
"Alika..!!" Panggil Edgar lebih keras membangunkan istrinya, namun Alika tak menunjukan reaksi apapun membuat Edgar sedikit curiga dan menepuk pipi Alika dengan lembut.
"Sayang..." Edgar menyibakkan selimut yang menutupi tubuh sang istri dan terkejut saat melihat noda darah yang terpang-pang jelas mewarnai seprei nya.
"Sayang! sayang. Bangunlah." Edgar memeluk istrinya dengan sangat erat.
Tanpa banyak kata ia pun memakaikan pakaian pada Alika dan bergegas untuk membawanya ke rumah sakit.
***
Edgar menunggu dokter yang memeriksa istrinya dengan wajah terlihat sangat begitu cemas, ia merasa sangat bersalah karena egonya membuat Alika hampir meregang nyawa.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya atau aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Edgar merenas kedua tangannya menekan rasa takut yang begitu membelenggu dalam hatinya.
"Ayah, dimana bunda? apa yang terjadi padanya apakah bunda sakit?" Raina mengajukan beberapa pertanyaan pada sang ayah.
Edgar mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri dan mengelus kepalanya dengan penuh kelembutan. "Kita do'a kan saja bunda baik-baik saja."
"pAku ingin bicara dengan." Pinta Arga yang langsung menarik baju Edgar tanpa rasa segan sedikit pun.
"Lepaskan aku!" Ketus Edgar menepis tangan sang adik dengan sedikit kasar.
"Katakan apa yang kau inginkan, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu." Ucap Edgar kembali masih dengan mimik wajah datar tanpa ekspresi.
"Sampai kapan kau akan bersikap kekanakan, cemburu tidak jelas dan. Apa yang kau lakukan padanya hingga dia harus di lakukan ke rumah sakit, katakan!!" Teriak Arga yang kini mendorong tubuh Edgar menekannya ke dinding.
"Aku..."
"Kau bodoh Edgar! cemburuan sangat tidak masuk akal kau bahkan hampir membunuhnya, suami macam apa kamu. Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan padanya, jika hal buruk terjadi padanya maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu." Tegas Arga penuh emosi.
"Apakah kau masih mencintainya?" Tanga Edgar membuat Arga melepaskan cengkraman nya.
__ADS_1
"Ya, aku masih sangat mencintainya, tapi. Lupakan tentang hal itu, aku hanya membuatmu merasa cemburu agar kau segera pulang, kau bahkan tidak tahu selama beberapa hari ini dia terus termenung menunggumu."
"Omong kosong! aku bahkan melakukan panggilan vidio setiap lima menit, dia bahkan terlihat baik-baik saja."
"Bodoh! seorang wanita, seorang istri hanya ingin mendapatkan perlakuan dan kasih sayang yang nyata bukan hanya sekedar melakukan panggilan vidio saja." Arga tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak kakaknya itu.
"Dia masih mencintaimu Arga, dia bahkan masih memperlakukan mu dengan sangat manis sedangkan aku, dia bahkan tidak menginginkan anak dariku lagi." Jawab Edgar lemah.
Arga memutar bola matanya malas. "Dari mana kau tahu jika dia masih mencintaiku, dan anak bukankah kalian susah memiliki banyak anak apa yang kamu pikirkan tentang hal ini." Arga mengernyitkan dahinya menatap penuh tanya pada Edgar.
"Ini bukti jika dia memang tak mencintaiku." Edgar mengeluarkan pil kontrasepsi milik istrinya dan menunjukannya pada Arga.
Arga tersenyum miring dan merogoh sakunya. "Lalu ini milik siapa?" Arga memperlihatkan benda pipih pada Edgar yang kini terlihat sangat terkejut dan begitu kacau.
"Tidak! ini tidak mungkin." Edgar langsung berlari menghampiri ruangan istrinya dengan wajah begitu cemas penuh kekhawatiran.
"Suami pasien?" Sang dokter membuka pintu dan mencari keberadaan Edgar.
