
"Argghh... Hari ini aku sangat kesal sekali, aku yakin tensi darahku juga ikut naik karena hal ini." Ucap Sabrina meluapkan kekesalan yang ada di dalam hatinya.
Tak lama kemudian kini Maria pun datang dan duduk di sebelah Sabrina dengan wajah di tekuk. Maria tak mengatakan apapun, namun reaksi tubuhnya membuat Sabrina mengernyitkan dahinya menatap penuh tanya.
"Ada apa dengamu Maria, kau terlihat sangat kesal sekali?"
"Nona bagaimana aku tidak kesal kata-kata pria itu masih terus terngiang di telingaku." Kesal Maria.
"Pria? pria siapa yang kamu maksud?" Sabrina kembali bertanya pasalnya ia tidak pernah melihat Maria dekat dengan pria mana pun selama ini. Itu karena masa lalu Maria yang membuatnya bersikap dingin dan acuh pada makhluk berbatang panjang itu.
"Siapa lagi kalau bukan,"
Brakkk...
Suara pintu yang dibuka dan di tutup secara kasar membuat kedua gadis yang ada di dalam ruangan itu mersa terkejut dan melirik ke arah sumber suara.
"Al, kau itu kenapa?" Tanya Sabrina yang kini mulai menatap sahabatnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Haahhh... Aku sangat kesal hari ini, dia pergi tanpa berpamitan padaku, ckkk... Apa susahnya hanya berpamitan. Kau tahu Sabrina pria itu pergi keluar negri tanpa memberi tahu bahkan sebelum pergi dia tidak menemui aku terlebih dahulu, dia hanya memberikan pesan pada pengawalnya, sebenarnya istrinya itu pengawalnya atau aku. Ckkk... Ingin sekali aku mencekiknya saat ini." Ucap Alika panjang lebar menjelaskan pada kedua wanita yang ada di hadapannya.
Maria dan Sabrina menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Ckk... Kalian berdua itu kenapa?" Alika mulai mengernyitkan dahinya melihat tingkah aneh kedua sahabat baiknya.
"Seperi yang kamu lihat, kami juga sedang merasakan kekesalan sama sepertimu." Jawab Sabrina acuh sedangkan Maria hanya diam terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Hmmm... Kenapa juga tadi aku kembali untuk membawanya pergi meninggalkan tempat itu, dia bahkan tidak mengucapkan apapun padaku. Apakah kata terimakasih sangat sulit untuk di ucapkan." Gumam Maria lirih.
Begitu juga dengan Sabrina yang kini terus mengutuk David yang berbicara sembarangan pada ibunya. Yang menyebabkan sang ibu sangat marah dan merasa sangat kecewa padanya.
Kini ke tiga wanita muda itu pun mulai galau berjamaah, ketiganya pun mengangkup dan menyangga wajah mereka masing-masing.
__ADS_1
****
Satu minggu kemudian. Seperti biasanya Alika mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang desainer, sekaligus ibu bagi twins R.
Sesibuk mungkin ia tetap menyempatkan waktu untuk kedua anaknya sedangkan Edgar masih sibuk mengurus proyek barunya.
Namun meskipun begitu Edgar tak ingin jauh dari sang istri, karena hal itu ia terus menghubungi istrinya setiap lima menit. Hal itu membuat Alika merasa sangat frustrasi dan ingin sekali melemparkan ponselnya sejauh mungkin.
Seperti saat ini ponsel Alika terus berdering memperlihatkan nama tuan menyebalkan memenuhi layar benda pipih itu. Alika memutar bola matanya malas, ia sangat malas dan bosan dengan sikap posesif suaminya.
Alika mendengus kesal, dengan malas kini ia pun mulai menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan vidio dari suaminya.
"Edgar, aku ini sedang bekerja, apakah kita bisa bicara nanti saja setelah pekerjaanku selesai?"
"Kenapa? apakah kau tidak suka saat aku menghubungimu apakah kamu tidak merindukanku sayang?" Tanya Edgar penuh kecurigaan.
"Ckk... Dasar tuan menyebalkan! dia sudah tahu jika dia sangat menggangguku tapi kenapa dia terus saja menggangguku. Bahkan dia melakukan panggilan vidio setiap lima menit."
