
Ibu Sabrina membuka pintu kamar putrinya, karena sejak tadi Sabrina tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Sabrina...?" Ibu menggelengkan kepalanya saat melihat putrinya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sabrina, kakakmu datang apa kau tidak mau menyambutnya?" Tanya sang ibu yang langsung membuat Sabrina terbangun dari tidurnya dan segera beranjak dari ranjangnya berlari keluar rumah.
"Kakak..." Sabrina sedikit berteriak dan berlari seperti bocah berusia lima tahun. Bahkan saat ini kakinya tersandung dan hampir terjatuh, namun ia kembali menyeimbangkan tubuhnya dan tersenyum pada pria yang terlihat sangat begitu terkejut karena ulahnya.
Ibu Sabrina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang terkadang bersikap kekanakan seperti saat ini.
"Hati-hati kau sangat ceroboh sekali." Seru pria tampan yang kini merentangkan tangannya menyambut adik kesayangannya.
"Kakak akhirnya kau pulang ke rumah ini aku sangat merindukanmu." Sabrina memeluk sang kakak dengan sangat erat hingga pria muda berjas putih itu pun hampir tak bisa bernafas karena ulahnya.
"Adik apa kau akan membunuh kakakmu ini?" Ucap Dokter Vino yang tak lain adalah kakak kandung Sabrina.
"Ckkk... Aku tidak perduli, karena aku sangat kesal padamu."
Vino mengernyitkan dahinya menatap penuh tanya pada sang adik. "Apa salahku? bukankah aku sudah pulang seperti yang kamu inginkan." Vino menyentil kening adiknya dengan gemas.
Sabrina mengaduh kesakitan dan mengusap keningnya dengan bibir mengerucut. "Aishhh... Kau akan pulang saat aku menyuruhmu saja, kau sangat menyebalkan! aku ini adikmu bahkan aku harus bersikap formal padamu di luar rumah."
"Aku tidak memintamu begitu, kau sendiri yang melakukannya. Owh iya siapa pria tadi apakah dia kekasih barumu?" Tanya Vino sedikit menggoda sang adik dengan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Ckk... Jangan bahas dia, aku sedang tidak ingin membahas nya sekarang."
"Kenapa?" Vino sedikit mendekatkan wajahnya ke hadapan sang adik.
"Kenapa tidak membahas kekasihmu saja, kapan kau akan menikah kak, kau sudah terlalu lama menjomlo." Sabrina memberikan beberapa pertanyaan pada sang kakak yang kembali mendapatkan sentilan di keningnya.
"Kak apa yang kau lakukan! ibu.... lihatlah putramu sangat menyebalkan itulah alasannya sampai saat ini ibu belum memiliki menantu." Teriak Sabrina.
"Adik! jangan remehkan seorang jomblo terhormat sepertiku atau kau aka mendapatkan hukuman nya." Ucap Vino yang mulai mengejar sang adik untuk memberikan pelajaran kecil.
__ADS_1
Aksi saling kejar-kejaran pun kini terlihat sangat begitu jelas di mata seorang pria yang duduk di dalam mobil.
Sorot mata elangnya mulai memerah menahan kekesalan dalam hatinya, kini api cemburu pun mulai berkobar memenuhi pikiran David yang duduk di belakang kemudi.
"Sial kenapa pria itu juga ada disana? apakah dia kekasihnya? tidak! ini tidak boleh dibiarkan! tapi untuk apa aku perduli dengan hubungan mereka, biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka inginkan." Gumam David lirih mencengkram kemudi untuk meluapkan kemarahannya.
Niat hati ingin meminta maaf kepada Sabrina atas apa yang sudah terjadi di rumah sakit, namun kini ia menemukan gadis yang ia sukai tengah bermesraan dengan pria lain.
Rasa cinta dan sayangnya kepada Sabrina membuat ia rela melakukan apapun namun David terus mengelak jika dirinya tidak menyukai gadis itu.
Lain di mulut lain di hati kini David kembali ke apartemen nya dengan perasaan kesal dan cemburu yang masih membara. David memesan wine untuk menenangkan pikirannya yang tengah kacau balau.
Namun kini bayangan Sabrina bersama dengan pria lain itu pun terus berputar hingga tanpa sadar kini ia sudah menghabiskan tiga botol wine dan sudah sangat mabuk.
