang terlihat begitu kontras.
Sabrina membantu sang kakak untuk berdiri. "Ayo bangun kak, aku akan mengobatimu." Ajak Sabrina yang langsung di hentikan oleh sang ibu.
"Kakakmu seorang dokter dia bisa melakukannya sendiri, kamu dan kamu." Tunjuk ibu pada David.
"Ikut saya!" Ucap sang ibu dengan nada tegasnya.
"Mampuslah aku, ini semua karena ulah mesum mu." Kesal Sabrina menyalahkan David.
"Aku, mesum? enak saja! jangan asal bicara saja kamu ini."
"Sudah diam! jangan terus bicara omong kosong!" Ketus Sabrina yang kini merasa sangat takut dan gugup menghadapi kemarahan sang ibu.
__ADS_1
"Ini semua karena ulahmu, karena kau aku merasa sangat takut saat menghadap ibuku sendiri." Celoteh Sabrina terus menyalahkan David.
"Jangan takut, aku ada disini bersamamu."
"Cihhh... Mudah sekali kau berbicara seperti itu apa kau tidak melihat semua rekaman video cctv tadi. Aishhh... Aku sangat malu sekali melihatnya wajar saja ibu marah padamu, walau bagaimana pun, tidak akan pernah ada seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia salah memilih jalan."Ucap Sabrina sedikit memberikan ultimatum.
David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena memang benar ia belum membuka semua video cctv itu karena terbawa emosi saat melihat tanda merah di leher jenjang Sabrina.
Sabrina membuka pintu menuju balkon dan menatap punggung sang ibu yang kini berdiri membelakangi mereka berdua.
"Sejak kapan kalian berdua saling mengenal?" Tanya ibu tanpa basa-basi.
"Ibu kita hanya sekedar berteman saja tidak lebih dari itu dan kami hanya,"
"Diam! ibu sedang bertanya padanya bukan padamu." Ketus sang ibu yang kini menatap tajam ke arah David.
David menelan salivanya dengan susah payah, ia merasa sangat terintimidasi dengan tatapan ibu Sabrina.
"Hmm..." David menetralkan rasa gugupnya dan bersikap seolah sedang berhadapan dengan pemegang saham.
Sedangkan Sabrina menahan tawanya menatap pria yang berada di hadapannya terlihat sangat lucu menggelikan.
"Ekspresi wajah dan kostum yang di gunakan sangat tidak sesuai." Gumam Sabrina lirih.
"Ishh apa yang sedang gadis itu pikirkan! ini semua salah orang yang memakaikan pakaian aneh ini padaku, lihat saja, jika aku tahu siapapun yang menggantikan pakaianku dengan pakaian aneh ini makan aku akan memberikan dia pelajaran." Geram David dalam hati menahan kekesalannya.
Ibu menghela nafas perlahan dan mulai berusaha menenangkan hatinya yang tengah gundah dan cemas akan masa depan putrinya.
"Kami hidup bertetangga, kami dari kampung buka asli kota jadi saya sebagai orang tua punya peraturan tertentu, saya tidak ingin masa depan putri saya hancur karena pergaulan bebas yang ada di kota ini. Biarpun kami sudah lama hidup di kota ini tapi saya sangat tidak suda dan tidak mengizinkan siapapun menyentuh putri saya, sebelum ada kata sah." Ucap sang ibu panjang lebar.
David mulai mencerna ucapan ibu Sabrina dengan wajah berbinar kini ia pun menatap ibu dan menarik tangan Sabrina dengan erat.
"Baiklah saya akan menikahi putri ibu malam ini juga." Ucap David membuat Sabrina terbelalak kaget.
__ADS_1
Sabrina sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh mantan kekasihnya pada sang ibu.
"Hey bodoh! apa kau pikir aku mau menikah dengamu? sembarangan saja bicara kau pikir ini pernikahan mainan." Dengan kesal Sabrina menendang kaki David.
"Apa kau yakin akan menikahi putriku?" Tanya ibu kembali memastikan keseriusan pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Tentu saja nyonya, jika anda berkenan saya akan mempersiapkan semuanya sekarang juga." Ucap David dengan penuh semangat.
"Tidak! pokoknya aku tidak mau menikah apalagi dengannya." Sabrina menolak David secara terang-terangan membuat David sedikit gemas ingin sekali ia membungkam bibir yang sudah menjadi candu baginya.
"Apa alasanmu untuk menolakku bahkan kita sudah melakukannya." David sedikit mengeraskan suaranya agar ibu Sabrina mendengarnya dan tak ada lagi alasan Sabrina untuk menolak lamarannya.
"Hahh melakukannya? melakukan apa maksudmu?" Sabrina mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang sedang David katakan saat ini.
"Sabrina...?!!!" Pekik sang ibu membuat Sabrina menutup telinganya dengan spontan.
"Astaga ibu, kenapa ibu berteriak seperti itu? ibu bisa sakit tenggorokan nanti."
"Tidak hanya tenggorokan tapi hati ibu juga sakit karena ulah nakalmu, ibu pikir kamu masih gadis yang suci tapi ternyata kamu," ibu tak kuasa menahan tangisnya yang tiba-tiba pecah seketika.
"Sebenarnya apa yang sedang ibu bicarakan sungguh aku sangat bingung dengan apa yang ibu pikirkan saat ini." Sabrina menatap sang ibu penuh kebingungan.
Sedangkan David langsung mencari sebuah celah untuk menambahkan kayu bakar di atas api yang mulai menyala.
"Kami memang sudah melakukannya bukan hanya sekali saja tapi beberapa kali, kami melakukan hal itu atas dasar suka dan tak ada unsur pemaksaan." Ucap David dengan wajah tanpa dosa.
"Sabrina!! Ibu tidak mau tahu sekarang juga panggil penghulu, Vino....." Ibu memanggil anak laki-laki nya dan segera pergi meninggalkan balkon yang terasa sangat panas baginya.
"Ibu.. Ibu... Tunggu aku, sebenarnya ada apasih?" Tanya Sabrina yang benar-benar tak mengetahui dengan apa yang ibunya pikirkan saat ini.
Kini Sabrina menatap wajah tampan David yang terlihat begitu berseri bahagia. Sabrina mengernyitkan dahinya menatap penuh curiga pada David.
"Kau tidak sedang berbicara dan membuat yang aneh_anehkan?" Tanya Sabrina yang kini mulai menyipitkan matanya menatap sang mantan.
__ADS_1
Bersambung...