
*Hu*ekk... Huekkk..
David merasa sangat mual dan terus mencuci bibirnya yang sudah di sentuh oleh Arga, ia sungguh tak menyangka seumur hidupnya jika ciuman pertamanya akan di renggut oleh seorang pria.
"Damn! ini gila ini sungguh sangat menjijikan!" David terus mengumpat Arga dan Edgar tanpa henti.
Dering ponsel David pun berbunyi menyadarkan ia dari aktivitas nya saat ini.
"Ini semua karena dia, gara-gara dia aku mendapatkan pelecehan ini!" David menatap kesal pada orang yang kini menelepon nya.
Dengan sangat terpaksa kini David pun mengangkat panggilan telepon tersebut dan mendengarkan semua perintah yang di berikan Edgar padanya.
"Lakukan semuanya jangan sampai ada yang terlewatkan." Ucap Edgar sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
"Baik tuan muda."
Arrghhh...
David melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan merebahkan tubuhnya yang lelah bersiap untuk beristirahat. Namun detik berikutnya ia kembali terbangun saat bayangan Arga menciumnya kembali terlintas dalam ingatannya.
Arrghhh...
"Sepertinya setelah ini aku harus mencari seorang wanita untuk menghilangkan jejak tuan muda patah hati itu." Ucap David yang kini menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
***
Di malam yang dingin nan sepi Alika masih terjaga menatap langit penuh bintang dengan memeluk kedua kakinya. Hatinya merasa resah dan gelisah merasa khawatir dengan kondisi Arga saat saat ini.
Beberapa jam lalu ia melihat beberapa pengawal Edgar membawa Arga yang terlihat sangat begitu memprihatinkan.
Selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Arga inilah pertama kalinya Alika melihat sisi lemah pria yang sangat ia cintai.
"Semuanya karena salahku aku yang menyebabkan dia menjadi seperti ini." Alika terus bergumam menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa kau akan tinggal di luar sepanjang malam? apakah kau ingin menarik perhatian adikku, jangan harap itu akan terjadi." Edgar menatap sinis pada Alika yang masih duduk memeluk kedua kakinya.
"Ingat kontrak perjanjian kita kau sudah melecehkan aku dan kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku, aku memberikan waktu kepadamu selama tiga bulan untuk memastikan jika kau tidak mengandung anakku."
"Bukan aku yang melecehkan mu tapi kau yang melecehkan ku dan membuat hidupku berubah dalam satu malam." Ingin sekali Alika berteriak dan melempar wajah tampan Edgar dengan sandalnya, namun ia urungkan karena ia sudah tak punya banyak tenaga untuk berdebat lagi.
"Baik, aku tahu. Lalu bagai mana jika aku sampai menggandung anakmu?" Tanya Alika dengan wajah datarnya.
"Tentu saja kau harus mengugurkannya karena aku tidak sudi memiliki keturunan dari wanita sepertimu." Jawab Edgar membuat Alika kini menatapnya dengan wajah tak percaya.
"Hahh... Sepicik itulah dirimu?" Alika menahan emosinya yang hampir meledak karena ucapan Edgar yang sangat keterlaluan.
"Kenpa kau terlihat sangat kesal, apakah kau sudah bermimpi untuk menjadi istriku sepenuhnya." Edgar menggerakkan jari telunjuknya tanda penolakan.
"Owhh hello tuan Edgar yang sempurna kau sangat luar biasa sekali kau bahkan patut di berikan penghargaan pria tak tahu malu, aku bahkan tidak pernah sedikit pun untuk bermimpi menikah dengan mu dan ini semua adalah kesialanku. Aku bahkan ingin mengutukmu menjadi seekor kecoa agar aku bisa membunuhmu dengan mudahnya." Batin Alika bermonolog mengumpat Edgar.
Kini ia pun berdiri dan berjalan menghampiri Edgar dengan tatapan yang tak bisa di artikan, membuat Edgar merasa sedikit terintimidasi dengan tatapan Alika dan memundurkan beberapa langkahnya.
