Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 53


__ADS_3

Tak sampai sepuluh menit, kini Edgar sudah sampai di sebuah rumah sakit di pusat kota yang memang tidak terlalu jauh dari kantor istrinya.


Edgar berjalan terburu-buru hingga melupakan kedua anaknya yang masih tertinggal di dalam mobil.


"Kak, sebenarnya ada apa dengan ayah kita?" Tanya Raina pada sang kakak.


"Entahlah aku juga tidak tahu."


"Kak bagaimana ini pintunya terkunci." Raina mulai panik saat pintunya tak bisa terbuka.


"Benarkah!" Rain langsung berdiri dan mencoba untuk membuka pintu mobil.


Rain bernafas lega saat pintunya bisa terbuka. " Adik apa kau ingin membuat kakakmu mati sebelum merasakan bagaimana orang dewasa?!" Rain melirik tajam ke arah adiknya.


Sedangkan Raina hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya pada sang kakak. "Hehe... Mungkin ini karena aku belum makan siang kak." Kekeh Raina yang kini mengikuti langkah kaki sang kakak.


"Nona, tuan kecil apa kalian baik-baik saja." David berlari dengan nafas terengah-engah menghampiri anak kembar majikannya.


"Pertanyaan apa itu sangat konyol! kami di tinggalkan di mobil dengan keadaan kelaparan apa uncle tahu itu. Untung saja kami adalah anak kuat jika tidak mungkin saja kami sudah duduk lemah tak berdaya." Ucap Raina berceloteh dengan tangan berkacak pinggang, menunjukan kekesalannya saat ini.


"Baiklah jika nona dan tuan kecil merasa lapar saya akan menbawa kalian berdua untuk makan siang terlebih dahulu. Ayo." Ajak David mempersilahkan Rain dan Raina berjalan di depannya.


Terlalu sering memperlakukan orang-orang dewasa membuat David lupa bagaimana caranya memperlakukan anak kecil seperti twins R.


Rain dan Raina kini saling menatap melihat sikap David yang begitu aneh menurutnya. David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat sepasang anak kembar milik bos nya hanya diam saja.


"Apa yang salah denganku? mengepa mereka menatapku dengan tatapan sangat aneh sekali." Gumam David lirih.


"Twin... " Panggil Sabrina sedikit berlari menghampiri Rain dan Raina.


Sabrina berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Rain dan Raina. "Twins, apa kalian baik-baik saja, syukulah jika kalian baik-baik saja."


"Aunty kami belum menjawab pertanyaanmu tapi kenapa,"


"Itu tidak penting! sekarang kalian ikut aku ayo." Ajak Sabrina yang tak mempedulikan keberadaan David saat ini.


"Aunty aku sangat lapar sekali bolehkah kita makan siang terlebih dahulu." Pinta Raina dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Baiklah anak-anak kita makan siang terlebih dahulu, kalian berdua boleh memesan makanan apapun yang kalian inginkan." Ucap Sabrina yang kini menuntun kedua anak kembar itu meninggalkan David yang masih berdiri di tempatnya.


"Hey.. kalian mau kemana tunggu aku." David mulai berjalan mengikuti Sabrina dan twins R.


***


Di dalam ruangan tempat dimana Alika di rawat. Edgar terus menggengam tangan istrinya dengan sangat erat berharap jika Alika akan segera sadar setelah melewati masa kritisnya.


"Sayang buka matamu, aku tidak bisa melihat kau seperti ini." Edgar tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba menetes membasahi wajahnya.


Edgar terus menatap wajah istrinya yang masih terlihat sangat pucat walaupun sudah menghabiskan transfusi dua kantong darah kedalam tubuhnya.


"Bagaimana dengan wanita itu?"


"Dia sudah di amankan pihak berwajib tuan." Jawab Maria dengan sopan.


"Bagus! setelah itu tidak akan ada satu orang pun yang bisa membebaskannya dari penjara walau dengan kekuasaan ayahnya sekalipun." Tegas Edgar denga sorot mata penuh dendam.


Membuat Maria yang melihatnya pun langsung bergidik ngeri. "Ternyata dia lebih mengerikan dari apa yang aku dengar." Maria mengusap tangannya yang tiba-tiba terasa dingin.


