Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 42


__ADS_3

Alika mengusap air matanya dengan cepat dan berbalik ke arah seseorang yang kini memanggilnya.


"Nona Al, tuan Edgar sudah."


"Iya saya sudah tahu, terimakasih." Alika meninggalkan sang resepsionis yang kini berdiri dengan wajah penuh kebingungan.


Perlahan Alika pun mulai keluar dari gedung kantor suaminya. Namun samar-samar ia mendengar para karyawan mulai menggosipkan suaminya dengan wanita yang bersamanya beberapa saat lalu.


Alika ingin sekali menggertaknya meluapkan kemarahan dan kekecewaan dalam dirinya saat ini, tetapi ia berpikir kembali bahwa percuma saja ia melakukan hal itu karena sampai saat ini hubungan pernikahannya dan Edgar tidak di ketahui banyak orang.


"Mungkin nasibku yang tidak beruntung, menikah dua kali dengan orang yang sama tapi pernikahan ku sangat memprihatinkan." Alika tersenyum miring ketika ia mengingat kembali pernikahan nya bersama Edgar.


"Pertama menikah kontak dan terjadi begitu saja, kedua aku menikah kembali dengannya hanya demi anak-anak dan pernikahan itu berlangsung di tempat yang tidak seharusnya. Aku seorang desainer, tapi di hari bahagiaku sendiri aku bahkan tidak memakai gaun indah seperti layaknya para pengantin. Haahhh sudahlah aku sedang tidak ingin membahas semua ini." Alika lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantornya.


***


Dengan langkah gontay Alika kembali ke ruangannya melewati Sabrina dan twin R begitu saja.


"Bunda," Panggil Rain dan Rain bersamaan.


Kini kedua bocah itu mulai berjalan untuk menghampiri sang bunda, namun dengan cepat Sabrina mencegahnya karena ia tahu betul jika saat ini sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


"Sttt.... Sepertinya bunda kalian sedang lelah, kalian berdua tunggu sebentar ya! biarkan bunda kalian beristirahat terlebih dahulu." Sabrina mulai memberikan pengertian kepada twins R.


"Baiklah aunty kamu akan menemui bunda beberapa menit lagi." Ucap Rain.


"Tapi kak,"


"Adik biarkan bunda beristirahat terlebih dahulu." Rain mencoba membujuk adiknya.


"Anak-anak apa kalian berdua mau eskrim?" Tanya Maria.


"Eskrim? Raina mau eskrim!" Jawab Raina dengan begitu antusias begitu pun dengan Rain tak kalah hebohnya dengan sang adik.


Keduanya sangat begitu menyukai eskrim jadi tidak sulit bagi Maria untuk membujuk mereka.


"Ayo kita pergi beli eskrim! aunty akan membelikan eskrim apapun yang kalian berdua inginkan." Ajak Maria yang kini menggiring kedua bocah kembar itu.


"Terimakasih Maria." Ucap Sabrina yang dibalas acungan jempol oleh Maria.

__ADS_1


Setelah melihat pintu kembali tertutup kini ia pun mulai menghampiri Alika ke dalam ruangannya.


"Al," Panggil Sabrina menyadarkan Alika dari lamunan panjangnya.


"Alika apa semuanya baik-baik saja?" Sabrina duduk di hadapan sahabatnya yang terlihat begitu lesu.


"Semuanya sedang tidak baik-baik saja Sabrina, luka lama di dalam hatiku kembali berdarah. Sabrina apa salahku dimasa lalu? mengapa kebahagiaan seakan enggan bersama dengan ku?"


"Sebenarnya ada apa? apakah tuan kutub itu mulai mencari masalah lagi denganmu apakah dia kembali membohongimu?" Sabrina mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada sahabatnya.


Alika hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan manik matanya yang kembali mengembun. "Aku melihatnya dengan wanita lain."


Brakk...


"Apa?!" Sabrina merasa terkejut spontan menggebrak meja yang ada di hadapannya membuat Alika pun terkejut karena ulah bar-barnya.


"Sorry, lanjutkan ke topik utama." Sabrina dengan wajah seriusnya tak perduli jika saat ini Alika tengah menetralkan degup jantungnya.


Tangisan yang hampir keluar pun seakan kembali ke tempat asalnya karena ulah Sabrina. Alika menatap sahabatnya dan menggaruk keningnya yang tiba-tiba gatal.


"Kenapa kau diam saja? ayo lanjutkan! lalu bagaimana ekspresi pria itu saat kau melihatnya?"