Edgar mengepal erat tangannya dan rahanngnya pun mulai mengeras menatap Alika dengan tatapan mematikan.
Tetapi Alika menatap kedua mata Edgar tanpa rasa takut sedikit pun. "Kenpa? apa anda marah pak apa anda juga merasa sangat terhina? oh kalau begitu saya pun sama seperti anda pak." Ucap Alika mulai mengibarkan bendera peperangan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu pak, apa saya terlihat menggemaskan?" Alika mengibaskan rambutnya dan memperlihatkan wajah centilnya di hadapan Edgar.
Edgar yang merasa sangat muak dengan sikap dan perilaku aneh Alika pun lebih memilih untuk pergi meninggalkan Alika sendirian di tempat itu.
"Ckk.. Dasar pria tidak waras! pecundang! otak tipis hingga untuk berpikir saja dia tidak mampu." Alika merasa sangat geram dengan sikap Edgar hingga ia pun tak bisa berhenti mengumpat dan mengutuknya.
"Arga jauh lebih baik darinya, tapi tenang saja semuanya akan berakhir setelah tiga bulan dan aku bebas kembali melanjutkan hidupku jauh dari pria picik sepertinya." Alika pun mulai menyemangati dirinya sendiri dan berusaha untuk melupakan semua hal yang sudah terjadi dalam kehidupannya saat ini.
Alika menatap selilingnya yang terasa sangat begitu asing baginya. "Kamar kost aku merindukanmu." Alika duduk di bangku di luar mansion keluarga Anggasta perlahan ia pun merebahkan tubuh lelah nya ia pun mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas di bawah cahaya bulan.
***
__ADS_1
Pagi telah tiba Alika terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan matanya.
"Hmmm..." Alika meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku menatap sekelilingnya.
"Selimut. Siapa yang sudah menyelimuti ku? pantas saja aku merasa sangat nyaman walau pun tidur tanpa atap, apakah Arga yang melakukan hal ini." Alika tersenyum mengelus bantal yang sudah menjaganya sepanjang malam.
"Jam berapa ini?" Alika mengangkat gaun pengantinnya dengan tergesa-gesa ia pun meninggalkan mansion Anggasta untuk kembali ke kost nya.
Namun tanpa ia sadari sepasang mata kini menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Kini Alika berjalan mengendap-endapan memasuki kamarnya agar tidak ada siapa pun yang melihatnya dengan pakaian yang ia pakai saat.
"Huhh... Aman." Alika bernafas lega saat is sudah berhasil memasuki kamar miliknya.
Dengan cepat ia pun bersiap untuk pergi bekerja seperti biasanya.
"Semangat Alika, semangat! tidak ada apapun yang terjadi padamu dan siapapun tidak bisa merenggut kebahagiaanku." Alika pun sedikit berlari meninggalkan kost nya.
Setelah beberapa saat kemudian kini Alika pun sampai di tempat tujuannya dan sudah di sambut hangat oleh sahabatnya.
"Bestie....! Akhirnya loe datang juga." Seru Sabrina yang kini menarik tangan Alika dan berputar seperti kipas membuat Alika sedikit pusing karenanya.
"Sabrina. Astaga ya ampun gadis ini benar-benar sudah kehilangan akal." Alika terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut karena ulah barbar sahabatnya.
"Hehe... Sorry bestie, aku kangen banget tahu kemana aja selama dua hari ini susah banget di hubunginya?" Sabrina mulai mengintrogasi sahabatnya.
Glekk...
Alika menelen ludahnya sedikit kasar saat ia merasa terintimidasi dengan tatapan Sabrina. Alika benar-benar merasa sangat kebingungan untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Bagai mana ini, aku harus mengatakan apa padanya? tidak mungkin aku mengatakan hal yang sejujurnya apa saja yang sudah terjadi padaku selama dua hari ini?" Alika terlihat sangat bingung dan cemas sedangkan Sabrina masih menunggu jawaban Alika.
Bersambung...
__ADS_1