Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 66


__ADS_3

Alika masih duduk diam dan tak mengatakan apapun pada suaminya, ia masih merasa sangat marah dan kesal dengan sikap kasar Edgar padanya.


"Sayang apakah kamu masih marah padaku?"


"Sudah tahu masih bertanya," Jawab Alika namun ia hanya mengatakan hal itu di dalam hatinya saja, karena saat ini ia sedang mogok berbicara.


"Sayang aku sungguh minta maaf padamu." Kali ini Edgar berjongkok memegangi lutut istrinya berharap Alika akan memaafkan nya dan kembali berbicara padanya lagi.


Alika sedikit merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang di lakukan Edgar saat ini, hatinya merasa tergetar ingin segera memeluk suaminya.


Namun Alika menepis semua itu dan mengeraskan hatinya agar tidak tergoyahkan oleh rengekan suaminya, Alika ingin memberikan sedikit pelajaran pada Edgar agar berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.


Karena bertindak tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya jelas akan merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain.


"Sayang bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Tanya Edgar membuat Alika melirik kearah nya dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa kau melakukan hal ini padaku, kenapa kau mengkonsumsi pil kontrasepsi tanpa izin dariku? beruntung saja kecebongku lebih kuat dan bisa bertahan di dalam tubuhmu. Aku akan sabar menanti dia lahir kedunia ini." Edgar tersenyum mengelus perut datar istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Apa maksudmu?!" Alika langsung berdiri seketika membuat Edgar jatuh tersungkur karenanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Alika kembali dengan nafas terengah-engah seperti habis berlari maraton beberapa puluh kilometer jauhnya.


"Iya kamu sedang hamil anakku. Terima kasih sayang." Edgar memeluk istrinya dengan sangat erat dan mmelabuhkan kecupan sayangnya di kening sang istri.


"Bagaimana mungkin bisa terjadi hal seperti ini aku bahkan tidak pernah telat meminumnya." Gumam Alika yang kini memperlihatkan strip pil kontrasepsi itu dengan sangat teliti.


Kemudian Alika pun mengingat kembali saat pertama kalinya ia membeli pil tersebut. "Jika di lihat bungkusannya memang sama tapi jika di teliti pil ini terlihat berbeda dari sebelumnya. Apakah ada yang menukar pil ini? tidak! tidak mungkin karna hanya aku sendiri yang tahu tentang hal ini." Alika terus bermonolog, kini otak dan pikirannya terus di penuhi berbagai macam pertanyaan.


Alika meremas strip obat tersebut dan mulai memasukkan nya ke dalam saku. Dalam hatinya ia masih penasaran dengan obat tersebut namun ia lebih memilih diam dan tak mengatakan hal apapun yang di ketahuinya


Alika, masih tetap diam dan tidak mengatakan apapun yang bisa membuat orang lain terluka dan kecewa padanya.


***

__ADS_1


Beberapa hari kemudian. Alika duduk pokus di depan laptopnya dan berkutat dengan pekerjaannya yang sudah lama tertunda.


"Maria dimana Sabrina apakah dia cuti kembali."


"Tidak nona, tapi sepertinya nona Sabrina akan sedikit terlambat datang."


"Hmmm begitu ya," Alika mengangguk mengerti. Ia sangat yakin jika Sabrina sering terlambat karena melakukan hal yang semestinya pengantin baru lakukan.


Alika sudah mendengar jika sahabatnya menikah secara diam-diam namun sampai saat ini ia belum sempat menanyakan hal itu pada sahabatnya.


"Maria bolehkah aku minta tolong padamu?" Tanya Alika meminta persetujuan asistennya.


"Tentu saja nona." Maria mengganguk mulai mempersiapkan diri untuk tugas yang akan di berikan nona bos nya.


"Maria tolong carikan mangga muda untukku aku sangat ingin sekali memakannya saat ini juga." Pinta Alika dengan raut wajah memohon.