Perlahan Maria pun keluar dari ruangan itu membiarkan Edgar menunggu Alika sampai ia tersadar.


"Auwhhh..." Alika meringis saat Edgar tak sengaja menyenggol luka di lehernya.


"Maafkan aku sayang, aku terlalu senang saat melihatmu sudah membuka mata, tahukah kamu sayang aku hampir mati karena hal ini. Syukulah sekarang kau sudah baik-baik saja." Ucap Edgar panjang lebar.


Namun Alika seakan tak peduli dan terus memindai mencari sesuatu. "Dimana anak-anak apa mereka baik-baik saja?" Dengan tubuh yang masih lemah Alika berusaha untuk bangun dan mencari keberadaan kedua anaknya.


"Sayang tenanglah mereka baik-baik saja, mereka ada..." Edgar terlihat kebingungan saat tidak melihat siapapun di belakangnya.


"Dimana mereka bukankah aku sudah menyuruh David untuk membawanya kemari." Edgar langsung terlihat cemas saat melihat tatapan istrinya


"Mereka pasti bersama David, tunggu aku akan menyuruhnya untuk segera datang kemari." Dengan cepat Edgar mencoba menghubungi asisten pribadinya. Namun David tak kunjung menjawab panggilan teleponnya.


Bersamaan dengan itu kini pintu ruangan pun terbuka lebar memperlihatkan dua bocah menggemaskan yang memanggil sang bunda.


"Bunda apa yang terjadi pada bunda huhu..." Rain dan Raina menangis memeluk sang bunda.

__ADS_1


"Bunda baik-baik saja saja nak, kalian berdua habis dari mana?" Tanya Alika dengan suara yang hampir tidak bisa di dengar.


Karena lukanya yang cukup dalam membuat Alika sedikit kesulitan untuk berkomunikasi.


"Bunda apa bunda terluka karena kami?" Tanya Rain dengan wajah sendunya


"Tidak sayang, ini hanya kelalaian bunda saja." Alika mengusap lembut rambut putranya dengan penuh kasih sayang.


"Anak-anak kalian berdua ikut ayah saja, biarkan bunda beristirahat.'' Edgar mulai membuka suara setelah beberapa menit terdiam dan hanya menjadi penonton.


Namun kedua anaknya sama sekali tak menghiraukan ucapan Edgar saat ini, mereka masih marah dan kesal karena sudah meninggalkan mereka berdua begitu saja.


"Anak-anak," Panggil Edgar kembali.


Namun Rain dan Raina masih tetap bungkam dan menjawab pertanyaan sang ayah, hal itu membuat tanda tanya besar bagi Alika.


Ruangan rawat itu pun mulai berubah mencekam saat tatapan Alika kini melirik tajam ke arah suaminya. Edgar menelan salivanya dengan susah payah dan melirik ke arah kedua anaknya secara bergantian.


"Damn! kenapa jadi begini, jika twins berada disini, lalu dimana David?" Gumam Edgar membatin mencari keberadaan asisten pribadinya.


Diruangan lain. David menurunkan sabrina dari gendongannya secara perlahan. Sabrina merasa sangat pusing dan lemas hingga hampir tak sadarkan diri di tempat umum.


Namun hal itu masih dapat di cegah oleh David. "Cepat panggilkan dokter sekarang juga!" Titah David pada seorang perawat yang baru saja selesai membersikan ruangan itu.


"Baik tuan,"


"Apa kau masih merasa lemas dan pusing?" Tanya David dengan wajah cemasnya.


"Ya, sedikit. Kenapa kamu sangat perduli sekali padaku?" Tanya Sabrina membuat David tak berani untuk melihat wajah gadis itu untuk saat ini.


"Kenapa kau diam? Tanya Sabrina kembali.


"Aku, aku...."


"Ckk... Dasar tidak jelas!" Sindir Sabrina dengan wajah acuhnya.


Kini bibir Sabrina pun mulai tersenyum lebar, saat melihat seorang pria muda berwajah tampan dan menawan itu masuk denga. langkah anggunnya.

__ADS_1


"Dia sangat keren sekali." Gumam Sabrina membatin.


Bersambung...


__ADS_2