****
Keesokan harinya. David mengerjapkan matanya perlahan memijat kepalanya yang masih terasa pusing karena mabuk semalam .
Kini sudut bibirnya mengangkat dengan sempurna saat mengingat mimpi indahnya semalam. "Aku merasa mimpi itu sangat nyata." Gumam David terkekeh geli.
"Tu-tuan muda, sejak kapan anda disini?" David merasa sangat terkejut saat melihat tuan majikannya berada di apartemennyado pagi buta.
"Apa kau tidak melihat ini jam berapa?" Tanya Edgar tanpa menatap asisten pribadinya.
"Jam tujuh pagi tuan." Jawab David dengan nada lantang.
"Cihhh apa kau yakin ini jam tujuh pagi?" Edgar tersenyum sinis menatap tajam ke arah David yang terlihat sangat begitu kebingungan dengan pertanyaan nya.
"Ada apa dengan tuan muda, benarkan ini jam tujuh pagi, kenapa dia masih bertanya. Tunggu!" David melirik ke arah luar jendela yang terlihat sangat gelap.
Kini ia pun baru menyadari bahwa saat ini dirinya tidak berada di apartemen, tapi di sebuah kamar seorang wanita yang sangat begitu asing baginya.
Cat berwarna merah muda yang di padukan dengan warna putih terlihat sangat begitu peminim.
__ADS_1
"Dimana aku? apakah ini kamar nona Alika, tapi mengapa tuan muda mwmbawaku ke tempat ini." Seketika kejadian beberapa tahun silam pun kini kembali muncul di pikirannya, saat Arga yang tengah patah hati menciumnya berpikir jika saat itu dirinya adalah Alika.
David terus menggelengkan kepalanya dengan wajah sedikit tertunduk dengan wajah tertekan. Ia merasa sangat cemas jika hal yang sama akan terulang lagi.
Mengingat kini dirinya hanya berdua bersama dengan Edgar di kamar tersebut.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Edgar kembali saat tak mendapatkan jawaban apapun dari sang asisten pribadinya.
"Tidak ada tuan," David segera turun dari ranjang saat melihat tatapan mata tajam Edgar yang seakan menusuk tembus sampai ke jantungnya.
Sudah payah David menelan salivanya. Kini matanya kembali terbelalak saat melihat pantesan dirinya di cermin. Piama berwarna merah muda dengan corak bunga melekat sempurna di tubuhnya.
"Pakaian apa ini David terkejut dan jatuh di hadapan sepasang kaki putih dengan kuku bercat merah muda.
"Kenapa aku melihat semuanya sama, merah muda ada diamana-mana." Gumam David yang kini mengadahkan kepalanya menatap sang pemilik kaki jenjang tersebut.
"Kau..!"
"Ya aku kenapa? apa kau terkejut!" Ucap Sabrina dengan nada ketusnya. Ia sungguh masih merasa sangat begitu kesal pada tingkah David saat ia tengah mabuk berat.
David tak menjawab ucapan Sabrina, ia mulai mengedarkan pandangannya menatap seluruh ruangan dan melihat beberapa orang sudah memenuhi ruangan itu, termasuk pria yang menjadi rivalnya karena sudah berani mendekati gadis pujaan hatinya.
"Kenapa dia ada sidini?" Tanya David ketus menatap tak suka pada pria yang berdiri di samping Sabrina.
"Harusnya aku yang bertanya kenapa kau datang ke rumahku dan membuat keributan di tengah malam? tahukah kamu setiap penjuru wilayah ini terdapat cctv yang lebih berbahaya dari cctv yang biasa kamu lihat!" Sabrina bersedekap dada menatap tajam ke arah prianya yang tak jauh darinya.
'Memang apa yang sudah aku lakukan? aku bahkan tidak melakukan apapun." David mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang di katakan Sabrina saat ini.
"Kak, berikan ponselnya san perlihatkan apa yang sudah ia lakukan malam tadi." Pinta Sabrina yang langsung di angguki sang kakak.
Sabrina memberikan ponselnya pada David. dan memperlihatkan beberapa cuplikan vidio padanya.
Kini David pun terbelalak saat tak tahu apa yang sudah terjadi padanya malam tadi. "Ini sungguh tidak mungkin!" Gumam David lirih.
__ADS_1
Bersamabung....