"Aku membiarkannya begitu saja, sebenarnya aku tidak tahu apakah mereka memiliki hubungan atau tidak tapi,"


"Dengar! jika aku menjadi dirimu maka aku pasti akan menghampiri pelakor itu dan menarik rambutnya sampai terlepas dari kepalanya." Ucap Sabrina dengan kekesalan yang begitu menggebu-gebu membuat Alika sedikit merinding melihat ekspresi wajah sahabatnya saat ini.


"Sabrina kau tidak akan mengerti bagaimana jadi diriku."


"Bagaimana aku mengerti jika dirimu sendiri tidak mengerti dengan dirimu Alika!" Sabrina mencengkram lengan sahabatnya membuat Alika mengaduh kesakitan.


"Maaf aku tidak bermaksud melukaimu, aku hanya kesal saja padamu." Sabrina menyimpan kedua tangannya di dada dengan wajah terlihat sangat begitu kesal.


Alika tersenyum ia merasa bahagia menatap kekesalan sahabatnya. Alika kembali kuat ia merasa dirinya tidak sendiri karena masih ada orang yang perduli dengan perasaannya.


Bahkan Alika merasa Sabrina seperti seorang saudara baginya yang berani memarahi dan menegurnya di kala ia salah, menenangkan hatinya di saat ia merasa gundah menjadi teman dan sahabat yang saling melengkapi dan saling menguatkan.


Alika selalu merasa nyaman bersama dengannya walau pun terkadang sahabatnya itu bersikap konyol dan kekanakan.


"Alika kau baik-baik saja kan? kenapa kau malah tersenyum itu sangat mengerikan." Sabrina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tidak aku tidak baik-baik saja. Aku sudah mulai tidak waras karena ulahmu, kau memarahiku seperti ibu tiri saja." Alika tertawa namun ia pun tak bisa membendung air matanya memeluk Sabrina menumpahkan segala rasa yang ada di dalam hatinya.


"Keluarkan saja jangan memendamnya begitu lama atau ibu tirimu ini akan memukulmu." Sabrina mengusap punggung sahabatnya yang mulai bergetar karena menangis.


***


Setelah beberapa menit berkendara kini Maria memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko eskrim.


Rain dan Rain sangat begitu bersemangat dan langsung berlari masuk kedalam toko tersebut. "Anak-anak jangan berlari." Maria sedikit berteriak dan berlari membuntuti kedua anak majikannya.


"Aunty aku ingin rasa strawberry dan coklat." Pinta Rain dengan raut wajah begitu menggemaskan di mata Maria.


"Aku juga!" Raina tak kalah hebohnya dari sang kakak.


"Baiklah aunty akan memenangkan keinginan kalian berdua."


"Aunty aku ingin wadah yang besar." Ucap Raina kembali.


"Adik apa kau yakin akan menghabiskannya?" Tanya Rain yang kini menatap ke arah sang adik.


"Tentu saja apa kakak mau bertaruh denganku? siapapun yang kalah akan menuruti permintaan sang pemenang." Raina mulai memberikan penawaran menarik pada kakaknya.


"Bagaimana kak, apa kau berani menerima tantangan ini?" Raina mulai tersenyum penuh arti.


"Siapa takut! aunty dua cup besar untuk kami." Pinta Rain yang menerima tantangan sang adik tanpa pikir panjang.


"Baik, silahkan kalian berdua tunggu disana duduk manis dan jangan membuat keributan okey."


"Siap aunty." Jawab Rain dan Raina secara bersamaan.


Maria pun mulai memesan permintaan kedua bocah kembar itu dengan senyuman mengembang menghiasi wajahnya. Setelah mendapatkan eskrim yang ia pesan kini ia pun kembali menghampiri Rain dan Raina.


"Ini pesanan kalian, tunggu sebentar aunty akan segera kembali." Maria kembali untuk mengambil eskrim miliknya yang tertinggal.


Setelah mendapatkan eskrim miliknya kini Maria pun segera menghampiri kedua bocah kembar itu dengan penuh semangat, hingga ia tak terlalu memperhatikan jalannya dan menabrak seseorang.


Maria melebarkan matanya tak sengaja menumpahkan eskrim miliknya mengotori pakaian orang yang ia tabrak.


"Owh astaga maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." Ucap Maria yang kini mengambil beberapa tisu untuk membersikan eskrim tersebut.

__ADS_1


Namun dengan cepat sang pemilik pakaian menepisnya dan pergi begitu saja tanpa mengatakan sesuatu apapun. "Sombong sekali, tunggu! sepertinya aku pernah melihatnya tapi diamana?" Maria berusaha untuk mengingat kembali wajah pria yang ia tabrak beberapa detik yang lalu.


Bersambung...


__ADS_2