Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 12


__ADS_3

Alika menelan ludahnya dengan susah payah tangan nya pun saling meremas berharap jika sang dokter mau membantunya menyembunyikan kehamilan ini dari David.


"Nona Alika tidak sedang mengandung." Ucap sang dokter membuat Alika bernafas lega, Alika merasa sangat berterima kasih bahwa masih ada orang yang berbaik hati menolong nya dan calon bayinya.


"Aku berhutang budi padamu dok." Batin Alika bergumam.


"Apa anda yakin dokter?" Tanya David dengan tatapan penuh selidik.


"Tentu saja, apakah anda ingin program hamil kami akan membantu anda nona." Tanya sang dokter pada Alika untuk mengalihkan perhatian David yang terlihat mulai mencurigainya.


"Aahhh... Program hamil ya, sepertinya aku,"


"Nona ayo kita pergi sekarang juga." David langsung memotong ucapan Alika begitu saja.


Alika hanya mengiyakan ajakan David dan menunggunya keluar terlebih dahulu.


"Dokter terima kasih kau sudah sangat membantuku suatu saat nanti aku pasti akan membalas kebaikan mu saat ini." Ucap Alika dengan sedikit terburu-buru karena David sudah menunggunya ia tidak ingin jika David merasa curiga karena hal ini.


***


David mengantarkan Alika kembali ke mansion Anggasta setelah memberikan sebuah paper bag berisi gaun sederhana untuk menghadiri acara pesta malam ini.


"Apa kau yakin ini gaun untukku?" Tanya Alika memastikan.


"Iya tuan muda sendiri yang memilihkan nya untukmu apa kau keberatan?"


"Tidak terima kasih, gaun ini juga sudah sangat bagus." Jawab Alika dengan senyuman yang di paksakan.


"Entah apa yang akan pria itu lakukan padaku, aku sangat yakin dia pasti sudah merencanakan sesuatu untukku. Aku tidak kecewa hanya karena gaun yang ia berikan bukan dari merek terkenal atau buatan desainer ternama, tapi yang sangat di sayangkan adalah cara nya untuk merendahkan ku."


"Tapi tidak masalah! aku akan menerima semua yang akan ia lakukan nya padaku anggap saja itu semua sebagai tanda terima kasih ku karena sudah menghadirkan malaikat kecil dalam hidupku." Alika terus berperang batin hingga ia tak menyadari bahwa David sudah pergi meninggalkan nya.


"Nona Alika! nona alika." Pak Min terus memanggil untuk menyadarkan Alika dari lamunan panjangnya.


"Ah... Pak Min." Alika tersadar dan mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.

__ADS_1


"Nona apa anda perlu sesuatu?" Tanya pak Min ramah.


"Tidak pak."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Pak Min undur diri meninggalkan Alika yang masih berdiri di tempatnya.


Alika menghela nafasnya perlahan memindai seluruh ruangan yang terlihat sangat mewah dan megah itu dengan perasaan kosong.


"Untuk apa tinggal di istana yang bagaikan sebuah penjara bagiku." Gumam Alika lirih.


Kini ia pun masuk ke dalam kamarnya mulai mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta malam ini bersama Edgar.


Arga menatap pintu kamar yang di tempati Alika dengan tatapan penuh kerinduan. "Alika apa kau sudah puas menyakitiku. Tahukah kamu kamu Alika aku sangat membenci mu karena sampai saat ini hatiku masih saja tertuju padamu, aku sudah mencoba untuk melupakan mu tapi aku tidak bisa."


****


Jam sudah menunjukkan angka delapan. Alika sudah selesai bersiap dengan makeup natural dan gaun yang di berikan Edgar padanya menambah aura kecantikan malam ini.


David yang bersiap membukakan pintu mobil pun merasa terpesona dengan kecantikan istri kontrak bosnya, namun dengan cepat ia membuang pikiran tersebut dan langsung membawa Alika pergi meninggalkan mansion Anggasta.


"Berhenti..!! tolong berhenti sebentar. " Ucap Alika yang langsung di turuti David.


Dengan cepat Alika turun dari mobil dan memuntahkan isi perutnya. "Hueek... Huekkk.."


"Ini ambilah." David memberikan sebotol air mineral pada Alika.


"Terima kasih." Alika pun menerima botol tersebut dan meminumnya.


"Kuat Alika kuat! kau pasti bisa melewati semua ini." Gumamnya lirih.


Alika merasa lemas karena sejak beberapa hari yang lalu ia terus mual dan muntah bahkan selera makannya pun menghilang.


"Apa sudah selesai, apa perlu aku membawamu ke klinik?" Tanya David dengan sedikit lembut karena ia merasa tak tega melihat kondisi Alika saat ini.


"Aku sudah baik-baik saja, aku hanya masuk angin mungkin akan merasa baik setelah beberapa saat."

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita kembali ke dalam mobil karena tuan muda pasti sudah menunggu kedatangan anda." Ajak David.


Alika hanya mengangguk menuruti perintah David. Setelah beberapa saat berlalu kini Alika pun sudah sampai di tempat tujuan dan mulai memindai mencari keberadaan suami kontrak nya.


"Dimana pria itu?" Guman Alika membatin.


"Nona mari ikut saya." Ajak David.


Alika berjalan mengikuti langkah besar David mencari keberadaan Edgar saat ini. Kini langkah Alika pun berhenti seketika saat melihat pria yang sudah menanam benih di dalam rahimnya sedang bercumbu mesra dengan wanita lain.


Alika membuang pandangannya ke arah lain karena tak kuasa menahan rasa sakit di dalam hatinya. Namun ia tetap berusaha untuk tidak menangis dan berusaha tegar untuk mengatasinya.


"Apa ini yang ingin kamu perlihatkan padaku asisten David?" Tanya Alika sedikit berbisik.


"Saya tidak tahu hal ini." Jawab David singkat..


"Baiklah biarkan saja mereka begitu aku akan pergi mencari makanan karena perutku sangat lapar sekali." Ucap Alika yang kini mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


Alika menghampiri tempat hidangan para tamu mengambil cake dan mulai memakannya dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.


"Edgar Anggasta kamu menang dan aku kalah. Aku terjebak dalam hubungan dan cinta palsu mu, terima kasih." Ingin sekali Alika berteriak meluapkan kekecewaan saat ini namun ia hanya bisa terdiam dan memendam semuanya dalam hati.


Alika mengusap air matanya dengan sedikit kadar dan kembali bersikap tenang seolah tak ada apapun. Tanpa ia sadari sejak tadi sepasang mata terus tertuju ke arahnya dan memperlihatkan setiap gerak-gerik Alika.


Alika yang merasa terintimidasi pun mulai melirik sekelilingnya dan mengangkat nya bahu acuh.


Alika pun terus berjalan-jalan menikmati suasana pesta malam itu, namun kini seseorang mendorongnya terjun ke dalam kolam sedalam dua meter.


Alika terus berusaha untuk meminta pertolongan tetapi semuanya seakan sia-sia hingga ia pun jatuh tenggelam ke dasar kolam.


"Jika kematian ku membuat seseorang merasa senang dan bahagia aku ikhlas. Karena aku tahu, orang tak punya sepertiku tidak akan mendapat pembelaan seperti mereka yang memiliki segalanya. Dalam hidup ini, aku hanya memiliki sebuah ketulusan dan cinta tapi semuanya akan berakhir sia-sia." Alika mulai merasa lemah dan tak berdaya perlahan pandangannya pun mengabur.


Byuurr...


Walau ia tidak bisa melihat dengan jelas tapi Alika meraskan seseorang meraih tubuh dan membawanya ke permukaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2