"Tapi nona dimana aku harus mencarinya? saat ini belum musim mangga akan sedikit sulit untuk mendapatkannya." Maria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa bingung dengan keinginan konyol Alika saat ini.


Maria menghela nafasnya secara perlahan is bingung harus melangkahkan kakinya kemana saat ini, karena ia tidak yakin akan mendapatkan apa yang ia cari.


Lama Maria berpikir hingga pada akhirnya suara bariton seseorang kini mengejutkannya dan menyadarkan Maria dari lamunan panjangnya.


"Bisakah kau tidak mngejutkanku?!" Kesal Maria menatap tak suka pada pria tampan yang berdiri di hadapannya.


"Kenapa kau menyalahkanku, salahmu sendiri kenapa kau diam dan berdiri menghalangi jalan, masih beruntung aku tidak mendorongmu tadi." Arga tak kalah ketusnya dari Maria.


"Aishhh... Kau selalu saja membuat darahku naik, lebih baik ikut aku." Maria menarik paksa tangan Arga untuk meninggalkan tempat itu.


"Hey lepaskan aku gadis aneh!"


"Terserah kau saja mau memanggilku apa aku tidak perduli. Sekarang ikut aku dan tanpa protes atau aku akan berteriak jika kau sudah menghamiliku dan meninggalkan ku begitu saja dengan wanita lain." Ancam Maria.


"Dasar wanita licik, kau bahkan lebih licik dari seekor ular. "

__ADS_1


"Ya jika aku ular maka aku akan mematukmu seperti ini, sssshhhh....." Maria memperagakan tangan yang menari seperti ular.


Arga mulai merinding melihat tingkah konyol gadis yang ada di sampingnya kini. Sedangkan Maria tak perduli dan mulai melajukan mobilnya melesat meninggalkan halaman kantor Alika.


Sudah beberapa jam berlalu Maria dan Arga mengelola seluruh kota. Maria terus urung-uringan tidak jelas membuat Arga merasa heran melihatnya.


Namun pria itu merasa gengsi untuk bertanya dan memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu.


Brakk...


Maria menutup pintu mobilnya dengan sangat kasar membuat Arga merasa sangat terkejut karena ulah bar-barnya.


"Astaga! apaka kau tidaj bisa bersikap lembut dan anggun?" Teriak Arga meluapkan kekesalannya dengan menekan dadanya yang masih bedegup kencang karena terkejut.


Namun Maria tak perduli dengan teriakan Arga dan masuk ke sebuah supermarket, namun tak lama kemudian ia pun kembali dengan wajah di tekuk. Begitulah yang Maria lakukan selama beberapa jam ini.


"Sebenarnya apa yang sedang kau cari? dan kenapa kau mengajakku?" Tanya Arga yang kini berdiri bersandar di samping spion mobil Maria.


"Sstt... Sudah ku katakan jangan banyak protes." Tegas Maria kembali mengingatkan pria yang kini berdiri di dahapannya.


"Katakan padaku jika tidak aku tidak akan mengikuti mu lagi. Buang-buang waktu saja." Ketus Arga yang kini bersedekap dada menatap tajam ke arah Maria.


"Kalau begitu silahkan minggir dari mobilku." Jawab Maria membuat Arga tercengang.


Maria tak mempedulikan ancaman Arga karena ada yang lebih penting lagi dari pada harus meladeninya. Maria masih mendengarkan seseorang yang berbicara padanya lewat sambungan telwpon.


Kini ia pun mengganguk mengerti dan langsung masuk ke dalam mobilnya bersiap untuk segera pergi ke tempat yang sudah ia targetkan. "Aku harus segera sampai disana sebelum matahari tenggelam." Maria melihat pada jam yang ada di pergelangan tangannya dan melajukan mobilnya kembali.


Namun kini Maria menginjak pesal rem secara mendadak karena ulah pria tampan yang ada di hadapannya.


"Hahh... Ada apa lagi dengan pria ini?" Maria mendengus kesal dan kembali membuka seatbelt nya lalu berjalan menghampiri Arga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2