Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 8


__ADS_3

"Woyy... Bestie di tanya malah melamun mikirin apaan sih?" Sabrina sedikit mengencangkan suaranya agar Alika tersadar dari lamunan panjangnya.


"Siapa yang melamun? udah ah kerja dulu sebelum bos gila itu datang dan mengajakku berdebat." Alika pergi meninggalkan Sabrina yang menatapnya heran.


"Dia itu kenapa sih? aneh banget." Sabrina menggelengkan kepalanya.


Sabrina pun berjalan untuk mengantarkan pesanan tanpa melihat ke arah nya berjalan hingga tak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan minuman yang ia bawa.


Brakk...


Suara gelas terjatuh di sertai bentakan keras dari seorang pria yang kini berdiri di hadapan Sabrina dengan wajah penuh emosi. Alika yang mendengar suara keributan itu pun berlari menghampiri sahabatnya yang sedang tertunduk penuh ketakutan.


"Asisten David apakah begitu caramu berkata pada seorang gadis?" Alika memeluk sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Alika tidak rela jika ada siapapun yang menbentak atau berbuat kasar pada nya termasuk David.


"Nona Alika sebaiknya anda tidak perlu membelinya karena dia sudah mengotori bajuku." David menunjukkan pakaian nya yang sudah terlihat kotor dan basah.


"Hanya kotor kan! tinggal di cuci saja apa susahnya." Jawab Alika dengan wajah santainya.


"Tidak bisa! minggir." David berusaha menarik tangan Sabrina namun dengan cepat Alika menepisnya dan menjauhkan David dari sahabatnya.


"Aku rasa semua pria yang berhubungan dengan tuan sombong dan arogan itu sama saja, mereka tidak bisa bersikap lembut dan sangat kasar pada perempuan." Alika mengomel meluapkan segala kekesalan dalam hatinya.


"Al, biarkan saja mereka punya uang jangan berkata sembarangan kita bisa terkena masalah nanti." Bisik Sabrina di samping telinga sahabatnya.


"Biarkan? jangan kamu pikir mereka memiliki banyak uang bisa memperlakukan kita seenaknya, tunggu saja aku pasti bisa membalas perlakuan mereka nanti." Jawab Alika yang juga berbisik pada Sabrina.


Sabrina menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan apa yang akan Alika lakukan, namun Alika tetap akan melakukan apapun yang ia inginkan agar Edgar merasa kesal padanya dan membatalkan kontrak pernikahan mereka.


Alika dan Sabrina terus saling berbisik mengacuhkan David yang masih berdiri di hadapan mereka berdua.


"Apa yang sedang mereka bicarakan?" David mengangkat sebelah alisnya penuh tanda tanya.


"Khmmm... Apa kalian berdua sudah selesai berdiskusi?" Tanya David dengan nada tegasnya.


"Belum tunggu sebentar!" Jawab keduanya dengan serempak membuat David terbelalak karenanya, sedangkan Alika dan Sabrina kembali melanjutkan perdebatan mereka.

__ADS_1


"Aku rasa kedua wanita ini sudah tidak waras." Gumam David.


Brakkk..


"Apa!" Sabrina menjatuhkan nampan yang ada di tangannya berteriak karena terkejut dengan apa yang baru saja di bisikan sahabatnya.


Tak hanya Sabrina yang terkejut David pun terkejut karena suara Sabrina yang begitu nyaring di telinganya, namun berbelanja dengan Alika yang hanya mengusap telinganya yang berdenging karena ulah Sabrina.


"Seriusan Al, kamu bohong? kenapa bisa begitu? astaga! astaga! apa ini artinya kiamat sudah dekat?" Sabrina mulai terlihat panik.


"Sembarangan kalau ngomong." Alika melemparkan lembaran tisu pada sahabatnya.


Kedua sahabat itu terus berdebat membuat kesabaran David semakin menipis dan tak bisa menunggu terlalu lama lagi. Kini ia pun mulai pada tujuan utamanya datang ke tempat itu.


"Nona Alika ikut dengan saya sekarang juga." Ucap David dengan wajah datarnya.


"Tidak mau saya sedang bekerja."


"Ini perintah tuan muda jika tidak,"


"Jika tidak apa?" Alika memotong ucapan David dengan cepat.