"Tuan Anggasta sebaiknya kita bicarakan hal ini di ruanganku saja." Pinta sang dokter yang kini mulai meninggalkan tempat itu.
Dengan langkah cepat Edgar pun mengikuti langkah kaki sang dokter, walaupun ia merasa sangat kesal namun ia masih bisa menahan amarahnya untuk saat ini karena sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi pada istrinya.
"Cepat katakan apa yang sudah terjadi?" Edgar menggebrak meja yang di ada di hadapanya tak ingin basa-basi membuang waktunya.
"Istrimu hampir kehilangan bayinya tapi syukulah kami masih bisa menyelamatkan nya dari, sedikit saran untuk anda sebaiknya untuk beberapa bulan kedepan anda tidak melakukan hubungan int*m terlebih dahulu, karena itu akan menimbulkan resiko keguguran terlebih saat anda melakukannya dengan sangat kasar." Ucap sang dokter panjang lebar.
Edgar menghela nafasnya perlahan ia merasa lega saat mendengar istrinya baik-baik saja.
Setelah mendengarkan penjelasan sang dokter, kini Edgar pun keluar dari ruangan itu untuk segera menemui Alika.
Dengan sangat bersemangat kini Edgar pun membuka pintu ruangan sang istri dengan senyuman yang kini menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Alika yang sedang bersama Arga dan kedua anaknya pun melirik kearah sumber suara. "Alika biarkan aku membawa anak-anak kembali ke mansion, kau beristirahatlah semoga kau cepat sembuh." Pamit Arga namun kini langkahnya kembali terhenti saat tangan Alika menggengam tangan Arga dengan sangat erat.
"Jangan pergi." Alika menggelengkan kepalanya menatap Arga penuh permohonan, ia merasa sangat ketakutan saat melihat Edgar.
"Jangan mendekat!" Pekik Alika membuat Edgar langsung menghentikan langkah kakinya.
"Arga tolong jangan tinggalkan aku." Alika menarik tangan Arga dan membawa mantan kekasihnya itu masuk ke dalam pelukannya.
"Sayang apa yang kamu lakukan. " Edgar berlari menghampiri istrinya dan menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku! jangan sakiti aku." Alika menangis meraung berusaha melepaskan pelukan suaminya.
Alika sangat merasa takut dan trauma dengan apa yang sudah di lakukan Edgar padanya, hal itu membuat Edgar semakin hancur dan menyesali semua perbuatannya pada sang istri.
"Maaf, aku sungguh minta maaf karena aku terlalu terbawa emosi, aku sungguh sangat menyesali semuanya, aku mohon jangan membenciku dan janga. menjauh dariku." Pinta Edgar yang kini semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
Edgar mulai menenangkan Alika sampai istrinya itu benar-benar merasa tenang, beribu kata maaf terus Edgar ucapkan di telinga istrinya.
Perlahan Arga pun mulai menutup pintu ruangan itu membawa Rain dan Raina pulang kembali ke mansion.
"Uncle kenapa sejak tadi uncle hanya diam saja? apakah uncle masih memikirkan bunda?" Rain mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Arga.
Arga hanya tersenyum dan mengelus rambut keponakan kecilnya dengan lembut. "Kita sudah sampai, sebaiknya kalian berdua tidur dan beristirahatlah ingat besok pagi kalian. masih harus masuk sekolah.
"Uncle besok libur saja ya, aku ingin menemani bunda di rumah sakit saja." Jawab Raina yang langsung di angguki sang kakak.
"Tidak, besok kalian masih masuk sekolah jika tidak kalian pasti akan mendapatkan hukuman dari ibu kalian." Ucap Arga dengan santainya.
"Anak-anak..." Seorang wanita muda keluar dari dalam mobilnya berlari menghampiri twis R, dengan wajah panik tak perduli dengan gaun malam yang ia kenakan saat ini. Membuat Arga menelan salivanya saat gadis itu menatap ke arahnya.
Bersambung...
__ADS_1