Alika tidak mempedulikan apapun yang tengah suaminya lakukan saat ini di sebrang sana, karena saat ini ia tengah pokus untuk mempersiapkan karya terbarunya untuk pentas beberapa hari yang akan datang.
"Tunggulah aku masih sangat sibuk sekali hati ini tolong mengertilah." Alika terus menguap dan terlihat begitu jelas lingkaran hitam yang kini menghiasi wajah cantiknya.
"Sayang apa semalam kau begadang lagi?" Tanya Edgar.
"Ya dan itu semua karenamu, kau yang memaksaku untuk menemanimu yang tak bisa tidur dan sekarang kepalaku terasa sangat pusing sekali." Jawab Alika asal bicara.
"Maaf sayang aku tidak bermaksud seperti itu."
"Sudahlah lupakan saja." Jawab Alika dengan nada ketusnya, bersamaan dengan pintu ruangan yang kini terbuka lebar.
Memperlihatkan seorang pria tampan dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, kini menghampiri Alika dengan senyuman yang merekah menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Hay Alika," sapa Arga yang kini berdiri di belakang kursi kerjanya.
"Hallo, maaf aku sedikit merepotkan dirimu, menurutmu bagaimana jika yang ini." Tanya Alika.
"Sepertinya yang ini lebih bagus, aku yakin produk yang kau keluarkan sangat pasti akan cepat laku di pasaran."
Kini tangan Arga pun mendekati dirinya pada kakak iparnya, ia berpura-pura tidak tahu dan tidak melihat jika sejak tadi Edgar terus memberikan beberapa peringatan untuk Arga agar bersikap sopan pada istrinya.
"Suamimu sangat begitu posesif sekali, bolehkah aku sedikit bermain-main dengannya. Bukan maksudku kurang ajar atau pun mengingatkan kita pada kisah masa lalu tapi aku hanya ingin memastikan seberapa cinta dan pengorbanan yang kakakku miliki untukmu, agar aku bisa tenang untuk melepas dan melupakanmu Al." Arga meminta izin kakak iparnya untuk menjahili sang kakak.
Alika hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan konyol adik iparnya. Karena Alika sendiri ingin melihat seberapa penting dirinya dalam hidup Edgar.
Arga menarik sempurna sudut bibirnya dan mengedipkan sebelah matanya pada Alika. Hal itu membuat Edgar sangat marah dan cemburu. Rasa takut akan kehilangan sang istri pun kini menumpuk di dalam otaknya.
"Jangan lakukan sesuatu jika tidak aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkanmu tak perduli siapa dirimu, aku tidak akan mengampunimu." Geram Edgar.
Namun Arga masih bersikap tak perduli, bahkan kini ia memutuskan sambungan vidio itu dengan sekali sentuhan saja.
"Kita beri dia waktu selama tiga jam dari sekarang, aku yakin dia pasti akan datang." Ucap Alika menyembunyikan perasaan sedihnya dihadapan sang mantan.
Arga mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu, karena ia sadar saat ini dirinya juga sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali pada Alika.
Meskipun cintanya masih sangat besar namun ia tak mungkin merebutnya kembali dari sang kakak, terlebih ada twins R yang sangat menginginkan kedua orang tuanya tetap bersama.
"Arga." Panggil Alika yang langsung menghentikan langkah kaki adik iparnya.
"Hubungan kita memang sudah berakhir, tapi bukankah kita punya hubungan yang lainnya. Kita mungkin tidak di takdirkan untuk menjadi pasangan namun aku yakin, tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukmu bahkan dia bisa lebih baik dariku." Ucap Alika membuat Arga tersenyum tipis.
"Kau tidak mengerti Alika berapa besarnya cinta dan impianku untuk hidup bersamamu." Gumam Arga membatin.
Kini Arga pun membalikan tubuhnya dan menatap mantan kekasihnya dengan penuh kerinduan. Arga tersenyum kemudian ia pun pergi meninggalkan Alika tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
__ADS_1
"Andai saja waktu bisa ulang kembali, aku sungguh tidak ingin menyakitimu Ar," Tanpa sadar kini air matanya pun mengalir begitu saja melewati pipi mulusnya
Bersambung....