
"Edgar kamu sudah pulang?" Tanya Alika kepada suaminya yang baru saja memunculkan dirinya. Alika berjalan menuruni tangga menghampiri suaminya.
"Iya sayang,"
"Kenapa dengan dia? Kenapa kamu membopongnya apakah dia sakit atau dia terluka karena berkelahi?" Tanya alika kembali saat melihat adik iparnya begitu lemah tak berdaya.
"Sepertinya dia sedang patah hati sayang karena itulah dia minum terlalu banyak hingga dia mabuk seperti ini." Jawab Edgar tanpa menghentikan langkah kakinya dan menidurkan tubuh sang adik di kamarnya.
"Begitu ya," Alika menatap nanar mantan kekasihnya yang kini sudah menjadi adik iparnya tengah terbaring lemah tak berdaya.
"Aku akan mengganti pakaiannya terlebih dahulu kau keluarlah setelah ini baru aku akan menemuimu."
"Hmm… Baiklah, tunggu aku akan menyiapkan air hangat kau bisa membersihkan tubuhnya agar tidak lengket sebelum kau mengganti pakaiannya." Alika sedikit berlari keluar dari kamar Arga.
Edgar berteriak memanggil istrinya agar tidak berjalan terburu-buru karena itu akan sangat berbahaya. "Sayang ingatlah kau tidak sendiri masih ada kehidupan lain yang sedang tumbuh di rahim mu."
"Iya aku mengerti tuan posesif." Jawab Alika membuat Edgar menghela nafasnya secara perlahan.
"Dia sangat ceroboh dan selalu saja membuatku khawatir." Gumam Edgar lirih.
Kini ia pun duduk dipinggir ranjang adiknya menunggu istrinya datang. Beberapa menit menunggu kini Alika pun membawakan air hangat dan memberikannya pada Edgar setelah itu kini ia pun kembali keluar menunggu Edgar selesai mengurus adiknya.
"Selama ini aku tidak pernah melihatnya melakukan hal seperti itu, bahkan ini yang pertama kalinya aku melihat dia melakukan hal tersebut. Arga apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu? Apa ada hal yang mengusik pikiranmu hingga kau memilih hal ini agar kau bisa melupakan apa yang sedang terjadi padamu."
Alika terus bergumam bermonolog dengan dirinya sendiri hingga ia pun tak sadar jika Edgar sudah berdiri dan memanggilnya sejak tadi.
"Sayang apa yang sedang kamu pikirkan sejak tadi aku memanggilmu tapi S
__ADS_1
Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu." Edgar menaikan sebelah alisnya menatap penuh selidik pada istrinya.
"Ehhh itu, aku, aku tidak sedang memikirkan apapun aku hanya menunggumu disini dan bagaimana dengan keadaan Arga saat ini?"
"Kenapa kau menanyakan nya?" Edgar menarik pinggang istrinya dan mengusap perut buncit Alika lalu memberikan ciuman yang begitu menuntut pada sang istri.
"Edgar hentikan! apa yang kamu lakukan aku tidak bisa bernafas karenamu, ishhh kau sangat menyebalkan sekali." Keluh Alika sedikit mendorong tubuh suaminya.
Edgar terkekeh geli melihat ekspresi wajah istrinya kini tangannya pun meraih bibir manis yang sudah menjadi candu baginya.
"Sayang sudah kukatakan berulang kali jika aku menciummu maka bernafaslah itu dan tidak akan membuatmu kehabisan nafas seperti ini."
"Dasar suami durjana! sekarang kau malah tertawa mengejekku seperti itu, hahhh... aku mulai kesal sekarang." Alika menghentakkan kakinya lalu pergi begitu saja meninggalkan Edgar.
Namun dengan cepat Edgar meraih tangan istrinya dan mengelus rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. "Jangan marah, kau terlihat jelek saat marah begini. Aku tidak suka saat istriku ini mengkhawatirkan pria lain selain aku, aku suamimu dan aku cemburu dan aku tidak pernah terima jika istriku yang cantik ini mengkhawatirkan pria lain, meskipun dia adalah adikku sendiri."
"Sayang apakah kamu sedang menggodaku? lihat Aku datang aku segera memakanmu sekarang juga. Sayang tunggu aku!" Edgar terkikik geli dan berlari mengejar istrinya.