"Ayo kita pergi sekarang!" Alika menggendeng tangan David keluar dari ruangan itu sebelum David menyelesaikan ucapan nya.


"Bye.. Bye Sabrina aku pergi dulu nanti aku datang ke rumahmu, okey." Alika melambaikan tangannya.


"Heyy.. Al, kamu masih punya hutang penjelasan woyy..."


"Pelayan dimana pesanan ku!" Teriak seorang pengunjung restoran itu pada Sabrina.


"Owhh iya tunggu." Dengan cepat Sabrina pun mengambil nampan yang sempat ia jatuhkan dam berlari untuk kembali membuat minuman yang baru.


***


Suasana begitu hening membuat Alika merasa sangat bosan dan perutnya pun mulai berbunyi karena sejak kemarin ia belum memakan apapun.

__ADS_1


"Pak asisten apakah kau memiliki makanan? aku sangat lapar sekali." Alika sedikit merengek menahan sakit di perutnya.


Namun David tak menjawab pertanyaan Alika ia terus melajukan mobilnya sampai di mansion Anggasta.


"Kita sudah sampai nona." Ucap David yang kini membukakan pintu mobilnya untuk Alika.


"Aku sudah tahu!" Alika mendengus kesal karena David benar-benar tak mempedulikan dirinya yang tengah kelaparan.


Dengan penuh kekesalan kini ia pun mengikuti langkah David masuk ke dalam mansion.


Saat memasuki mansion Alika pun tak sengaja berpapasan dengan Arga yang sedang duduk di sofa dengan tatapan kosongnya.


"Arga!" Alika berlari menghampiri Arga dan melai mememeriksa keadaannya.


"Arga kamu baik-baik saja kan? kenapa kau melakukan hal konyol itu? aku mohon lain kali kau jangan melakukan hal itu lagi." Pinta Alika dengan wajah cemasnya.


"Baby." Arga memeluk Alika dengan sangat erat ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya kini sudah menjadi kakak iparnya.


David ingin sekali memisahkan keduanya sebelum Edgar melihat hal ini dan membuatnya murka, namun kejadian semalam terlintas dalam pikirannya membuat David mengurungkan niatnya.


"Alika!" Suarq bariton menyadarkan Alika dari kesalahannya. Ia benar-benar melupakan bahwa dirinya saat ini sudah menikah dengan Edgar walau hanya sekadar menjadi istri kontraknya.


"Argghh... Mati aku! kenapa juga aku harus melupakan hal ini. Tuhan kenapa kau member cobaan yang sangat begitu berat untukku? aku harus segera melupakan Arga karena aku sangat tidak pantas bersanding dengannya. Walaupun setelah tiga bulan hubungan ku dengan pak Edgar berakhir, tetap saja aku tidak bisa kembali padamu, aku hanya berharap suatu hari nanti kau anak mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku." Ucap Alika dalam hatinya.


Edgar menghampiri Alika dan menarik pinggang rampinya dengan sangat begitu mesra, membuat Arga terlihat sangat tidak menyukai tindakan kakaknya.


"Lepaskan dia, Alika adalah kekasihku." Ucap Arga sedikit berteriak memperlihatkan urat-urat lehernya.


"Dia istriku, berapa kali lagi aku harus mengatakan hal ini padamu Arga." Jawab Edgar yang kini mencengkram pinggang Alika seperti yang ia lakukan semalam.


Alika membuang nafasnya perlahan, ingin sekali ia berteriak dan lenyap dari tempat itu menggali lubang sedalam-dalamnya agar ia bisa menyembunyikan dirinya dari kedua pria yang berada di hadapannya


Tanpa aba-aba Edgar pun mencium bibir Alika dan memberikan sedikit lu-atan agar Arga percaya dengan hubungan mereka.


Edgar terlihat sangat begitu menikmati ciuman itu namun berbeda dengan Alika yang merasa sangat di lecehkan oleh pria itu.

__ADS_1


Alika memukul dada bidang Edgar agar ia menghentikan aksi gilanya, namun tanpa ia duga Edgar mulai mengelus leher jenjangnya dan memberikan beberapa tanda kepemilikan disana, membuat Arga merasa muak dan lebih memilih untuk meninggalkan mereka berdua.


Bersambung


__ADS_2