***
Di rumah sakit. Sabrina sedang duduk merenung sambil menunggu Maria mengurus surat-surat kepulangannya.
Sejak semalam Sabrina menunggu kedatangan David kembali namun yang di tunggu tidak kunjung datang menemuinya kembali, ada perasaan cemas di hati Sabrina bahkan ia juga merasa takut jika David benar-benar akan menceraikannya.
"Apakah dia tidak bisa merasakan bahwa aku juga mencintainya, apakah pengakuan itu penting? tidak bisakah dia berpikir lebih jernih daripada harus mengatakan kata perpisahan padaku. Aku pikir cintanya tidak selemah ini, tapi ternyata aku salah dia bahkan tidak bisa mendengarkan apa yang akan aku katakan padanya sebelum memutuskan sesuatu."
"Nona ayo kita pulang sekarang nona Alika jiga sudah menunggu anda di rumah, nona apakah anda baik-baik saja? haruskah saya panggilkan dokter?" Tanya Maria saat melihat Sabrina hanya melamun dan tak menggubris ucapannya.
__ADS_1
"Nona Sabrina?" Panggil Maria kembali membuat Sabrina sedikit terkejut karenanya.
"Ehhh.. Maria ternyata kamu sudah datang ya. Maaf tadi aku sedikit melamun, bagaimana apa semuanya sudah selesai?"
"Sudah nona, ayo aku bantu anda berjalan."
"Tidak terima kasih, aku bisa berjalan dengan baik kau sudah menolongku aku sangat berhutang budi padamu." Sabrina merasa tidak enak hati selalu merepotkan Maria.
"Anda tidak perlu sungkan nona, bukankah anda sendiri yang mengatakan jika anggap saja kita saudara, jadi inilah yang dilakukan saudara pada saudaranya bukan begitu nona?" Maria tersenyum tulus pada Sabrina yang kini juga tersenyum ke arahnya.
"Hmmm... Kalau begitu bagaimana jika kau menjadi saudariku saja, aku punya kakak laki-laki dia tampan pintar seorang dokter aku rasa masa depannya cukup baik. Bagaimana Maria?"
"Hahh..." Maria sedikit terkejut dengan permintaan konyol Sabrina kini ia pun mulai merasa canggung karenanya.
"Ayo jawab Maria?" Sabrina menunggu jawaban Maria dengan penuh harap.
"Maaf nona saya harap anda tidak tersinggung dengan jawaban saya, tapi bagi saya cinta tidak diukur karena ketampanan atau uang. Jika memang sudah takdir, tuhan pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untuk kita dan yang bisa menerima kita apa adanya, Nona Saya pernah berada di posisi dimana Saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa calon suami saya pergi meninggalkan saya demi wanita lain, karena menganggap saya memiliki kelainan padahal saya sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi mulai saat itu saya memutuskan untuk menutup hati saya agar saya tidak terluka oleh cinta lagi."
"Maria tidak semua lelaki itu sama, aku yakin pasti ada seorang pria seperti idamanmu yang akan datang menjemputmu dan mencintaimu setulus hatinya tanpa melihat bagaimana dirimu dan keadaanmu. Maafkan aku jika aku selalu menyinggung perasaanmu Maria.'' Sabrina memeluk Maria dengan sangat erat untuk menguatkan gadis itu.
Maria hanya tersenyum membalas pelukan Sabrina. Namun entah mengapa kini hatinya mulai bergetar memikirkan seseorang yang sudah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Bahkan ia merasa sedikit kehilangan saat tidak melihatnya.
"Tidak ini bukan cinta karena bagiku cinta itu tidak nyata bahkan aku sudah berjanji untuk menutup hatiku bagi semua pria. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa mengendalikan hatiku atau tidak."
Maria mulai dirundung dilema yang mendera tiba-tiba di dalam hatinya namun Ia pun tetap dengan pendiriannya untuk tidak membuka hatinya untuk siapapun, karena ia tidak ingin terluka karena cinta seperti beberapa tahun silam.
Rasa sakit terusir dari rumah karena dicap sebagai wanita pembawa sial perempuan bernasib buruk dan membuatnya terlunta lunta, hingga nasib akhirnya mempertemukan ia dengan sosok Alika yang juga memiliki masalah yang sama namun dengan konflik yang berbeda.
__ADS_1
Bersambung...